Duapuluh Satu

Duapuluh satu, twenty one, 21, tempat yang saya kira khusus orang-orang berumur 21 tahun ke atas untuk sama-sama menonton film yang ada bunuh-bunuhan orangnya mati beneran (iya, kalau nonton film ada orangnya mati tuh sedih banget, mikir kenapa dia mau berkorban sampai mati gitu demi seni pertunjukan) dan orang ciuman itu cuma diedit padahal mulutnya nggak nempel (soalnya kalau asal nyium orang itu gaboleh, dosa). Tapi saya percaya kalau di Petualangan Sherina yang saya tonton di bioskop, waktu adegan cium kening Sadam oleh Sherina sebelum kabur itu beneran bibirnya nempel deh!

Ehem, waktunya serius. Saya mau bercerita panjang nih. Tentang apa? Saya nggak mau bilang, soalnya saya juga gak tahu ujung postingan ini akan di mana.

Continue reading “Duapuluh Satu”

Hello, My Name is Dhila

This is for the “Me” Campaign, an individual marketing project.

Lebih Baik Tidak Dibaca, Ini Sumpah Serapah

Menuliskan emosi di tempat yang bisa dilihat semua orang itu memang bahaya. Sangat sangat bahaya sampai-sampai bisa membuat kamu akan malu sendiri dengan apa yang telah kamu tuliskan saat kamu sedang kesal. Karena malu telah menuliskan hal-hal yang buruk di masa lalu, di masa saat kamu sedang kesal, sampai-sampai membuat kamu kesal sendiri. Menyesal kenapa menuliskannya pada waktu itu.

Sekarang, saya ingin menulis hal yang akan membuat diri saya di masa yang akan datang agar malu terhadap diri saya sendiri pada saat saya menulis ini.

Saya sedang kesal. Sampai-sampai saya merobek gambar yang baru saya gambar untuk melampiaskan kekesalan saya. Rupanya, merobek gambar itu lebih baik daripada membuat sebuah gambar saat sedang kesal. Gambar saya buruk sekali. Enyah saja sana.

Saya sedang kesal. Saya pasti menyesal mengapa tidak memakai waktu saya untuk belajar statistika saja daripada menulis keluh kesah kekesalan saya ini. Sebenarnya bisa saja, tapi tidak mau. Saya ingin mengingatkan diri saya yang ada di masa depan nanti agar tidak berlaku seperti apa yang saya lakukan saat ini. Menulis catatan kekesalan yang bisa dibaca semua orang.

Saya sedang kesal. Sampai-sampai teman pun saya acuhkan. Apa yang akan kamu lakukan saat kamu di posisi mereka, Dhila? Jangan lagi anggap saya jadi teman. Mana enak sudah menyapa, lalu hanya dibalas kata “ya” disertai tatapan dingin, atau lebih parah lagi, tidak menatap sama sekali dan pergi berlalu. Buat apa bertegur sapa lagi dengan orang seperti itu? Tidak lagi-lagi.

Merenung. Ingin bilang kesal, tapi tidak tahu mau pada siapa. Kesal itu memalukan. Apalagi kalau tidak jelas alasannya. Apalagi jika kamu tahu alasannya tapi tak bisa mengutarakannya. Bisa-bisa jadi gila. Tapi Senin ujian Statistika. Tidak boleh jadi gila.

Saya bisa jadi kesal saat saya melihat seseorang bersumpah serapah di jejaring sosial. Apalagi kalau masalahnya itu bukan masalah yang seharusnya diketahui banyak orang dan bukan untuk hal yang penting untuk dikonsumsi orang lain. Apa pentingnya buat saya kalau saya tahu kamu lagi kesal? Kesal itu bisa menular. Bisa saja saya enyahkan kamu dari linimasa jejaring sosial saya. Semudah itu untuk tidak mencampuri masalah orang lain bukan? Jangan sampai terkontaminasi, itu saja. 

Lalu, mengapa saya bersikeras menulis tulisan ini saat saya sendiri pun kesal jika melihat orang lain menumpahkan emosinya di muka umum? Dasar manusia. Bisanya menyalahkan orang lain. Saya ingin menyalahkan diri saya sendiri saja kalau begitu. Saat saya membaca tulisan ini di masa depan.

Saya harus berhenti menulis tulisan ini sekarang. Saya masih mau hidup panjang.

 

Kampoeng Bola: Sedikit Cuplikan Hari Pertama

IMG_5176Sekilas info: Kampoeng Bola adalah sebuah turnamen futsal tahunan antarhimpunan yang diselenggarakan oleh KMSBM. Pada tahun ini, Kampoeng Bola digelar pada tanggal 12—14 April 2013, mulai dari jam 08.00—22.00, di GOR Pajajaran, Bandung. Datang dan saksikan!IMG_0560

IMG_0498 IMG_0566 IMG_0645 IMG_0652 IMG_0679 IMG_0712 IMG_0701 IMG_0694 IMG_0664 IMG_0681

Kemungkinan Malam Ini

Kemungkinan Malam Ini

Foto ini diambil pada malam ini saat saya, mama, dan Faiz sedang mengunjungi kafe di bilangan jalan Riau yang bernama Fabrik, sehabis beli jaket parka yang telah diidamkan sejak lama dan ternyata ada di Widely Project.

Tumben sekali malam-malam jalan-jalan bersama, pada hari biasa pula. Ini semua berkat keinginan Dhila yang harus diwujudkan pada hari itu juga, dengan dalih, “nggak ada waktu lagi, bentar lagi Dhila sibuk banget”. Tapi, ya, emang sibuk sih. Dhila sangat menghindari perbuatan berbohong. Walaupun begitu, Dhila suka melebih-lebihkan kata-katanya agar dapat memengaruhi lawan bicaranya. Kalau Dhila jadi pengemis, mungkin Dhila sudah jadi pengemis terkaya di seluruh dunia. Mungkin keinginan Dhila dituruti oleh Mama karena mama memang ibu yang sangat sayang anaknya. Anaknya baik, jadi diturutin. Mungkin juga keinginan Dhila ini dapat terwujud lebih cepat berkat katalis yang berupa shalat duha tadi pagi.

Ya, dunia ini penuh dengan kemungkinan, bukan?

Mungkin saja esok pagi saya sudah berubah jadi laki-laki. Yang ini sepertinya kecil kemungkinannya sih. Level of confidence-nya 2,5% deh (istilah nge-hits kalau kamu kuliah statistika).