Tentang Menjadi Dewasa (Bagian 1): Berkelana dan Berbaur dengan Semesta

Kadang, kalau melewati momen tertentu, ada rasa-rasa harus melakukan sesuatu dengan cara yang baru. Yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau yang lebih baik dari biasanya. Seperti, menantang diri untuk lebih dewasa.

Jadi, sebelum tulisan ini dibuat, sebenarnya saya sedang menulis tentang definisi menjadi dewasa. Namun, kok susah menulisnya. Sepertinya, pengalaman saya harus diperkaya.

Bulan ini, saya berulang tahun ke-25. Kala itu, saya berada di Jakarta dalam rangka berkarya. Lalu, saat hendak beli tiket kereta untuk pulang ke Bandung, saya merenung. Seketika, saya beli tiket pesawat ke Yogyakarta. Yang paling murah tentunya, Air Asia. Buat balik ke Jakartanya, saya mau naik dari Kulon Progo karena penasaran dengan bandara barunya, Yogyakarta International Airport. Semua keputusan yang tiba-tiba ini diinspirasi dari kata teman-teman yang bilang bahwa berkelana jauh sendirian dapat mendewasakan seseorang. 

Mungkin ada dari kamu yang menganggap spontanitas adalah kegegabahan karena tidak merencanakan sesuatu secara matang sebelum menentukan pilihan. Namun, saya melihat spontanitas bisa melatih saya lebih siap di segala keadaan agar dapat membuat strategi dan menemukan solusi dari segala kesulitan. Ini bisa dibilang ngeles, tapi kamu pasti merasa yang saya bilang ada benarnya kan?

Setelah teman dan keluarga saya kaget dengan rencana perjalanan saya, saya pun langsung susun jadwal kegiatan dan pertemuan selama di Yogyakarta dan Kulon Progo untuk meyakinkan mereka bahwa saya (sepertinya) tahu benar apa yang akan saya lakukan. Iya, keyakinan itu harus dirasionalisasikan, gak bisa cuma modal perasaan. Supaya gak terjerumus ke hal-hal yang ga diinginkan. Walau hal-hal yang gak diinginkan terkadang mengasyikkan, tapi ya, riskan.

Kalau berkelana Yogyakarta, saya yakin di sana akan aman-aman saja selain karena sudah beberapa kali ke sana, juga karena sebagian besar daerahnya terjangkau sinyal dan transportasi umum + abang ojek online. Yang bikin degdegan ini Kulon Progo. 

Saya baru pernah sekali ke Kulon Progo pada bulan Maret lalu. Selama 3 hari, saya dan beberapa teman di sana untuk sebuah perencanaan kegiatan pemberdayaan anak muda. Berdasarkan pengalaman itu, saya tahu daerah kotanya aman untuk transportasi on-demandnya. Namun, daerah-daerah yang saya mau kunjungi nanti itu sekitar perbukitan dan juga pantai selatan yang keberadaan sinyalnya patut dipertanyakan. Takutnya bisa pergi tapi gak bisa pulang hahaha.

Untungnya, saya dipertemukan Tuhan dengan manusia-manusia yang penuh dengan kebaikan dan sepertinya gak tegaan melihat saya yang kebingungan. Mereka adalah Putri dan Pak Win, manusia yang baru kukenal Maret lalu dalam beberapa jam pertemuan. 

Putri adalah pegawai dari perusahaan yang berkolaborasi dengan saya dan Icaq untuk kegiatan pemberdayaan anak muda di Kulon Progo. Putri yang baik hati mengajakku untuk menginap di rumahnya, sahur bersama keluarganya, hingga keliling kota bersama teman-temannya. 

Nah, Pak Win adalah Direktur Perusahaan Umum Daerah Kulon Progo yang sebelumnya adalah Kepala Desa Banjaroya, daerah yang terkenal dengan durian menoreh, waduk mini di atas gunung, dan Goa Maria Sendangsono. Beliau tahu betul semua sejarah Kulon Progo. Dan, beliau juga tahu betul saya datang dengan plonga plongo. Beruntung sekali saya, kemarin beliau meluangkan waktu untuk mengajak saya berkeliling dan menjelaskan berbagai macam hal yang saya pertanyakan, termasuk tentang anatomi atap joglo!

Nah, sebenarnya, banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan selama perjalanan ini yang membuat saya lebih paham apa yang dilakukan untuk mendewasakan diri. Namun, tak semua bisa saya ceritakan di sini secara tertulis karena bersifat pribadi dan mungkin kamu pun tak akan paham kecuali mengalaminya sendiri.

Maka dari itu, saya ceritakan secara visual saja untuk diri saya di masa depan agar memori ini tak terlupakan karena dalam sebuah visual terdapat sejuta makna yang mungkin tak dapat diungkapkan kata-kata. Untukmu, cerita visual ini kupersembahkan supaya terpancing untuk berkeliling juga ke penjuru Indonesia. Entah itu dalam rangka liburan atau pun mencari arti kehidupan~

N.B. Iya, tulisan tentang menjadi dewasa ini akan ada part 2-nya. Masih dalam proses penulisan karena masih banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang butuh jawaban. Sedang saya cari juga jawabannya ke manusia-manusia yang berpengalaman dalam menjalani kehidupan.

Daya di Balik Riset Dayamaya

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Awalnya saya gak percaya, masa iya?

Sampai akhirnya, saya dan teman saya yang artsy, Icaq, alami sendiri saat perjalanan riset ke Kepulauan Kei, Kulon Progo, dan Jepara. Dalam riset yang rencananya ingin dilakukan di sebanyak-banyaknya tempat di Indonesia ini, kami ingin mencari tahu bagaimana internet biasa digunakan dan bagaimana peluang penggunaan internet untuk menggerakkan perekonomian setempat.

Eh iya, Dayamaya itu apa? Untuk sekarang, kita anggap saja itu nama dari sebuah upaya dalam membuat manusia Indonesia bisa berdaya dan berkarya di dunia maya, dimana riset yang kami jalankan ini adalah salah satunya. Fokus risetnya pada anak mudanya.

***

Riset ini dimulai dengan pertanyaan sederhana: “jika seluruh Indonesia terhubung dengan internet, apa yang akan terjadi?

Faktanya, adopsi internet kita sudah baik. Pertumbuhan jumlah penggunanya cepat. Pertanyaannya, dipakenya untuk apa? Kuantitas kalau tidak diiringi dengan kualitas, bisa gawat ujungnya.

Rata-rata pemakaian internet di Indonesia itu 9 jam. Di negara Amerika dan Cina itu 6 jam. Kalau dibandingkan perkembangan teknologinya, Indonesia sih belum semaju mereka ya, sepengamatan saya. Berarti, yang harus diteliti itu 9 jamnya di internet dipakai buat apa. Buat ngerjain kerjaan atau karena ngga ada kerjaan?

Menjadi negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia dengan durasi penggunaan internet yang lama per harinya, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi berdaya bersama-sama atau termakan tipu daya bersama-sama.

TERMAKAN TIPU DAYA BERSAMA-SAMA

Hate speech dan hoax adalah makanan bisa sewaktu-waktu yang tersaji di smartphone kita tanpa kita sadari. Ada yang langsung melahapnya, ada yang melepehnya, ada juga yang berinisiatif tinggi membagi-bagikannya ke kerabat dekat dan tidak dekat, serta grup kawan sejawat. Poin yang ketiga itu yang paling gawat.

Kalau dipikir-pikir lagi, hal itu terjadi mungkin bukan karena mereka ingin bikin ribut-ribut, tetapi bisa jadi karena mereka nggak tahu akibat dari perbuatannya atau nggak tahu kalau yang disebarin itu hoax. Makanya, harus ada yang kasih tahu.

Nah, ini kita baru ngomongin di ranah penggunaan internet yang paling dasar ya, yaitu berkomunikasi dan bertukar informasi. Kalau yang dasarnya aja belum kita kuasai betul, apakah kita bisa ngomongin penggunaan internet ke tahap yang lebih rumit seperti transaksi dan produktivitas? Supaya ga ada waktu buat terpapar atau nyebarin hoax gitu kan, huehehe.

Hmm, ya bisa-bisa aja, asal kita kenali kebutuhannya.

MENJADI BERDAYA BERSAMA-SAMA

Tak kenal, maka tak sayang.

Ketika kita memiliki misi untuk membuat seseorang menjadi berdaya dalam suatu bidang, berarti anggapannya kan seseorang itu tidak memiliki daya/tenaga dalam bidang tersebut, ya?

Tapi, apakah kamu yakin kalau orang itu tidak memiliki daya di bidang itu? Atau jangan-jangan memang dia tidak membutuhkan daya di bidang tersebut?

Pada bulan Maret kemarin, kami bertemu dengan seorang ibu petani kopi di Kulon Progo yang beberapa bulan lalu mendapatkan pelatihan internet untuk memasarkan produknya di e-commerce. “Kalau saya disuruh kerja (bertani kopi) itu saya mau kerja. Ditantang target berapa pun dalam satu hari, ayo aja. Tapi kalau ditantang buat ngotak-ngatik kayak gitu (website e-commerce, pemasaran online), saya nyerah. Hehehe,” ujar beliau pada kami. “Mending ini hapenya saya kasih kamu, terus kamu yang urus. Nanti kabarin aja saya harus siapin berapa,” tambahnya.

Rupanya, dalam kasusnya ibu tadi, beliau tidak membutuhkan pelatihan itu. Sudah ada banyak pembeli tetap yang menanti biji kopi beliau setiap bulannya. Bahkan, sering juga ada kunjungan mahasiswa dan wisatawan baik yang lokal maupun luar negeri untuk belajar tentang kopi di tempat beliau.

Nah, akan beda ceritanya kan kalau kita mau mengenal beliau lebih dari sekadar sebuah data dalam kategori “UMKM belum online”? Hanya dengan melihat data dan angka lalu langsung mengambil keputusan yang dipukul rata tanpa tahu cerita di baliknya itu ga ada bedanya dengan main tebak-tebakan.

Jika kita emang bikin kehidupan seseorang berubah menjadi lebih baik, ya kita harus tahu dulu kan, definisi “kehidupan yang lebih baik” yang ada di pikiran dia itu sama ngga dengan apa yang ada di pikiran kita.

Kebaikan itu ada karena sebuah kebutuhan. Kalau hal yang kita lakukan nyatanya gak dibutuhkan, berarti apa yang kita lakukan tergolong dalam kegiatan “cari perhatian”! Hahahaha.

Tak kenal, maka cari yang kenal.

Saat ingin meneliti dengan cakupan yang lebih besar, tentu saja semakin banyak pula aspek yang harus diteliti. Sementara, waktu dalam 1 hari ya segitu-gitu aja, 24 jam. Bagaimana agar dapat bergerak lebih cepat namun tetap dapat mengenali target riset kami secara tepat?

Apalagi, saya tergolong orang yang jarang pergi-pergi ke luar kota yang jauh-jauh. Paling Jakarta, Bandung, Cimahi. Bekasi dan Purwakarta masukin juga kali ya, kan selalu dilewatin kalau lagi ke Jakarta hehe. Ketemunya cuma sama yang ngomong “saya mah..”, “gue sih…” dan “aku tu…” Belum pernah yang “Beta…” dan “Sa…”

Makanya, akhir Desember lalu, kami memantapkan diri ingin memulai riset dari Indonesia bagian timur.

Terus, tapi kok… Bingung ya, harus dari mana. Susah kalau ke kota yang kami ngga kenal siapa-siapa. Mana harus PDKT dulu kan tuh. Masa baru kenal terus nanya, “eh kamu kalau internetan biasanya ngapain?” Kemungkinan besar orang yang kita tanyain bakalan jawab sekenanya dan formal-formal sesuai norma yang berlaku kalau ada kakak-kakak mahasiswa sebar kuesioner di kelas. Seperti, “Oke, kalau kujawab nanti dapet Beng-beng nggak kak?”

Beda halnya kalau udah ada yang kenal dengan target riset kami. Yang kami mau, suasananya risetnya tuh kayak main ke rumah temen. Bisa haha hihi dan minim basa basi.

Lalu, di tengah kebingungan dan di kala hampir memutuskan timurnya itu ke Jawa Timur aja, muncullah keajaiban.

Singkat cerita, ada Mas Aris yang mau menemani kami selama riset 11 hari dan mempertemukan kami dengan macam-macam manusia di… Kei, Kabupaten Maluku Tenggara! Wuhu, Indonesia timur! Lalu, ada Kaju, manusia asli Bulukumba (btw, ini instagramnya Explore Bulukumba itu bikinan Kaju loh!), Sulawesi Selatan, yang bersedia terbang dari Jayapura, Papua dan cuti dari kantornya untuk ikut dalam riset kami di Kei. Mereka berdua sangat berpengaruh dalam keberjalanan riset awal kami di Indonesia bagian timur.

Kemudian, Maret lalu, kami mulai melakukan riset di Indonesia bagian barat, tepatnya di Kulon Progo dan Jepara. Lagi-lagi, ada manusia baik yang mau menemani dan membantu riset kami selama di sana. Mereka adalah Mas Deli, Mba Mauren, dan Mas Deta, tiga manusia yang sepertinya sudah digariskan Tuhan untuk aktif berkomunitas dan menjelajah Indonesia. Mas Deli asli Sleman, Jogja. Mba Mauren dan Mas Deta, adalah sepasang suami istri yang berdomisili di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Mereka yang membantu kami selama riset ini, kayaknya emang hobi membantu orang. Iya, hobi. Saya nggak ngerti lagi, mimpi apa bisa kenal dengan orang-orang seperti mereka. Mereka yang tak cuma bicara tentang bagaimana idealnya bangsa Indonesia, tetapi juga membuat aksi nyata di daerahnya.

***

Kalau niatnya baik, nanti ketemunya dengan orang baik lagi,” kata seorang mentor saya yang gak mau terkenal. Kayaknya, saya harus percaya.

Karena, hanya dengan kehadiran orang-orang baik yang kami temuilah, Dayamaya ada. Jadi, kita ke 34 provinsi?

Pagi dan Konsekuensi

Terbangun. Kurasa-rasa, dingin dari jempol kaki hingga ke ubun-ubun. Kuingat-ingat, laki-laki, perempuan, perempuan, perempuan, perempuan, dan lalu aku, di ujung ruangan. Oh, kusedang menginap bersama teman.

Continue reading “Pagi dan Konsekuensi”

Menginjak Tanah Lain

Assalamualaikum.

Saya ingin melaporkan bahwa saya baru saja berada di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Belum pernah saya apa-apain. Emang saya suka ngapa-ngapain ya? Gitu deh. Saya sekarang sudah mendapatkan beberapa cap di bagian halaman visa paspor saya. Paspor saya, loh, bukan paspor yang nebeng sama orang tua. Dengan demikian, saya resmi telah memegang pegangan pintu di tiga negara. Indonesia, SIngapura, dan akhirnya, Malaysia. Inilah perjalanan di negeri lain yang saya bisa ingat benar-benar, mengingat memori saya di masa TK yang masih bisa saya putar ulang di ingatan secara jelas itu saat saya dijambak teman saya waktu TK, saat saya memakai topi Tersayang yang sedang booming pada zaman itu, saat mainan lego masak-masakan saya dipinjam teman padahal saya tidak rela, saat saya membangkang tidak mau memerankan ibu petani dan lebih memilih menjadi polisi bersama teman-teman laki-laki, dan saat saya meminum kuah sayur bayam yang rasanya sangat berkesan hingga sekarang, dan lain-lainnya hanya samar-samar.

Mungkin tidak bisa selamanya saya ingat, sih. Mungkin saja saat saya sudah lulus kuliah nanti, atau dua puluh tahun setelah liburan ini, saya yang di masa depan sudah hanya menyisakan ingatan yang samar-samar tentang apa yang saya alami di liburan kali ini. Maka dari itu, post ini sebagai pengingat untuk saya yang di masa depan. Sebenarnya sih, semua post yang saya tulis pun untuk mengingatkan pada diri saya yang di masa depan tentang asam manis kehidupan yang saya alami saat ini. Agar semua yang saya alami ini akan tetap mempunyai arti.

Liburan ke Malaysia ini akomodasinya hampir fully-supported oleh Uwa Winny dan Uwa Amin. Ajakan untuk berlibur ini tiba sebelum saya menjalani UTS kalau tidak salah. Kalau tidak salah, berarti benar. Nah, kalo belanja, itu gimana sejago-jagonya saya untuk melobi mama. Biasanya, mama lebih mudah diajakin beli makanan daripada barang. Itu agak masalah, soalnya saya suka makan, lebih tepatnya, lapar mata. Makanan yang dibeli harus habis. Kalau gak bisa ngabisin, berarti Faiz harus diikutsertakan dalam setiap perjalanan yang ada bagian makan-memakannya soalnya dialah tempat semua makanan yang tak habis bermuara.

Awalnya saya agak ragu untuk ikut atau tidak. Takutnya masih kuliah. Saya teringat suatu hal saat saya berada dalam dilema terdalam tentang liburan ini. Di dunia ini ada yang namanya Kalender Jadwal Kurikulum Semester. Semua jadwal perkuliahan ITB secara general tertera di sana. Langsung saya cari deh kalendernya. Ngomong-ngomong, kalendernya udah kerobek Faiz. Dia sotoy-sotoy gitu mau nempel kalendernya di kamar. Kan awalnya kalendernya digulung, pake kertas dan selotip gitu. Pas kertasnya mau dirobek, kalendernya ikutan kerobek. Sumpah ini kalender tingkat inisiatifnya tinggi amat. Robek sebelum waktunya. Terus saya marahin Faiz. Tapi ga tega udahnya. Abis Faiz baik banget sih.

Intinya, dari kalender tersebut saya tahu bahwa di waktu keberangkatan yang ditentukan bertepatan dengan liburan! Yey.

Pada hari-H, kami berangkat ke Jakarta menggunakan travel Cipaganti. Travel ini ada aksesorisnya, yaitu stop kontak. Saya sebut aksesoris karena ya cuma aksesoris, ga ada fungsi lain buat menyalurkan listrik. Saya gak bisa nge-charge iPhone saya. Daripada diem aja, ga bisa ngecharge iPhone, saya ngecharge badan aja. Saya tidur. Nggak pake selimut, soalnya gak pake bantal. Gak nyambung, soalnya gak ada kabel.

Sesampainya saya di bandara, saya turun dari travel dan menghirup nafas panjang. Liburan ini akan saya mulai. Berbeda dengan mama, turun travel, hal yang pertama beliau lakukan adalah…update status. Udah gitu salah lagi statusnya. Kan mama check-in gitu pake Facebook. Rencananya check-in di Bakmi GM, Bandara Soekarno-Hatta. Eh, malah pilih yang typo. Soekarna-Hatta. Mana keupdate-nya ga cuma di FB, langsung otomatis ke BBM juga. Kalau aku jadi mama, aku langsung mengkonfirmasi ke khalayak kalau BB aku dibajak Faiz. Atau BB-nya kan dimasukin ke saku celana jeans di bagian pantat pas lagi duduk kepencet, kebuka aplikasi Facebook, ke-scroll terus kepencet check-in. Atau pas lagi pipis di toilet bandara, BB-nya kecemplung dan tau-tau ngeupdate status sendiri. Nothing is impossible, right?

Senengnya ke Bandara Soetta itu, ada Beard Papa’s (di terminal tertentu). Sebagai penggila kue sus sejak TK karena kue ini suka ada di acara ulang tahun teman-teman, saya merasa adanya Beard Papa’s ini adalah revolusi di dunia kue sus. Kuenya hangat, lalu disuntikkan fla dingin rasa vanilla. WOW. Hidung saya terbelalak dan mata saya kembang kempis. Makan kue sus-nya Beard Papa’s itu salah satu momen life-changing bagi saya. Haha gak deng. Pokoknya, momen berharga deh. Walaupun tak semahal momen makan Pop Mie sambil duduk di dalam pesawat terbang. Mahal beli tiket pesawatnya.

Hari itu, aku memakai pakaian dengan gaya yang paling keren menurutku (pakai “aku” aja, ya, biar unyu). Aku memakai swater biru tua dengan motif-motif hati yang kecil berwarna pink. Tolong jangan bayangkan sweaterku itu sama dengan boxer putih bermotif love-love warna merah yang biasa ada di film-film, ya, aku mohon. Aku mohon dengan sangat (hm, kalimat ini kayak di film apa ya…lupa). Lalu, aku menggunakan celana panjang chino yang kubeli di temanku. Temanku ini mempunyai usaha konveksi jeans, namanya Trios Jeans. Harganya terbilang murah loh, sewaktu aku pesan, harganya 130ribu. Temanku bilang, itu harga persahabatan. Awalnya, aku sempat berpikir, semurah itukah harga jalinan persahabatan antara aku dan dia? Persahabatan yang diselingi suka dan duka? Persahabatan yang dirintis sejak dahulu kala?! Gak deng. Untuk alas kaki, aku menggunakan sepatu adidas warna ungu andalanku. Sepatu yang menemaniku dari zaman UAS Olahraga kelas 12 di SMA, hingga UAS Olahraga semester satu di era perkuliahan. Yap, inilah penampilan yang sekiranya dapat membedakan aku sebagai turis dengan calon TKW.

IMG_3871Ah-syik.

Perjalanan di udara tak terasa begitu lama. Aku habiskan waktu bengong dengan membaca novel yang ditulis Ika Natassa, A Very Yuppy Wedding. Tau gak sih lo? Ika Natassa resmi jadi salah satu penulis novel favoritku. Semua novelnya sudah aku lalap habis. Urutan aku membacanya, Antologi Rasa, Divortiare, Twivortiare, dan A Very Yuppy Wedding. Novel-novel ini memberiku gambaran tentang kehidupan orang-orang yang sudah benar-benar menginjak masa dewasa. Membayangkannya asyik juga. Oh iya, ada bagian di novel ini yang membahas tentang topik yang pernah diberikan oleh Pak Aurik, sang dosen IMSB. Tentang bisnis kelapa sawit gitu dan istilah-istilahnya kayak CPO, terus… hm…. apa ya… lupa. Pokoknya, ada dua kesimpulan yang bisa saya ambil dari kejadian unik nan mengejutkan ini. Ika Natassa memang belajar bisnis (karena dia seorang banker) atau Pak Aurik suka baca novel metropop karyanya Ika Natassa di waktu senggangnya setelah memberikan kuliah.

Selama liburan di Malaysia, 5 hari 4 malam, tiada hari tanpa makan, deh! Terus ada fakta menarik! Semua orang juga makan setiap hari. Kecuali mereka yang tidak berkecukupan. Mari doakan semoga makin berkurang orang yang kesusahan. Eh, semoga kita diberi kekuatan dan kesempatan dapat membantu orang yang kesusahan deh!

Pada hari pertama, kami sampai di Hotel Cititel sekitar jam delapan malam. Hotel kami ini berdempetan dengan Mall Midvalley. Macam Trans Hotel dengan Trans Studio Mall lah. Lalu, kami makan malam di food court mall ini. Oleh Uwa Amin, per orang dari kami mendapatkan 25 ringgit. Uang ini dibagikan setiap mau makan. Terserah mau dipake semuanya buat makan atau uangnya langsung dimakan juga terserah. Kalau dirupiahkan, 25 ringgit ini sekitar 75 ribu. Pada malam itu, saya memutuskan akhirnya untuk membeli makanan. Kalau minuman, kan ada Faiz yang beli teh tarik. Yes.

Hari kedua, kami menuju ke rumah Aa Farhan. Ngomong-ngomong kami di sana tidak berpergian sendirian. Ya iya, orang udah pake kata “kami” bukan “saya”. Nggak deng. Maksudnya, perjalanan kami di sana dipandu oleh Aa Farhan dan Abang Ain selaku event organizer. Bercanda deng. Masa EO jadi pemandu jalan, kan harusnya traveller guide. Nggak deng. Karena Aa Farhan dan Abang Ain yang sudah lama di Malaysia, makanya yang nganter ke mana-mana. Masa Dhila yang nganter. SIM aja baru punya, paspor aja baru dicap, braces gigi aja baru dibuka. Fyi, bagian ngomongin braces baru dibuka itu sebenernya mau pamer, gigi aku udah rapi.

Rumah Aa Farhan itu di Equinox, di daerah… ga tau daerah apa. Di mobil ketiduran. Sebenernya bukan naik mobil biasa, tetapi mobil van. Mobil van itu kalau Anda nggak tau, coba nonton film-film Amerika yang temanya penculikan atau action deh. Biasanya kan penjahatnya ngumpet di mobil van, nyiapin pistol, terus nembakin orang. Bukan nembak cewek. Nanti bukan film dong namanya, reality show “Katakan Cinta” yang populer di kalangan ABG tahun 2000-an. Tau kan, mobil van itu yang kayak gimana? Bilang tau, aku jadi pacar kamu. Bilang nggak tau, aku juga jadi pacar kamu. Ups, gara-gara saya juga angkatan 2000-an nih SD-nya, jadi pernah nonton “Katakan Cinta”.

IMG_3886Di dekat perumahan Aa Farhan. Semacam kawasan yang banyak chinese-nya.

IMG_3900The Mines. Ini mall, dan bisa ke dalam sini naik perahu.

Hari ketiga, tujuan pertama kami ke KLCC. Lihat menara kembar. Yang ngelahirin menara ini siapa ya, kok bisa kembar, dan tinggi-tinggi pula. Ujungnya menusuk ke angkasa. Sakit dong. Untung angkasa tidak bisa berdarah. Begitu sampai sana, pada ribet minta difoto. Sampai-sampai udah disuruh buru-buru sama Uwa Amin, aku belum kebagian, eh, ga ada yang mau gantian fotonya. Sampai aku bete. Tapi, akhirnya difotoin sama Mama sih. Yang susahnya tuh, ada satu Uwa yang ribet, belum difoto pas pake kacamata. Aku kan belum sama sekali. Kasian kan. Harusnya sih kasian. Haruskah aku minta-minta di jalanan Malaysia, sampai dikasi uang, lalu ditangkap polisi Malaysia, terus dikira TKW, dibalikin ke rumah majikan, baru kasihan? Terus sampai masuk TV di Indonesia, sebagai TKW yang berhasil kabur, karena dianggap TKW padahal bukan?

IMG_3946Ribet langsung foto-foto nih Mama, Aki, dan Uwa-Uwa (om atau tante dalam bahasa Sunda). Kalau dikasih option mau difoto pake kamera DSLR, kamera pocket, atau Blackberry, pasti pemenang mutlaknya itu Blackberry. Alasannya? Supaya bisa langsung tayang. Hadyu.

Setelah dari KLCC, kami geser pantat dan makan siang di Pavillion, daerah Bukit Bintang. Sesudahnya, kami jalan agak jauh, entah mau ke mana. Begitu sampai, ternyata kami ke stasiun monorail. Lalu, naik monorail dan turun di tempat awal kami berjalan. Cuma perjalanan ke satu stasiun doang. Satu menit juga kurang kali. Hahaha, yang penting naik monorail.

IMG_3949Bule lagi foto-foto, difoto.

IMG_3950Ibu-ibu lagi jalan nggak ingin aku foto, eh kefoto.

IMG_3954

IMG_3951Pahlawan pejuang mimpi-mimpi saya sejak TK, Doraemon.

IMG_3952Monorail.

IMG_3953H&M

IMG_3992Anaknya Teh Nadya, Omar & Salma. 

Omar ini suka main sama aku selama di sana. Hobi banget ngikutin dari belakang. Kalo aku lari, dia ngejar. Terus kalo Omar udah lari, susah berhentinya, jadi aku ditabraknya. Udah nabrak, dia ketawa sambil peluk-peluk. Coba aja ntar udah gede, udah bisa bawa mobil. Aku lari, dia bawa mobil. Gak direm. Hiii, ga mungkin lah ya. Pas duduk di mobil van, duduknya sebelahan sama aku. Omar ini pinter Bahasa Inggris. Kosa katanya udah banyak. Dia hafal nama buah-buahan, sayur-sayuran, bintang-bintang, dan planet. Selama mobil masih bergerak, Omar interogasi apa saja makanan kesukaanku. “Kamu suka lettuce ngga?”, “Kamu suka jackfruit ga? Itu loh, nangka. Aku suka banget jackfruit.”, “Kamu suka pomegranate nggak”. Aku aja sempat mikir dulu. Pomegranate iitu apaan ya, perasaan ada di iklan, TAPI IKLAN APAAAA? Tuh, nama iklannya aja ga inget. Apalagi pomegranate-nya. Kosa katanya yang banyak ini, kata Teh Nadya, Omar dapat dari nonton video di Youtube. WOW. Youtube sebagai sarana edukasi. Canggih sekali anak zaman sekarang. Dulu, aku belajar sumbernya dari…dari…komik Doraemon dan Conan gitu? Dari Majalah Bobo juga. Efek belajar dari komik, anak TK udah bisa pakai kata “kamuflase”, “asam sianida”, “pembunuhan berencana”, dan “baling-baling bambu”.

Hari keempat, ini hari jalan-jalan pakai mass transportation. Perjalanan hari ini khusus buat anak muda. Aku, Faiz, Teh Nadya, dan Mama. Kami, hari itu, naik KTM dan MRT. Tujuan utama jalan-jalan kami hari ini itu: H&M. Gara-gara aku penasaran, kemarin gak masuk sini. Cuma lewat saja. Tidak pakai permisi pula. Nah, hari itu, adalah hari bersejarah. Ngambil, ngambil, ngambil. Mama langsung nge-iya-in. Miracle! Aku bilang “Ma, di Indonesia belum ada ini. Kan, Dhila juga di Bandung jarang beli baju. Kuliah bajunya itu-itu aja”. Terus mama jawab, “Dhil, emang ada temen yang bilang karena baju Dhila itu-itu aja, Dhila ditegur terus ga boleh temenan sama mereka lagi? Gak kan?” Iya nggak sih, sampai sejauh ini belum ada yang bilang gitu. Tapi, ini antisipasi daripada hal yang kutakutkan ini tiba-tiba terjadi pada suatu hari di masa depan. Saat perputaran baju yang dipakai, semua orang udah hafal, bahkan enek, sampai ada yang muntah di depan aku. Gak mungkin juga sih. Kayaknya.

IMG_3983Teksi.

IMG_3982OMG, ini di dalam KTM.

IMG_3981OMFG, ini di stasiun KTM

Hari kelima, kami pulang. Ke bandara nyampenya pas-pasan udah boarding. Gak sempet ke Duty Free Shop. Tapi, aku nggak sedih. Soalnya, Papa yang baru nyampe Bandung sehari sebelum kami pulang, udah ngebawain oleh-oleh dari Duty Free Shop Qatar. Beli cokelat, seperti yang biasa Papa bawa kalau ke Bandung. Namun kali ini, bawa cokelatnya sama kayak yang ada iklannya di TV kabel, terus sama kayak cokelat yang pernah aku makan di rumahnya Athira, enaaaak banget.

Sekian laporan perjalanan liburan ke luar negeri (padahal cuma beda satu zona waktu saja). Wassalamualaikum.

Oh, iya terakhir.

IMG_3948Faiz, model kaus singlet

IMG_8987Mama, sang fotografer ekstrim. Yang penting Menara Petronas keliatan dari bawah sampai atas!

Buka Puasa Main Kartu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah hari ini adalah hari ke-24 berpuasa. Sungguh waktu berpuasa tahun ini berjalan sangat cepat. Mungkin karena disibukkan oleh kegiatan sekolah, sanlat, dan tanding slopitch, lapar dan haus pun tidak terasa. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tahunnya profesional!

Di bawah ini fotonya, tim WFB, Wartawan Foto Bandung, yang sebenernya ga ada di antara kami yang merupakan wartawan. Wartawannya malah main di tim Telkomsel. Tapi kami hebat loh, juara 3 di pool kami.

Setelah sekitar dua minggu yang lalu berbuka puasa bersama kelas IPA 6, kemarin saya berbuka puasa bersama Unggulan ’06. Unggulan ’06 adalah kelas saya waktu bersekolah di SD Negeri Banjarsari, yang tersaring dari SD 1 sampai SD 6, yang terdiri atas 35 murid.

Taunya, dari 35 murid, yang bisa dateng hanya 10 orang. Itupun seorang cuma dateng sebentar terus pergi lagi. Jadi yang dateng itu saya, Mentari Gita Pertiwi alias Toto, Rizka Dewi Zuleika alias Icrut atau Ica, Fadhilla Umami alias Dela, Tri Intani Puji Lestari alias Intan, Ilman Dzikri Ihsani alias Ilemano, Serian Trisetyo alias Buser, Hariadi Purnomo alias Buntelan Kentut *ups!* Adi, Irman Adhika, dan yang nongol sebentar terus pergi lagi, M. Ridwan Ramadhan.

***

Sore kala itu sangat panas sekali, saya memutuskan untuk tidak naik ojek ke SD, saya minta diantar mama naik mobil. Untungnya dago tidak terlalu macet, jadi perjalanan pun senang-senang saja.

Saat sampai tempat tujuan dedi dores mama, dengan diiringi doa restu mama, saya turun dari mobil dan menjelajahi sekolah untuk mencari makhluk yang saya sebut teman. Tidak perlu dicari ke semak-semak atau di balik pohon, ternyata mereka ada di tempat yang wajar. Ica dan Toto, itulah mereka. Mereka berjenis kelamin perempuan.

***

Saya klarifikasi, Toto itu bukan toilet yang berjenis kelamin perempuan. Toto itu manusia, sama seperti kita, kawan. Toto harus menerima nasib dipanggil sebagai Toto itu karena saya. Dulu saya mau manggil Mentari jadi Tamara atau Maejanah atau Blezinsky tuh kan kejauhan dari nama aslinya. Jadi ya udah, keep it simple and chic, Toto aja.

***

Setelah saya bertemu Ica dan Toto, kami bertiga masih harus bersusah payah, bersimbah darah, membuang sampah, untuk mencari Iltan, Ilman dan Intan. Dimanakah mereka berdua gerangan? Pelukismu agung, siapa gerangan?

Mereka ada di kelas 2 SD 3 rupanya. Saat kami, trio DhiCaToCu, Dhila Ica Toto Lucu, masuk ke dalam kelas tersebut, kami sangat terkejut! Untungnya tidak sampai pipis di celana, apalagi pipis di Toto. Kelasnya bagus banget! Beda banget saat jaman dulu kami bersekolah di sini. Kursi dan mejanya itu seorang satu. Nyaman banget. Waktu di reguler, sekelas bisa sampai enam puluh orang, duduk dempet-dempetan, panas dan keringatan, kalo ada yang ee di celana, wah udah itu sih menderita. Kalo kelas yang sekarang, di reguler aja cuma buat tiga puluh orang. Di kelasnya ada tiga kipas, di pinggir 2, yang besar 1 di tengah. Jadi 10 orang, 1 kipas kali ya kaidahnya. Lalu, ada dua dispenser! Satu dispenser disponsori Aqua, satu dispenser lagi bisa bikin air dingin dan panas! Wih udah paling asyik lah. Jangan-jangan saat tahun depan kami ke sini, di setiap kelas udah ada WC, terus tempat spa, dan rental PS lagi.

Kembali ke topik utama. Akhirnya kami berempat, DhiCaToCu dan Iltan, berkumpul. Ada desas desus bahwa Hariadi sudah sampai. Saya keluar dan menuju ke arah pintu teralis yang menghadap ke lapangan basket untuk mencari Adi. Siapa tahu ada di sana. Saya teriak, “HARIADIIIIIY!”. Tiba-tiba ada yang balas teriakan saya dari belakang, “APAA!”. Seketika saya menjerit “Kyaaaa!”. Rupanya dia sudah sampai di depan kelas, bukan berada di lapangan basket. Sampai basket, basah ketek, deh gara-gara kaget.

Serem ya.

Ibu Nurhayati, wali kelas kami di Unggulan, tidak dapat hadir di acara buka puasa kami. Jadi merchandise dan foto kelas yang harusnya diberi saat sore nanti, kami titipkan ke Mang Soma, Sang Penjaga Sekolah Berkumis Klimis. Kami sertakan pula secarik kertas yang berisi pesan dari kami, isinya:

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam lintah!

Seharusnya ibu datang ke acara buka puasa unggulan ’06, tetapi ibu tidak dapat datang. Menyedihkan.

Murid-muridmu yang terluka.”

Setelah menitipkan benda yang harusnya kami titipkan, kami menemui Serian yang ternyata sudah menanti kami di depan mesjid sekolah. Then, off we go!

Kami melangsungkan acara buka puasa ini di Makan-Makan. “Makan dimana?”, “Di Makan-Makan.”, “Wei maneh ngajak gelut ka urang? Dahar dimana?”, “Di Dahar-Dahar eh Makan-Makan.”. Hihihi *kesan seram*

Perhatikan foto di atas! Apakah dalam foto tersebut terdapat temannya si manis jembatan ancol yaitu si manis cigadung indah yang tak lain dan tak bukan adalah saya? Tidak ada. Saya bukannya lagi pipis di toilet atau pipis di pohon saat foto ini diambil. Tetapi sayalah orang yang mengambil foto ini dengan segala kemanisan hati saya.

Tahukah anda mengapa wajah-wajah di foto itu bersinar? Mungkin selain karena efek setelah berwudu, hal ini disebabkan ada lampu di atas mereka. Eh berarti bukan bersinar ya, memantulkan cahaya. Jadi mereka itu hanya bulan, yang dapat memantulkan cahaya, bukan matahari yang bersinar. Berhubung ada di antara kami yang bernama Mentari, nama lainnya matahari, ya sudah kita artikan saya sebagai provider handphone ya, bukan matahari. Soalnya kalau kata saya di foto itu mereka ibarat bulan, ya harus jadi bulan semua! Ga boleh ada yang jadi matahari, mentang-mentang namanya artinya matahari. Demikian.

Nah, di foto yang di atas, kami lagi sibuk main 24. Apakah permainan 24 itu gerangan? Jadi permainan ini mengharuskan kita berpikir, bagaimana caranya dari 4 kartu yang dibuka harus berjumlah 24. Caranya boleh dibagi, dikali, ditambah, dan dikurang. Ga boleh pake kalkulus ya. Kami sih mau pake kalkulus nanti aja kalo udah pada masuk ITB. Tahun pertama kan belajar kalkulus lagi. Eh tapi kalo aku sih kan nanti masuk SBM, jadi ga kebagian kalkulus. Jadi main 24-nya tetep pake kali, bagi, tambah, kurang aja deh.

Oh iya kembali ke peraturan permainan 24. Jadi jack, queen, dan king itu bernilai sepuluh. Kalau as itu bernilai 1. Sedangkan kartu lain ya sebagaimana angka yang tertera di kartu aja ya. Ga usah diganti-ganti ya, misalnya 2 diganti nilainya jadi 5, atau 5 diganti jadi 25. Percaya deh, nanti jadi ribet kalo diganti-ganti nanti ujung-ujungnya ga jadi main, malah berantem.

Ssst..tahukah anda? Sebenarnya saya males main 24 tuh. Abis ga gue banget gitu. Kalo aja namanya 25, ayo aja kalo main sampe malem takbiran atau lebaran juga. Eh jangan deng, kalo main sampe lebaran, bisa-bisa ga kebagian THR.

Biar mainnya tambah asyik, kami melibatkan uang juga loh! Gara-gara hal ini, Darsem sampe hampir dipancung di Arab Saudi! Ga deng. Uangnya buat bayar makanan dan minuman yang kami makan. Tapi foto di atas sensasional kan? Bisa aja tangan yang ada di foto tersebut dilacak dan diketahuilah bahwa tangan tersebut tangan temen saya. Jadi aja temen saya ditangkep soalnya dikira main judi. Untung bagian tubuh saya ga ada yang kefoto. Soalnya saya yang foto.

Nah nah nah saudara saudari sekalian, foto ini diambil saat kita mau bubar. Bukan buka bareng ya, tapi beneran bubar, pulang ke rumah masing-masing. Sayangnya, di foto ini ga ada Ridwan, abis dia sebentar banget datengnya, langsung pulang lagi. Dan sebelum pulang, dia melakukan hal yang sensasional dan menjurus ke arah menakutkan. Ridwan mengecup rambut Serian dengan mesra! Seketika itu pula hawa di sekitar meja kami berubah menjadi panas, atau dalam bahasa inggrisnya HOT!

Setelah selesai The Last Photoshoot, mirip-mirip The Last Supper gitu biar artistik namanya, saya langsung ngacir pulang. Serem banget udah malem sekitar jam sembilanan gitu. Saya naik angkot deket Taman Flexi, taman yang biasanya banyak anak geng dan yang paling menakutkannya itu, BANYAK BAN to the CI! Banci! Untungnya sih ga ada, aman-aman aja. Eh apa sebenernya ada ya, tapi ga keliatan? Semacam hantu banci gitu. Hantu banci kebanyakan matinya gara-gara mau nyuntik silikon ke hidung, eh kepeleset ke mata deh jadinya. Ih udah ah sadis banget!

Setelah naik angkot dan turun di simpang dago, saya melanjutkan perjalanan saya ke rumah dengan menggunakan ojek. Lalu sampailah saya di rumah jam setengah sepuluh malam dengan anggota badan yang utuh. Alhamdulillah.

Sekian cerita kehidupan saya kali ini, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!