Apakah Saya Bisa Jadi Teman Yang Menyenangkan?

Ada kegelisahan yang ingin saya ceritakan padamu.

Nontonnya sambil nyalain subtitlenya, ya. Klik yang tombol CC itu.

Daya di Balik Riset Dayamaya

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Awalnya saya gak percaya, masa iya?

Sampai akhirnya, saya dan teman saya yang artsy, Icaq, alami sendiri saat perjalanan riset ke Kepulauan Kei, Kulon Progo, dan Jepara. Dalam riset yang rencananya ingin dilakukan di sebanyak-banyaknya tempat di Indonesia ini, kami ingin mencari tahu bagaimana internet biasa digunakan dan bagaimana peluang penggunaan internet untuk menggerakkan perekonomian setempat.

Eh iya, Dayamaya itu apa? Untuk sekarang, kita anggap saja itu nama dari sebuah upaya dalam membuat manusia Indonesia bisa berdaya dan berkarya di dunia maya, dimana riset yang kami jalankan ini adalah salah satunya. Fokus risetnya pada anak mudanya.

***

Riset ini dimulai dengan pertanyaan sederhana: “jika seluruh Indonesia terhubung dengan internet, apa yang akan terjadi?

Faktanya, adopsi internet kita sudah baik. Pertumbuhan jumlah penggunanya cepat. Pertanyaannya, dipakenya untuk apa? Kuantitas kalau tidak diiringi dengan kualitas, bisa gawat ujungnya.

Rata-rata pemakaian internet di Indonesia itu 9 jam. Di negara Amerika dan Cina itu 6 jam. Kalau dibandingkan perkembangan teknologinya, Indonesia sih belum semaju mereka ya, sepengamatan saya. Berarti, yang harus diteliti itu 9 jamnya di internet dipakai buat apa. Buat ngerjain kerjaan atau karena ngga ada kerjaan?

Menjadi negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia dengan durasi penggunaan internet yang lama per harinya, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi berdaya bersama-sama atau termakan tipu daya bersama-sama.

TERMAKAN TIPU DAYA BERSAMA-SAMA

Hate speech dan hoax adalah makanan bisa sewaktu-waktu yang tersaji di smartphone kita tanpa kita sadari. Ada yang langsung melahapnya, ada yang melepehnya, ada juga yang berinisiatif tinggi membagi-bagikannya ke kerabat dekat dan tidak dekat, serta grup kawan sejawat. Poin yang ketiga itu yang paling gawat.

Kalau dipikir-pikir lagi, hal itu terjadi mungkin bukan karena mereka ingin bikin ribut-ribut, tetapi bisa jadi karena mereka nggak tahu akibat dari perbuatannya atau nggak tahu kalau yang disebarin itu hoax. Makanya, harus ada yang kasih tahu.

Nah, ini kita baru ngomongin di ranah penggunaan internet yang paling dasar ya, yaitu berkomunikasi dan bertukar informasi. Kalau yang dasarnya aja belum kita kuasai betul, apakah kita bisa ngomongin penggunaan internet ke tahap yang lebih rumit seperti transaksi dan produktivitas? Supaya ga ada waktu buat terpapar atau nyebarin hoax gitu kan, huehehe.

Hmm, ya bisa-bisa aja, asal kita kenali kebutuhannya.

MENJADI BERDAYA BERSAMA-SAMA

Tak kenal, maka tak sayang.

Ketika kita memiliki misi untuk membuat seseorang menjadi berdaya dalam suatu bidang, berarti anggapannya kan seseorang itu tidak memiliki daya/tenaga dalam bidang tersebut, ya?

Tapi, apakah kamu yakin kalau orang itu tidak memiliki daya di bidang itu? Atau jangan-jangan memang dia tidak membutuhkan daya di bidang tersebut?

Pada bulan Maret kemarin, kami bertemu dengan seorang ibu petani kopi di Kulon Progo yang beberapa bulan lalu mendapatkan pelatihan internet untuk memasarkan produknya di e-commerce. “Kalau saya disuruh kerja (bertani kopi) itu saya mau kerja. Ditantang target berapa pun dalam satu hari, ayo aja. Tapi kalau ditantang buat ngotak-ngatik kayak gitu (website e-commerce, pemasaran online), saya nyerah. Hehehe,” ujar beliau pada kami. “Mending ini hapenya saya kasih kamu, terus kamu yang urus. Nanti kabarin aja saya harus siapin berapa,” tambahnya.

Rupanya, dalam kasusnya ibu tadi, beliau tidak membutuhkan pelatihan itu. Sudah ada banyak pembeli tetap yang menanti biji kopi beliau setiap bulannya. Bahkan, sering juga ada kunjungan mahasiswa dan wisatawan baik yang lokal maupun luar negeri untuk belajar tentang kopi di tempat beliau.

Nah, akan beda ceritanya kan kalau kita mau mengenal beliau lebih dari sekadar sebuah data dalam kategori “UMKM belum online”? Hanya dengan melihat data dan angka lalu langsung mengambil keputusan yang dipukul rata tanpa tahu cerita di baliknya itu ga ada bedanya dengan main tebak-tebakan.

Jika kita emang bikin kehidupan seseorang berubah menjadi lebih baik, ya kita harus tahu dulu kan, definisi “kehidupan yang lebih baik” yang ada di pikiran dia itu sama ngga dengan apa yang ada di pikiran kita.

Kebaikan itu ada karena sebuah kebutuhan. Kalau hal yang kita lakukan nyatanya gak dibutuhkan, berarti apa yang kita lakukan tergolong dalam kegiatan “cari perhatian”! Hahahaha.

Tak kenal, maka cari yang kenal.

Saat ingin meneliti dengan cakupan yang lebih besar, tentu saja semakin banyak pula aspek yang harus diteliti. Sementara, waktu dalam 1 hari ya segitu-gitu aja, 24 jam. Bagaimana agar dapat bergerak lebih cepat namun tetap dapat mengenali target riset kami secara tepat?

Apalagi, saya tergolong orang yang jarang pergi-pergi ke luar kota yang jauh-jauh. Paling Jakarta, Bandung, Cimahi. Bekasi dan Purwakarta masukin juga kali ya, kan selalu dilewatin kalau lagi ke Jakarta hehe. Ketemunya cuma sama yang ngomong “saya mah..”, “gue sih…” dan “aku tu…” Belum pernah yang “Beta…” dan “Sa…”

Makanya, akhir Desember lalu, kami memantapkan diri ingin memulai riset dari Indonesia bagian timur.

Terus, tapi kok… Bingung ya, harus dari mana. Susah kalau ke kota yang kami ngga kenal siapa-siapa. Mana harus PDKT dulu kan tuh. Masa baru kenal terus nanya, “eh kamu kalau internetan biasanya ngapain?” Kemungkinan besar orang yang kita tanyain bakalan jawab sekenanya dan formal-formal sesuai norma yang berlaku kalau ada kakak-kakak mahasiswa sebar kuesioner di kelas. Seperti, “Oke, kalau kujawab nanti dapet Beng-beng nggak kak?”

Beda halnya kalau udah ada yang kenal dengan target riset kami. Yang kami mau, suasananya risetnya tuh kayak main ke rumah temen. Bisa haha hihi dan minim basa basi.

Lalu, di tengah kebingungan dan di kala hampir memutuskan timurnya itu ke Jawa Timur aja, muncullah keajaiban.

Singkat cerita, ada Mas Aris yang mau menemani kami selama riset 11 hari dan mempertemukan kami dengan macam-macam manusia di… Kei, Kabupaten Maluku Tenggara! Wuhu, Indonesia timur! Lalu, ada Kaju, manusia asli Bulukumba (btw, ini instagramnya Explore Bulukumba itu bikinan Kaju loh!), Sulawesi Selatan, yang bersedia terbang dari Jayapura, Papua dan cuti dari kantornya untuk ikut dalam riset kami di Kei. Mereka berdua sangat berpengaruh dalam keberjalanan riset awal kami di Indonesia bagian timur.

Kemudian, Maret lalu, kami mulai melakukan riset di Indonesia bagian barat, tepatnya di Kulon Progo dan Jepara. Lagi-lagi, ada manusia baik yang mau menemani dan membantu riset kami selama di sana. Mereka adalah Mas Deli, Mba Mauren, dan Mas Deta, tiga manusia yang sepertinya sudah digariskan Tuhan untuk aktif berkomunitas dan menjelajah Indonesia. Mas Deli asli Sleman, Jogja. Mba Mauren dan Mas Deta, adalah sepasang suami istri yang berdomisili di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Mereka yang membantu kami selama riset ini, kayaknya emang hobi membantu orang. Iya, hobi. Saya nggak ngerti lagi, mimpi apa bisa kenal dengan orang-orang seperti mereka. Mereka yang tak cuma bicara tentang bagaimana idealnya bangsa Indonesia, tetapi juga membuat aksi nyata di daerahnya.

***

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Kayaknya, saya harus percaya.

Karena, hanya dengan kehadiran orang-orang baik yang kami temuilah, Dayamaya ada. Jadi, kita ke 34 provinsi?

Dunia Maya, Kamu, dan Dirimu yang Lainnya

Aku, kamu, dia yang berkebun di atas gunung, dan mereka yang memancing ikan di laut punya kesempatan yang sama untuk menunjukkan diri pada siapapun, di bagian bumi manapun, saat kita punya akses pada dunia maya. Semua bisa dapat panggung, bahkan kucing sekalipun.

Di dunia maya, kamu bisa menjadi kamu. Atau juga bukan kamu. Gak ada yang benar-benar tahu siapa dirimu sebenarnya kecuali dari jejak yang kamu tinggalkan di sana. Kamu adalah perkataanmu dan semua konten postinganmu. Kamu didefinisikan dari bagaimana caramu bertukar informasi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya di bumi.

Saya dapat dilihat menjadi orang yang sangat menyenangkan di dunia maya, walau saat kita bertemu, rupanya saya adalah bukan orang yang demikian. Orang tidak lihat bagaimana ekspresi muka saya, apakah tulus, sinis, ataukah sinis-sinis tapi manis. Semua diwakilkan dari apa yang mereka lihat di layar mereka saja. Semua tergantung dari apa yang saya sajikan hingga menggiring orang pada sebuah kesimpulan.

Benarkah demikian? Oke, mari kita bicara dari platform yang paling tinggi adopsinya di dunia maya, yaitu media sosial. Ada yang menggunakannya sebagai sarana mengekspresikan diri, melepaskan emosi, berbagi pandangan dan pengalaman, ngasih kode sama sang pujaan, atau ada juga yang seperti saya bikin lagu dan tarian tentang ikan. Gimana preferensi masing-masing. Kita tentu bisa ngepost sesuai perasaan hati, namun kita tidak dapat mengendalikan bagaimana akhirnya orang lain akan menanggapi.

Misalnya nih, saya kan rajin ngepost instastory (btw, faktanya, penduduk Indonesia adalah penggunanya yang paling aktif dan menyumbang konten paling banyak di sana loh). Menurut teman-teman yang mengikuti instastory saya, saya adalah kakak yang sangat sayang sama adiknya.

Tapi, saat kita bahas pandangan teman yang mengenal saya di Twitter, bisa beda lagi kesimpulannya. Saya bisa dilihat sebagai orang yang gemar membaca karena banyak dari tweet saya adalah kutipan dan pembahasan buku favorit saya. Wow, sebegitu mudahnya orang lain mendapat kesan yang berbeda tentang kita. Beda medsos, bisa beda juga kesan orang tentang kepribadian kita! 

Makanya, kalau kamu ngeceng seseorang dan kenalnya dari medsos, coba pastiin lagi. Kamu udah follow semua medsosnya dia belum? Paling penting, kalau di IG, kamu berhasil masuk daftar close friends-nya dia ngga? Waspadalah, waspadalah. Mungkin, dia bukanlah dia yang kamu kira.

Selanjutnya, mari bicara tentang medium paling sederhana untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang (atau segelintir orang) yang kamu tuju, yaitu aplikasi messaging, seperti WhatsApp, LINE, dan FB Messenger. Dalam menggunakan aplikasi komunikasi berbasis teks tersebut, pemilihan tanda baca, emoji, dan stiker dalam chat-mu besar andilnya dalam membantu orang lain mendapatkan gambaran dari ekspresi dan nada bicaramu. 

Sebagai contohnya, ini bagaimana saya mentranslasi bahasa dari chat yang saya terima:

  • Iya, gak apa-apa” → to the point
  • Iya, gak apa-apa.” → to the point, tegas (soalnya ada titiknya) 
  • Ya, gpp” → antara lagi buru-buru atau saya orang yang ngga penting buat dia
  • Iyaa, gapapaa” → ramah, santai
  • Iya…ga apa-apa…” → tertekan atau speechless sampai gak tau mau komen apa atau pasrah
  • Iya, ga papa ☺️” → hmm, bisa jadi dia baper atau malah kamu yang jadi baper
  • Iya, saya tidak apa-apa, namun ada baiknya jika kamu mempertimbangkan alternatif pilihan lainnya. Saya cuma mau memastikan memang itu yang terbaik untukmu”→ nah, ini adalah pedang bermata dua. Bisa jadi dia adalah orang yang sangat bijak atau bisa jadi ngomong dengan nada mengancam dan mata membelalak. Kalau kamu adalah tipe orang yang insecure, ada baiknya langsung kamu ajak dia video call atau temui dengan segera untuk memastikan apakah maksud yang sebenarnya

Eh, perlu diingat, yang di atas itu adalah menurut saya aja, loh. Mungkin saya tipe orang yang perasaannya terlalu dipake daripada logika. Bagaimana orang lain dan kamu mengartikannya tentu berbeda-beda. Beda kepala, beda budaya, beda kebiasaan, beda juga penarikan kesimpulannya. Sebagai contohnya, liat bagan yang kutemukan dari artikel di Harvard Business Review tentang perbedaan cara bernegosiasi di berbagai negara ini:

Selain itu, kalau berbicara tentang komunikasi, ada juga yang disebut budaya low context dan budaya high context. Budaya low context itu yang lebih terang-terangan, langsung pada inti pembicaraan dan esensinya. Dalam budaya high context, cara penyampaian pesan itu jadi salah satu yang harus dipertimbangkan. Jadinya bisa muter-muter dulu ngomongnya, ngga langsung ke sasaran. 

Menariknya, di Indonesia ini kita gak bisa langsung generalisasi kalau masyarakat kita itu lebih high context atau low context. Untuk kota yang berdekatan kayak Bandung dan Jakarta aja udah beda banget norma dalam cara komunikasinya. Eh ga usah jauh-jauh deh, antara Jakarta Selatan aja jelas bedanya dengan yang di Jakarta Utara, katanya orang-orang. Intinya, kamu harus peka dengan lawan bicaramu. Menyampaikan pesan secara padat dan jelas adalah sebuah keharusan di dunia yang pertukaran informasinya sangat cepat dan melimpah ini. Tetapi, bagaimana kamu menuliskan pesan itu juga bisa jadi sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Hal ini krusial, apalagi jika kamu bertukar pesan dengan orang yang belum pernah kamu temui. Tapi, kalau kamu sudah kenal dengan orangnya, mungkin jadinya lebih bisa kamu pahami atau (terpaksa) maklumi. Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut tentang perbedaan budaya dan cara berkomunikasinya, nih kusaranin baca buku ini:

Selain itu, kalau lagi ngomongin tentang komunikasi, sepertinya harus bahas juga tentang situasi saat percakapan itu terjadi. Kalau di dunia nyata, dengan mudah kita dapat memosisikan diri terhadap tindakan yang dilakukan karena kita dapat membaca langsung keadaan di sekeliling kita. 

Misalnya, kamu lagi rapat kantor. Terus, ada yang berdebat hebat saat diskusi. Dengan membaca situasi, seperti memerhatikan raut wajah masing-masing anggota rapat, kamu dapat beradaptasi dan menentukan langkah selanjutnya yang kamu mau ambil, apakah lebih tepat untuk menengahi atau menanggapi. 

Nah, kalau situasi debat itu terjadi di dalam grup WhatsApp gimana? Lagi bahas sebuah keputusan dan di grup ramai saling bersahutan. Gimana caranya tahu mana yang nadanya meninggi dan siapa yang tersakiti? Seberapa peduli kamu untuk mengatur tata bahasa dan penyampaianmu saat hanya ada layar tak bernyawa di hadapanmu? 

Zaman sekarang kayanya banyak perang saudara terjadi gara-gara forwarded message berbau politik di grup keluarga kan ya tuh? “Lupa dengan hubungan kekerabatan, entah dia paman ataupun keponakan, kalau dia tak sependapat denganku, peduli setan, pendapatku harus kuperjuangkan!” 

Dalam sekali klik ‘enter’, pikirkan bahwa yang kamu pertanggungjawabkan tidak hanya pesan, tetapi juga perasaan. Ibarat ngirim paket lewat kurir, pastikan apa yang kamu kirim, yaitu pesanmu, itu sudah benar isinya sebelum dibungkus. Lalu, pastikan pengemasan paketmu—pemilihan kata, penggunaan tanda baca, dan emoji (kalau perlu)—telah dilakukan dengan baik sehingga paketmu sampai sesuai dengan keadaan semula. Itu semua dilakukan supaya tidak ada yang kurang, cacat, ataupun tercecer saat proses pengiriman—atau dalam artian, tidak ada kemungkinan buat pesanmu mendapat mispersepsi atau sulit dimengerti.

Kalau kita ngomongin tentang dunia maya dan bagaimana kita memosisikan diri di dalamnya, sebenernya mirip juga dengan dunia nyata sih. Bedanya, kamu gak berada di tempat yang sama dengan para manusia yang menjadi lawan interaksimu. Keberadaanmu diwakilkan oleh kontenmu.

Di dunia maya, 
kamu bisa menjadi kamu.
Atau juga bukan kamu.
Itu pilihanmu
dan tergantung pada
sebaik apa kamu
mengemas kontenmu.

***

Eh, eh, eh, eh! Saya dan temanku sedang mengerjakan proyek yang tidak rahasia nih, berhubungan dengan bagaimana membantu lebih banyak anak muda untuk dapat berdaya dengan dunia maya. Kita lagi bikin kitab yang fungsinya sebagai panduan pola pikir dan pengenalan budaya di dunia maya. 

Saat ini, kami sedang menyiapkan topik-topik pembahasannya, salah satunya seperti yang kamu baca barusan. Kalau kamu terpikir ada topik penting yang kamu rasa semua anak muda harus tau agar dapat menjadi netizen yang budiman, tolong sampaikan pada kami ya! Bisa lewat komen di bawah ini, atau ngobrol via dm di Instagram @dh25ila dan @icaqq

***

Dalam menyelesaikan tulisan ini, saya mau berterima kasih kepada:

  •  @icaqq dan @intaniaal yang telah memberikan masukan di tengah-tengah sesi update kehidupan kita sambil makan malam yang menghangatkan hati
  • @tjuandha atas masukannya yang sangat objektif dan memberikan pandangan baru bagi saya dalam menyempurnakan argumen dalam tulisan ini
  • Kamu yang bersedia membaca tulisan ini hingga akhir kalimat ini

Jangan (Ragu) Ikut Campur Urusan Orang!

Begitu sedang ada kumpul keluarga atau reunian, saya biasanya jadi orang yang paling pendiam. Kenapa? Supaya gak ditanya-tanya. Bukannya apa-apa, tapi pertanyaannya itu kadang susah-susah, mengharuskan saya nerawang masa depan, kayak “Sekarang lagi sibuk apa? Rencananya nanti mau gimana?” Duh, saya kan ga mau mendahului takdir. Musyrik! Haha, lebay, ya. Gak deng, saya cuma gak mau dibebani ekspektasi orang aja sebenernya.

Continue reading “Jangan (Ragu) Ikut Campur Urusan Orang!”

Tentang Nya’ah

Saya gak pernah kepikiran bakalan punya kedai. Tetapi Papa saya iya. Bahkan, dia sudah pernah punya beberapa tahun silam, namanya Kedai Kopi Mata Angin. Katanya, “nanti suatu saat Dhila yang pimpin, ya”. Namun, kedainya tutup saat baristanya dibajak kedai kopi tetangga. Saya kurang tahu cerita lengkapnya, Papa nggak pernah cerita.

Saat duduk di kelas 10 SMA dulu, saya bercita-cita jadi arsitek. Atau desainer grafis. Tapi kata Papa, “Dhila sih mana suka. Nanti gak bebas, diatur-atur klien. Mending jadi pengusaha.” Dalam kariernya, selain pernah buka kedai di samping pekerjaan utamanya di sebuah perusahaan minyak luar negeri, ia pernah mencoba usaha pertanian organik. Namun, kala itu orang-orang belum ngerti kerennya organik. Belum masanya. Jadinya, tidak berakhir ciamik.

Saya pun akhirnya mengambil kuliah manajemen di tempat yang Papa saya sarankan. Ambil konsentrasi di bidang Marketing. Keren aja gitu bisa bikin orang yang awalnya gak kepikiran mau beli jadi beli. Begitu lulus dan kerja di KIBAR, pekerjaan utamanya saya adalah menulis—meramu cerita, bikin orang jadi percaya. Saking senangnya menulis, rasanya saya mau jadi penulis aja selamanya. Saat Papa telfon dan mengingatkan saya untuk sambil mulai bikin bisnis, saya jawab, iya, nanti saja, kalau ada waktunya.

Awal tahun ini, saya kembali ke Bandung. Saya pikir, saya akan lebih berguna di sini untuk adik saya. Dia itu spesial, dengan autisme-nya. Setelah sibuk dengan kehidupan saya sendiri selama kuliah dan lanjut bekerja di Jakarta, sekarang saya mau jadi sosok manusia paling istimewa di kehidupan adik saya.

Lalu, mau kerja apa di Bandung? Entah, tak punya rencana. Saat bertanya pada Papa, ujarnya “mau ngapain pun, Papa dukung. Kuliah lagi, boleh. Kerja juga boleh. Mau bikin usaha? Papa siapin modalnya.”

Singkat cerita, selama beberapa bulan ini saya sibuk dengan beberapa hal. Ada proyek sama tim Marketing di almamater saya, jadi contact representative dari seorang creative advisor, dan sampai hampir mulai kuliah S2. Iya, hampir mulai kuliah, soalnya udah keterima, tinggal masuk kelas aja. Nah loh. Membingungkan ya? Maunya Dhila apa sih?

Tenang-tenang, kamu jangan marah dan sampai mau bakar-bakar, ya, apalagi bakar rokok. Jadi gini ceritanya. Saya tuh kepikiran pengen jadi dosen, makanya mau lanjut kuliah, sambil nanti ngerjain proyek-proyek kreatif lepasan gitu (makanya saya jadi contact representative, biar ngerti adab ngerjain proyek yeayey). Tetapi, rencana itu sepertinya mengalami perubahan dari zat tak kasat mata.

Suatu hari, pak satpam di almamater saya ngasih info kalau dia lihat teman seangkatan saya, Abdi namanya, lagi interview buat jadi dosen. Penasaran, akhirnya saya ajak teman saya itu ketemu karena ingin tau motifnya untuk terjun ke dunia akademisi. Dia itu satu SMA dengan saya dan rupanya juga satu klub taekwondo (saya cuma sabuk putih aja sih. Begitu disuruh sparring sama yang sabuk merah dan babak belur, saya langsung udahan hahaha), tapi baru kenal pas udah kuliah. Itu juga gak begitu dekat karena beda teman sepermainan. Saya ajak dia lari pagi (iya, ini teman lari pagi yang saya ceritain di postingan ini). Tiba-tiba, di penghujung obrolan, dia ngajakin bikin bisnis bareng di daerah Cisitu. Unik sekali bagaimana dunia ini berjalan. Saya dipertemukan dengan kesempatan yang sama kali tidak saya ekspektasikan!

20180518_161216

Saya pun akhirnya mulai cari tahu tentang keadaan lokasi bisnisnya ini. Fakta menariknya, sebagian besar penduduk di Cisitu itu didominasi oleh mahasiswa rantau. Rata-rata kuliahnya di ITB. Dengan banyaknya penduduk pintar yang ada di sini, seharusnya daerahnya makmur ngga sih? Tapi, rupanya nggak demikian. Ada yang kekurangan tetap kekurangan. Banyak juga yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Kesenjangan itu ada. Para pendatang sudah sibuk dengan kesibukan akademiknya hingga sulit ada waktu berkontribusi pada lingkungan mereka tinggal. Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung itu mungkin jadi tak berlaku rasanya jika ada tumpukan tugas yang tak berujung. Atau mungkin ada juga yang ingin berkontribusi tapi gak tahu harus mulai dari mana karena nggak kenal siapa-siapa.

Berangkat dari fakta itu, setelah membandingkan berbagai rencana bisnis yang Abdi ajak saya untuk rintis bersama, kita pun sepakat untuk mulai dari bikin kedai terlebih dahulu. Budaya makan bareng itu dianggap sebagai ritual harian yang paling tokcer untuk saling membangun koneksi. Makanya, kita jadi pengen bikin kedai untuk menunjang kegiatan tukar pikiran antara mahasiswa. Lebih jauhnya lagi, kita mau bikin kedai ini jadi jembatan antara mahasiswa dan warga lokal.

Dengan asal jurusan dan daerah yang beragam, para mahasiswa rantau pasti punya perspektif yang bermacam-macam. Seru kalau mereka bisa saling diskusi. Kalau bisa sampai dibikin forum antara mahasiswa dan warga Cisitu, wih ujungnya bisa jadi aksi buat bikin inovasi tepat guna harusnya!

Terinspirasi dari salah satu falsafah Sunda “silih asih, silih asah, silih asuh”, kami namai kedainya: Nya’ah. Itu adalah kata Bahasa Sunda yang artinya adalah sayang. Aih. Uhuy. Menurut kami, rasa sayang itu yang bikin orang mau tergerak melakukan kebaikan-kebaikan bagi orang lain. Untuk rasa sayang itu dapat tumbuh, yang pertama harus dilakukan adalah? Kenalan! Tak kenal maka tak sayang kan. Harapannya, di Nya’ah ini banyak perkenalan yang berujung pada rasa sayang-sayangan, hingga akhirnya saling mau bantu satu sama lain.

Oh iya, untuk mewujudkan ide kedai ini, ada juga dua teman lain yang Abdi ajak untuk bergabung. Pertama, ada Emen sang Penyihir, salah satu pemilik Hellikopi. Semua yang kena sentuhan tangan Emen tuh pasti jadi menakjubkan, mulai dari bikin desain dan konstruksi bangunan kedainya, sampai meracik makanan dan minuman. Berpengalaman bisnis macam-macam juga, kecuali bisnis tuyul.

20180526_151452

20180629_093225
Lalu, ada Aul sang Pemecut. Sangat rapi, terorganisasi, teliti, dan mengayomi. Sangat melengkapi tiga orang lainnya yang pembawaannya kayak santai-santai anak pantai, deh, pokoknya.

20180913_193809

Karena merintis bisnis itu banyak PR-nya, kalau ditambah dengan kuliah yang sama banyak PR-nya, nanti hidup saya isinya cuma to-do list yang gak diceklis-ceklis. Harus bikin prioritas.

Untuk bikin prioritas, saya baca tanda-tanda dari semesta. Dari wangsit yang saya dapat, saya berkeyakinan untuk menunda dulu rencana kuliahnya. Pada tahun ini, sudah terlalu banyak tanda dari semesta bagi saya agar mulai membalas rasa nya’ah dari papa saya yang telah banyak berkorban untuk membiayai mimpi-mimpi saya dengan mewujudkan salah satu harapannya pada saya: punya kedai.

Selamat ulang tahun ke-57, Papa.

***

Nya’ah
Jl. Cisitu Lama No.54 A, Dago, Coblong, Jawa Barat
Peta: https://goo.gl/maps/mBzr4pn6in72
Instagram: @nya_ah