dh25ila's space

Sekarang Semester Genap

Ditulis dalam iseng oleh dhila pada Rabu, Januari 27, 2010

Semester genap, semester genap! Sebentar lagi penjurusan. Saya ingin coba tes minat dan bakat tapi di mana ya? Dengan tes minat dan bakat itu jadi saya tak usah susah-susah menekuni bidang yang mungkin saja saya tak ahli di situ. Semester lalu saya dapat ranking 2 di kelas, dan ranking sekolah adalaaaaaah 25! Iya tepat 25! Ah saya tak ingin beranjak. Tapi kita setiap saat harus ada perubahan. Ke arah yang positif tentunya.

Tadi saya privat. Belajarnya matematika bab logika. Kini, mata saya sudah terbuka tentang pelajaran ini, tadi pagi saat belajar di sekolah mata saya terbuka, melotot. Melotot sampai juling. Saya tak tahu apa itu tabel kebenaran, karena yang dijelaskan itu ya tidak jelas. Tidak jelas bukan karena saya miopi. Saya duduk paling depan, jadi mana mungkin tak terlihat apa yang ditulis di papan tulis. Tapi saya juga tak menderita hipermetropi. Karena saya masih muda, tak mungkin lah presbiopi. Saya masih muda. Saya masih muda. Darah muda, darahnya para remaja.

Di pertengahan bulan Februari nanti saya akan mengikuti Giants Cup, yang berarti mengharuskan saya untuk bolos selama satu minggu. Bisa dibilang liburan, liburan penuh dengan rasa cemas akan pelajaran yang tertinggal. Sejak saya menduduki bangku sekolah menengah atas, saya jadi lebih rajin belajar. Untuk apa? Mendapat nilai bagus, mendapat ranking, lalu bisa menjebol pintu universitas mana saja dengan PMDK. Tapi, jurusan apa nanti yang akan saya ambil? Teman-teman sebarisan saya sudah menentukan jurusan apa yang akan mereka kejar, sementara saya? Belum. Saya tak tahu apa bakat saya maupun minat saya. Saya berminat main dan berbakat dalam menjulingkan mata. Tapi mana mungkin  nantinya saya masuk SBM, Sekolah Bermain dan Menjuling, lalu bikin tesis berjudul “Teknik Main dengan Hati Happy” atau “Cara Menjulingkan Mata Tanpa Rasa Sakit dan Tidak Menimbulkan Cacat Permanen”.

Liburan semester ganjil kemarin saya pergi ke Bali. Untuk pertama kalinya. Yang saya sesalkan saat perjalanan liburan kemarin itu saat saya sedang membeli oleh-oleh. Saya sedang mengambil alat musik maracas dan ada satu lagi tak tahu apa namanya, serta ada barang lain juga yang saya bawa. Saya mau tunjukkan ke mama, apa boleh itu semua saya beli. Tak tahunya, bule mengira saya penjaga toko oleh-oleh itu hanya karena saya membawa banyak barang tanpa keranjang belanja dan saya adalah orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi.

Pribumi harusnya menjadi tuan di negara sendiri

Pribumi harusnya menjadi tuan di daerah sendiri

Saya bukan berasal dari Bali

Saya berasal dari Kota Bandung

Bandung yang dibendung gunung

Gunung, mengingatkan saya pada toko ransel gunung

Mengingatkan saya pada monster yeti

Yeti, hei itu nama guru bahasa Indonesia saya di sekolah dasar

Beliau mengajarkan saya berbahasa Indonesia

Beliau mengajarkan saya membuat puisi

Tapi bukan puisi yang seperti ini

Puisi yang penuh dengan keindahan

Kerinduan

Kematian

Kehidupan

Keajaiban

Ya,

Dua puluh lima adalah nomor punggung saya

Kehidupan softball saya akhir-akhir ini sedikit kurang menyenangkan. Hei, kemana teman-teman saya? Mereka hilang dengan kesibukannya itu. Ya sudahlah, saya pun tak peduli. Saya sedang semangat latihan pitching. Jadi saya bisa menguasai semua posisi softball. Saya sudah pernah jaga di outfield, second base,  catcher dan shortstop. Saya sih tak ada niat untuk bermain di posisi pitcher, hanya ingin bisa pitching saja. Karena beban jadi pitcher itu berat. Harus kuat mental dan jaga emosi. Emosi saya? Labil. Sewaktu-waktu bisa saja saya menangis dan menjerit di tengah pertandingan. Namun entahlah saya tak tahu, karena saya belum pernah bertingkah seperti itu. Paling menangis karena latian pitching itu harus jaga emosi, jadi begitu saat mengarahkan bola itu terasa begitu sulit, ya jangan langsung depresi. Tapi saya beda. Saya depresi.

Dalam waktu satu bulan, saya ganti potongan rambut saya duakali. Hal itu tercatat dalam rekor pribadi saya. Karena mana sudi MURI  menjadikannya rekor. Rektor itu yang ada di universitas ya? Yang umumnya bapak-bapak yang sudah tua? Eh apa bukan? Kalo bukan maaf ya pak. Ih Dhila nulis apaan tuh ga penting. Maklumlah, peer udah selesai, hati senang, girang gimbal.

Saya sedang meneliti waria. Saya sangat ingin tahu tentang waria. Mulai dari yang hidungnya bersilikon sampai yang kakinya berbetiskan talas berbulu. Saya turut berduka cita atas menginggalnya waria karena suntik silikon. Saya tahu berita ini dua hari kemarin, tak sengaja, saat saya mau nonton spongebob eh malah si Bobby a.k.a Barbara, bohong deng nama warianya bukan Bobby, tapi saya tak tahu namanya siapa. Namanya juga kebetulan. Bukan, kebetulan bukan nama warianya. Daripada menyebut waria, saya lebih suka menyebut banci. Kenapa? Karena lebih fancy. Menurut saya.

Saya ingin buat cerpen. Saya ingin menggambar. Saya ingin bermain gitar.

Akhir kata,

Monyet ee dipinggir kali, yu dadah yu marii.

Menjenguk Kawan yang Sakit

Ditulis dalam jalan jalan oleh dhila pada Selasa, Januari 5, 2010

Kawan-kawan, mari kita doakan kesembuhan bagi Ilman Dzikri Ihsani. Dan, voila! Sepertinya Ilman sudah segar saat kami, Luthfan Nur Dwianto, Fanny Anggita, Rasyida Noor, M. Ridha Anshari, Kenjana Maudi Aulia, Firda Fauzia Rakhman dan Rengganis Primadisa, menjenguknya kemarin. Ilman menderita penyakit Thypus Abdominalis.

Kami datang kesana membawa sekeranjang buah yang Luthfan dan saya beli di Total Buah Segar. Selain itu juga membawa manset hitam, tanpa renda. Oh iya, buah yang dibeli itu ada yang kalo dikombinasi bisa menjadi 37. Apelnya 3, salaknya 7.

Foto di bawah ini adalah foto Ilman Dzikri Ihsani, suspect Thypus Abdominalis, 15 th, yang ternyata sudah jauh lebih sehat dari yang kami sangka lagi tiduran selimutan di kamar dengan panas tinggi, muka ngosngosan. Dengan nikmat makan anggur ala raja minyak. Minyak zaitun. Minyak goreng.

Yang di bawah ini ceritanya terkulai lemas ala sinetron dalam adegan “ah dimana aku? kamu siapa?”. Kayak lagi shalat ya. Memang kami akui Ilman yang akun twitternya mink_lizard dan bernomor punggung 37 ini orangnya sangat religius. Semua tindakannya dilandasi syariah agama. Mungkin.

Sesudah ngobrol panjaaaang, ngabisin keripik, minum dan Tango, kami pun menyudahi kunjungan kami. Sepatu saya basah kehujanan, dan Luthfan sama Ibay ngasi taunya pas udah kuyup kuyup basah. Mereka juga baru sadar sih. Itu Kenna ngambil lengkeng terus dijadiin gelang. Ga deeng.

Abis dari rumah Ilman, Saya, Fanny, Firda, Ida, Kenna dan Ganis makan di Sushi Tei. Tapi ternyata rasa baby octopusnya kok sekarang jadi enak ya, kemaren-kemaren nyoba sih wueek ga enak.

***

Foto: Wooooy Luthfan ngadep mana tuh hiiii serem kamera dimana, ngadep kemana. Oh aku tau! Dia ngadep sana soalnya mau pamer jambul yang terlihat lebih indah dari samping.

Sehari Bersama Ricis

Ditulis dalam Photos, jalan jalan oleh dhila pada Rabu, Desember 30, 2009

Saya tidak dalam mood untuk menulis. Biar foto ini yang bercerita. Saya ceritanya kapan-kapan aja. Saya hanya menuliskan keterangan-keterangan fotonya saja.

Foto: Di Kolam air hangat Cipaku Indah.

Foto: Ola mengaduh sambil mengambang.

Foto: Di Waroeng Steak di Setiabudhi.

Foto: Manusia bergelimpangan di dalam kamar saya. Padahal kamar saya bukan kamar jenazah.

Foto: Ola merampas Pocky dari kehidupan saya.

Foto: Alay mode on

Foto: Di Warung Lela

Foto: Lihatlah deretan gigi Adzanti Adenan yang begitu rapi. I envy her.

Foto: Di Rumah Avi Dhayita Widyastuti, bisa dipanggil Avi, jangan dipanggil Tuti.

Before and After

Ditulis dalam Gw oleh dhila pada Kamis, Desember 24, 2009

BEFORE

AFTER

Some Photos I like

Ditulis dalam Photos oleh dhila pada Kamis, Desember 24, 2009

These photos was taken when we won “Turnamen Pelajar X ‘09″. First place, boi! We were glad that we could win it when we are in Senior High School now. We only got second place and third place when Junior High School. Yeah, we are getting better now. Good progress. Our hard work, prayer, money. Sorry, i meant our parents money that we used for paying the fee of this tournament, accommodation, our allowance to buy snacks and stuffs, have paid with victory and pride.

Everyone smiled with mouth open. Except Sis Bes. Why sis? WAAI?

This one was taken when “Rusa Hitam Slopitch 2009″ finished.