Dari Awang-Awang, Sekarang Bisa Dipegang

Yo, kawan-kawan. Ini lah benda yang selama beberapa bulan ini banyak menyita waktu dan pikiran saya, untung saja harkat dan martabat saya tidak ikut disita. Benda ini bukan sekadar benda. Ini adalah mug. Mug itu rekan sejawatnya gelas, sama-sama dipakai buat minum. Sebelum dipakai minum, dipakai untuk menaruh minumannya dulu. Nah, yang ini nggak cuma buat itu. Ibaratnya Hulk, dari manusia bisa berubah jadi monster hijau bercelana ketat (yang saya heran kenapa nggak robek-robek), nah, mug ini mengalami mutanisasi. Mutanisasi! Nggak mutanisasi juga sih, itu saya pakai kata itu supaya ada efek penolakan, efek pemicu kontroversi, yang bikin kalian yang membaca merasa terganggu “apaan sih, Dhila sok-sok ibarat-ibarat tapi pengibaratannya minta didebat”. Biasanya hal yang kontroversial itu mudah diingat kan? Iya in aja deh, biar cepet.

UNICA (nama mugnya) kami mekanisasi sehingga mug canggih yang pertama hadir di dunia ini (maksudnya UNICA) bisa mengaduk minuman yang dibikin, tanpa perlu pakai sendok! Ataupun pakai bekas bungkus kemasan kopi sachetan yang baru dibeli di toko grosiran (grosiran banget nih? yang penting it rhymes!). Asyik? Tentu, beban hidup kita berkurang, dong.

Ada satu hal yang saya sadari saat saya dalam keadaan setengah sadar. Semua kegiatan yang berbau “pencarian” adalah hal yang melelahkan. Mulai dari pencarian jati diri, pencarian kekasih hati, sampai yang paling bikin mau mati, pencarian sendok (maaf, yang ini tidak berima, saya tidak menemukan kata berakhiran ‘i’ yang bisa menyubtitusi kata sendok).

Seandainya kegiatan cari-mencari ini bisa diminimalisasi, bayangkan betapa bahagianya hidup ini! Kalau misalnya Sherina bisa senang hingga berkata “betapa bahagianya” hanya karena punya banyak teman (beneran Sherina bilang gitu, lihat ini), terus ini adalah indikasi bahwa kita pun bisa berkata “betapa bahagianya” juga. Terus kalian akan bilang “ini maksudnya apa?” setelah membaca lagi kalimat yang saya tulis sebelumnya yang tidak menuju ke mana-mana. Saya lagi ingin bahas Sherina aja, jadi saya kait-kaitkan. Sudah ya, jangan pikirkan isi paragraf ini lebih lanjut, saya bingung mau menyuntingnya, saya juga tidak mau menghapusnya. Saya sedang sensi. Sensi ada di Jakarta. Oh, itu Senayan Siti. Senayang City. Cenayang Sakty.

Intinya, jika kegiatan cari-mencari ini dalam salah satu elemen kehidupan yang kita hadapi sehari-hari bisa di-cut, berarti kamu udah bisa lanjut melakukan hal yang lainnya, dong! You can be one step ahead from people around you!

Dengan UNICA, kamu bisa mulai duluan menata hidup kamu menjadi lebih baik, sementara yang lain masih nyari-nyari sendok buat ngaduk minuman mereka, terus habis itu mereka baru mulai bisa mikir hal lain, menata hidup misalnya, selain mikirin “mana sendok gue, kampret”.

Itu dulu sih penjelasan singkatnya tentang hal yang menyita waktu dan pikiran saya, yang untung hingga saat saya sampai ke paragraf ini pun harkat dan martabat saya masih utuh, tidak disita siapa-siapa. Lengkap, sama seperti keadaan saya menulis paragraf pertama.

Yang kalian lihat dari videonya itu adalah dokumentasi dari acara eksibisi pertama yang UNICA ikuti. Belum mulai jual-jual sih, masih mengetes desain dulu, mana yang paling disukai pasar, terus menggali komentar mereka saat mencoba UNICA. Buat launchingnya, mudah-mudahan di pertengahan bulan Januari. Aamiin.

Oh, iya, just let me know if you’re interested or want to know more about UNICA. Masih rahasia sih. Tapi karena terlanjur saya tulis di sini statusnya berubah, menjadi “rahasia umum”. Asyik kan tuh, jadi rahasia umum, bro! Toilet aja ada toilet umum kan.

Terakhir nih, saya mau curhat. Lewat foto aja tapi, ya. Ini kata-kata yang saya buat untuk menohok diri saya sendiri. Itung-itung motivasi.

Curhat Gelas

Lagi-Lagi Cari Jati Diri

Saya sedang dalam tahap pencarian jati diri yang ternyata tidak selesai-selesai.

Saya tidak bisa menceritakan sifat-sifat dan kepribadian yang saya miliki secara yakin. Dan saya menyadari, bahwa kalau wawancara untuk kepanitiaan atau pekerjaan adalah gerbang terakhir, untuk dinyatakan “ya” atau “ke laut merah aja sana!” Karena saya tidak bisa melalui jalan internal (mikir sendiri tentang kepribadian sendiri), saya pilih jalur eksternal. Ada banyak. Namun saya yakin, pergi ke dukun bukanlah hal yang tepat. Bisa juga sih nanya ke temen yang punya bakat “dukun”. Gratisan, kan? Tapi yang saya butuhkan bukan penjelasan saya nggak ngerti dia bisa tahu dari mana, walaupun dia ngomong “aku paling ngertiin kamu”. Zodiak? Hih, apalagi itu. Apa hubungannya bintang di langit yang biru amat banyak menghias angkasa dengan kamu di bumi? Kenapa ada tipe kepribadian yang dibagi berdasarkan kamu zodiak apa, kamu lahir bulan apa, sih? Kalau saya sih  gak bisa menelan konsep zodiak bisa berkaitan dengan tingkah laku seseorang. Untuk membaca suatu kepribadian kan harusnya dilihat dari lingkungan yang memengaruhi orang tersebut, siapa saja di sekelilingnya, apa kebiasaannya, bagaimana cara dia memilih suatu keputusan, dan lain-lain, kecuali tanggal lahir. Apa lagi kata Mama, percaya sama zodiak itu syirik, menyekutukan Allah swt. Syirik tuh dosanya gede banget. Serem kan. Karena serem, tiap majalah yang ada kolom zodiaknya langsung saya pindah halaman, takut kebaca, takut nge-iyain dalam hati, takut jadi orang musyrik!

Continue reading “Lagi-Lagi Cari Jati Diri”

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 6

Setelah Kak Samir selesai dengan urusan kamar mandi, ada obrolan lagi antara Kak Samir dan Pak Deni. Saya merasa tidak ada kewajiban ngobrol lagi, deh. Saya lebih suka memperhatikan daripada berbicara. Jadi, saya ngeliatin anaknya Pak Deni aja, deh!

Anaknya ini lucu banget, matanya besar, pipinya gembil, rambutnya sedikit bergelombang. Masuk ke dalam tipe anak yang aman, nggak ke tipe pengen dilempar. Serem, ya? Soalnya ada tipe anak kecil yang kalau aku liat kok mukanya nyebelin banget, pengen dijahatin gitu. Biasanya kalau mukanya nyebelin ini sebanding dengan kelakuannya, nakal banget, suka teriak-teriak, dan cari gara-gara sama saya. Tapi, anaknya Pak Deni ini lucu! Pas bapaknya lagi ngobrol, dia main ciluk ba gitu sama saya. Muncul dan sembunyi dari sebelah badan bapaknya. Terus dia sambil makan kacang. Penasaran deh, kalau mulutnya dipenuhin kacang mukanya jadi kayak gimana.

Kembali ke pengamatan saya terhadap perbincangan dua lelaki yang usianya ternyata hanya terpaut satu tahun ini. Pak Deni curhat kalau dia dulu ikutan UMPTN (sekarang SBMPTN) pengen masuk ITB atau Unpad. Sayangnya, ya karena otak bodoh, nggak masuk deh. Pak Deni beneran ngomong kayak gitu. Untungnya lagi ngobrolnya sama Kak Samir, saya nggak perlu nimpalin deh. Bingung kan mau nimpalin apa juga. Nah, akhirnya Pak Deni ini meneruskan sekolah yang buat jadi polisi gitu, lupa namanya apa. Pantes aja, gaya berbicara dan pola pikirnya agak beda dengan orang-orang lain di desa ini. Beliau cenderung kritis dalam menyikapi permasalahan yang ada di desa. Misalnya, sebenarnya hutan-hutan desa di sini itu banyak banget diambilin kayunya. Dari luarnya saya terlihat rimbun, tetapi kalau masuk ke tengah, gundul! Tetapi, sulit untuk ditindak, soalnya kasihan, kayunya itu buat bangun rumah, bukan buat dijualin gitu. “Mau gimana lagi”, ujar Pak Deni.

Sudah jam lima sore dan sepertinya akan turun hujan. Kami pamit untuk pulang.

Di perjalanan pulang, ada lumayan banyak warga, sekitar sepuluh orang, nongkrong di warung yang terletak di jalur kami pulang. Mereka lagi ngobrol sambil minum kopi. Seperti biasa, saya mengucapkan kata sakti untuk mengundang keramahan dari warga desa karena telah menghormati teritori mereka. “Punten, Bu, Pak!” Langsung lah disamber dengan kata “mangga, mangga… sini dulu atuh, ngopi..”

Begitu sampai rumah, kok laper banget ya? Makan siangnya mana nih? Terakhir saya lihat ibunya masak itu jam 2, sehabis saya pulang dari kecamatan. Dan lauk yang harus dimasak Ibu Lilis ini masih banyak. Tahunya, jam 12 itu udah dimasakin makan siang. Yang saya lihat jam 2 itu makanan buat nanti malam! Meeen, mengapa ini terjadi! Akhirnya langsung ambil makan sih, soalnya ada yang udah disajikan. Makan deh. Seperti biasa, ayam gorengnya mantap sekali!

Malam harinya setelah mandi, saya, Evita, Erina, dan Devina, ngobrol di lantai atas. Obrolannya tentang apa? Tentang bau badan. Siapa yang wangi alaminya beneran wangi di angkatan. Tapi kami nggak ngobrolin siapa yang bau kok, cuma berkeluh kesah aja, kenapa masih ada yang nggak sadar kalau kebersihan tubuh itu harus diimbangi dengan wangi tubuh yang mendukung. Bau badan itu nggak banget deh, cyin.

Terus, yang asyik malam ini adalah saya makan lagi! Makannya tanpa ada pikiran bakalan sakit perut lagi, soalnya isi perutnya udah dikosongkan di Posyandu. Haha! Nggak usah makan dikit-dikit lagi deh.

Seusai makan, Gorija menunjukkan kebolehannya bermain sulap kartu. Ternyata badan besar itu tidak dapat menentukan kelincahan tangan seseorang. Bravo, Gorija.

Esok harinya, saya bangun cepat-cepat, mengincar giliran mandi di awal-awal. Sebelum mandi, shalat subuh berjamaah dulu di musala, bareng Gorija, Parjo, dan Kak Samir. Harusnya saya dan Gorija udah siap shalat jam setengah enam. Nungguin Parjo dan Kak Samir ini yang bikin ngaret setengah jam. Yakali, shalat subuh berjamaah jam 6. Namun, hal ini benar-benar terjadi.

Saya termasuk dalam golongan orang yang packingnya semudah membalikkan telapak tangan. Soalnya barang-barang dalam tas sehabis dikeluarkan atau digunakan, pasti langsung masuk tas lagi setelahnya. Seperti manusia, diciptakan dari bumi, akan kembali lagi ke bumi. Lagi-lagi asosiasi yang tidak asosiatif. Dhila, Dhila. Intinya,nggak khawatir bakal ketinggalan barang deh!

Sebelum sarapan, saya berkelana dulu sekitaran rumah untuk mengambil gambar. Cahaya mataharinya lagi bagus-bagusnya nih sebelum jam 10-an yang sudah terik.

IMG_5474IMG_5476 IMG_5473 IMG_5465 IMG_5459 IMG_5478 IMG_5484 IMG_5492 IMG_5493 IMG_5494 IMG_5500

Pas balik ke rumah, sarapannya udah pada selesai. Lagi-lagi ketinggalan jam makan. Untung masih ada temen, Ubay. Ubay ini makannya lagi dalam ronde 2.

Sampailah kami ke hal yang paling tidak diinginkan dari adanya pertemuan, yaitu perpisahan. Melihat Ibu Lilis menangis, saya hampir ikutan nangis. Udah berkaca-kaca. Tapi malu kalau nangis dilihatin sama temen-temen. Nggak jadi nangisnya deh.

IMG_5503IMG_5504 IMG_5507 IMG_5509Hai, aku Gorija!

Saat kami pergi ke tempat mobil pick up, Pak Sahriya ikut mengantar kami naik motor. Yang tidak disangka adalah, empat tourguide cilik kami pun ikut mengantar! Mereka lari-lari di belakang mobil pick up kami. Mereka mengikuti kami sampai kantor desa dan sebelumnya menemani kami saat mobil pickupnya terperosok ke selokan depan rumah warga. Men! Kok bisa ya masuk ke selokan perasaan jalannya nggak sempit kok. Mungkin supirnya kebanyakan pahala jadi pundaknya lebih berat di sebelah kanan, terus jadi nyetirnya suka mepet-mepet di kanan. Gak gitu juga sih kayaknya.

IMG_5520

Ada kali 20 menitan nungguin mobilnya diangkat. Nungguin, nggak bantuin. Cewek-cewek nungguin sambil berdiri di teras warga yang teduh. Paling bantuin pas estafet tas dari mobil pick up ke rumah warga yang baik hati ini memperbolehkan mobil kami terperosok di selokan depan rumahnya dan menaruh barang di terasnya. Asyik kan jadi cewek? Pasti dong.

IMG_5529 IMG_5553IMG_5539

Selesai dikeluarkan dari selokan, naik lagi deh ke atas mobil. Sempit-sempitan lagi, bro! Saya kebagian duduk di atas tas bagian tengah mobil. Nggak pernah kebagian di pinggir mulai dari datang dan pulang.

Ada satu kejadian yang hampir mencelakakan teman kami. Tedo, duduk di bagian belakang pick up. Saat itu mobil pick up sedang berusaha melewati tanjakan yang lumayan curam dan jalanannya nggak nyantai bergelombangnya. Kami sedang asyik berteriak-teriak ketakutan yang bercampur kesenangan hingga tiba-tiba ada cowok yang teriaknya lebih kencang dari kami. Tedo melayang di atas mobil pick up, kakinya tidak menyentuh pick up. Tedo hampir terhempas jatuh ke belakang mobil saat mobil melewati lubang di jalan! Hih. Serem sih, tapi pas baru saja kejadian, kami yang melihat kaget terus malah ketawa. Mobil diberhentikan dulu dan Tedo pindah ke bagian kiri mobil pick up.

Satu hal yang saya dapat saat tiba di kantor desa. Akhirnya, bisa lihat Kepala Desa juga, orangnya yang mana. Abisnya Pak Kades ini sibuk banget sih kemarin-kemarin ini, sibuk di kota Cianjur.

Selesai di kantor desa, kami melanjutkan perjalanan lagi ke kecamatan. Hal uniknya, Kak Samir nggak ikut ke mobil pick up saat mau keluar dari desa, malah lari duluan. Baru naik lagi ke mobil pick up pas udah di jalanan beraspal. Kak Samir larinya cepet banget! Larinya sambil pake down jacket pula, panas-panas begini. Curiga ninja. Tapi, dilihat-lihat sih Kak Samir larinya masih di jalanan, nggak di atap-atap rumah warga gitu.

Kembali lega-lah orang-orang berpantat yang duduk di pinggiran mobil pick up. Jalanan aspal! Tidak ada yang lebih bersahabat dengan pantat daripada ini.

Jalanan mulus, saatnya konvoi! Konvoi cuma satu mobil sih. Tapi definisi konvoi bagi saya itu saat ada benda yang dikibar-kibarkan sambil nyanyi-nyanyi. Saya kibarkan deh jaket saya yang kata teman-teman itu jaket keren punya! Jaketnya itu warna hijau army, model parka. Sabi deh! Beli khusus buat ekskursi. Hahaha.

Konvoi di sini sih nggak malu, soalnya nggak akan ketemu lagi. Cuek aja gitu kibar-kibarin jaket sambil nyanyi-nyanyi. Nggak ketauan juga kami rombongan dari mana, soalnya nggak ada identitas yang tertempel di mobil pick up kami.

IMG_5560Berfoto bersama ninja desa.

Kami tiba di kecamatan pukul 09.30. Habis nunggu semua teman dari seluruh desa sampai, baru lah bis berangkat.

Kebagian duduk di bis bagian belakang. Hii, mengingat jalanan yang meliuk-liuk, berbatu, turun naik, membuat mual. Padahal nggak pernah mabuk darat. Saking ekstrimnya jalan yang kemarin jadi saja bikin tersugesti. Untungnya, Ojan bagi-bagi antimo. Inilah pertama kalinya saya coba-coba minum antimo soalnya baru bisa nelen obat dalam bentuk pil dan kapsul saat baru-baru mulai kuliah. Gara-gara antimo ini, kantuk menyerang dengan dahsyat dan saya tidak sadarkan diri hingga bis berhenti di suatu tempat, yaitu restoran. Restoran Ampera 2-Tak. Saya turun dari bis dengan pikiran masih melayang, mata yang berat, dan sebagian nyawa tertinggal di kursi bis. Pertama kalinya saya merasakan sensasi yang aneh gitu, sampai-sampai nggak bisa ngomong apa-apa, sampai-sampai nggak sempat mempermasalahkan kenapa nama restorannya itu Ampera 2-Tak. Sampai kepikiran hingga sekarang gara-gara nggak sempet nanya. Kenapa namanya Ampera 2-Tak?!

Tahunya, selang beberapa menit, saat saya mau masuk restoran, Pak Awi bilang, “masuk lagi ke bis, restorannya bukan yang ini.”

Tidur lagi di bis. Terbangun setengah jam kemudian saat bis berhenti di suatu restoran. Nama restorannya adalah Ampera 2-Tak. Lagi. Beda cabang sama yang tadi. MEN, KENAPA HARUS AMPERA 2-TAK SIH? 2-TAK. 2-TAK. 2-TAK. Mikirinnya bisa-bisa sampai botak.

Waktunya ambil makan yang disediakan dalam bentuk nasi kotak. Ada tiga pilihan lauk, ayam, ikan mas, dan empal. Saya pilih yang empal karena nggak lagi kepingin makan ayam dan ikan mas. Duduk di kursi, buka kotak makanan dan inilah dia, nasi kotak empal tanpa empal di dalamnya. Yiiha. Mau bilang ke mas-masnya tapi nggak sanggup, soalnya nyawa belum kembali sepenuhnya. Namun, tiba-tiba dengan berbaik hati, Evita ngasih setengah dari daging empalnya dong. Aih. Padahal udah pasrah makan nasi, tahu, dan tempe. Dibalik kepasrahan inilah Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Hahaha. Ungkapan kebahagiaan lah, biasa.

Selesai makan, shalat zuhur dulu di musala, setelah itu tidak lupa mampir ke kamar kecil.

Udah gitu, mau ambil aqua deh beberapa gelas, buat diminum. Tiba-tiba dipanggil Pak Awi yang lagi makan, “Dhila!” Saya samperin deh, terus duduk di kursi, “kenapa, Pak?” Lalu, mimik wajah Pak Awi menandakan seperti nggak ada kejadian apa-apa, malah wajah heran. Kayak ekspresi, “ada apa ya, saya nggak ngapa-ngapain kok.” Padahal jelas-jelas tadi manggil juga. Becandaannya Pak Awi kadang suka aneh-aneh, atau selalu aneh-aneh. Menarik sekali dosen yang satu ini.

Akhirnya ngobrol tentang email yang kemarin ada blog Dhila-nya deh. Terus saking senengnya baca isi emailnya, sampai-sampai saya foto dong emailnya. Huahaha.

Sesaat sebelum kembali naik ke bis, Gorija mentraktir saya dan Evita es krim dong! Wall’s Feast. Kudapan yang lezat pelipur lara nggak kebagian empal dalam nasi kotak.

Perjalanan pulang akan dimulai lagi. Sebelum tidur, Muhammad Ghifari, biasa dipanggil Ogiv, ngasih liat video yang sangat sangat membuat saya menunda kantuk. Videonya berjudul “Demi Tuhan – Arya Wiguna” AHAHAHAHA…orang Indonesia yang jengah dengan berita-berita konflik Eyang Subur di TV akhirnya membuat sensasi segar dalam infotanment. Saya jarang nonton TV sih, tapi begitu liat video ini walau nggak tahu beritanya, tetep aja ketawa. Ada juga orang kayak gitu rupanya.

Sisa perjalanan ke Bandung tidak bisa saya ceritakan karena saya tidak ingat apa-apa lagi. Dunia mimpi menculik saya dari ingatan saya. Yang saya ingat, saya tiba di rumah setelah dijemput Mama di MBA ITB.

Ya, ekskursi telah usai.

IMG_5557

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 5

Memasuki hari ke-3 Ekskursi, hari Jumat. Setelah kejadian kemarin, hari ini sepertinya saya sudah memiliki mental yang terasah lebih baik. Entah ini benar atau hanya perasaan saya saja. Tulisan ini menjadi mengada-ada.

Pukul 05.45, saya bangun, shalat subuh, bengong, makan.

Pukul 07.50, saya mandi jebar-jebur.

Jarak antara bangun dan mandi yang cukup jauh, ya? Beginilah hidup bersama orang banyak, telat bangun, bisa-bisa kebagian mandi nanti siang. Malah ada yang kebagian mandi belakangan, dia bener-bener mandi belakangan, mandinya malemnya. Itu juga karena kita suruh dia mandi. Itu lah Beni.

Setelah selesai mandi, saya siap menjelajah desa lagi. Tim Kekerabatan kan harus meneliti seluruh dusun yang ada di desa, nah masih ada tiga dusun lagi yang belum dikunjungi. Cibuntu, Bongas, dan Rawagede. Makanya, hari ini tim Kekerabatan dipecah jadi tiga. Gorija ke Cibuntu, yang konon katanya jalanan menuju ke sana itu bisa disebut sebagai rock climbing, curam banget, deh. Kebayang aja, Gorija takut menggelinding ke bawah. Evita dan Beni pergi ke Bongas, Bongas itu dekat dengan kantor desa, agak lebih bawah sedikit. Saya kebagian di Rawagede. Rawagede ternyata eh ternyata adalah tempat kami kesasar kemarin. Haft, menguak luka lama.

IMG_5364IMG_5366SD Pamoyanan, tampak belakang.

IMG_5369Jam delapan, saya, Christie, dan Tedo berangkat. Oh iya, saya hari ini pakai running shoes, nggak pake sendal gunung. Enakan pake running shoes ke mana-mana sih. Tetapi ternyata pakai di jalanan desa yang berbatu dan licin ini adalah kombinasi yang kurang tepat. Sempat beberapa kali, badan saya berpindah padahal saya nggak lagi jalan. Ngegeleser, bro. Maaf, saya orang Sunda.

IMG_5371

Perjalanan hari ini, saya lalui dengan rasa percaya diri, soalnya udah tau jalan karena nyasar kemarin. Jalanan yang kami lewati hari ini sangatlah indah! Sawahnya rapi berlapis-lapis, pohon-pohon tinggi nan ramping, alam yang luas dapat dipandang tanpa tertutupi rumah-rumah. Cahaya matahari yang hangat menyapa kulit kami. Beda sekali dengan kemarin. Suram, muram, gelap. Cahaya yang menyorot pada saya saja saya kira itu cahaya penjemput ajal.

Sebenarnya, saya agak ragu untuk ikut serta bersama Tedo dan Christie. Saya hanya nyamuk nakal yang terbang mengelilingi mereka. Ada orang bilang, jangan berduaan kalau cewek sama cowok, nanti ketiganya setan. Jadi Dhila setan? Perasaan sih enggak.

IMG_5372

IMG_5367Rumah ibu-ibu waspada yang kami tanyai kemarin malam.

Jam 08.21, kami tiba persis di tempat kemarin kami bertemu dengan motor Pak Ali dan Pak Dai. Kami memutuskan pergi ke arah kanan. Di sana ada warung. Warung adalah sumber narasumber. Benar saja, di sana ada seorang ibu, seorang bapak, dan dua remaja perempuan sekitar 17 tahunan.

Kami pun memulai percakapan dengan Ibu Khodijah, pemilik warung. Sebelumnya, beliau mengaku melihat kami tadi malam, saat kami sedang kebingungan. Beliau khawatir melihat kami yang menunjukkan gelagat selayaknya orang tersesat. Dan kami memang sedang tersesat. “Kasihan, udah malem gitu, asalnya mau Ibu ajak masuk dulu..” Banyak yang baik hati ya. Jadi, terharu.

Sembari saya dan Christie ngobrol sama ibu Khodijah, Tedo akhirnya ngobrol sama Pak Baban, seorang petani yang sedang beristirahat di warung Ibu Khodijah ini. Menurut tuturan dari Pak Baban, Ibu Khodijah adalah orang kaya. Sawah milik Ibu Khodijah, sekali panennya bisa menghasilkan 6 ton beras! Tentu beliau nggak ngurus sawah sendiri dong, udah punya beberapa anak buah.

Ternyata, Ibu Khodijah ini pernah bekerja sebagai TKI di Arab Saudi selama 6 tahun dan kembali ke Indonesia di tahun 1990. Berkat penghasilan ini, saat kembali ke tanah air, dia jadi kaya raya! Kaya raya level desa gitu deh, sawahnya bisa berhektar-hektar.

Perbincangan dengan Ibu Khodijah ini cukup menarik karena hanya dengan disentil dengan pertanyaan singkat, jawabannya bisa berlembar-lembar kertas A4.

Ada kejadian yang menurut saya agak serem. Saat sedang menanyakan umur suami Ibu Khodijah yang katanya jauh lebih muda, tiba-tiba ada satu dan lain hal yang membuat ibu Khodijah batal menjawab pertanyaan yang menurut saya agak tabu, namun kalau tidak saya tanyakan bisa terbawa mimpi berhari-hari. Tikus jatuh dari genteng dan lari ke arah kaki saya dan Christie. Bayangkan, gentengnya ada di hadapan kami, dan jaraknya sekitar satu meter lima puluh senti jika diukur secara diagonal dari kepala kami. Begitu tikus itu jatuh, awalnya kami kira itu buah. Tau-taunya buahnya goyang-goyang terus lari melesat. Biasa, kalau perempuan kebanyakan langsung teriak kan kalau liat yang begituan. Merasa bahwa saya adalah perempuan kebanyakan, saya ikut teriak bersama Christie. Ada added value di reaksi saya waktu itu, saya teriak sambil melotot. Tapi kebanyakan juga teriak sambil melotot sih. Kalau sambil merem, kemungkinan matanya itu kemasukan cabe atau beling.

Kami pun mengakhiri nongkrong dan ngobrol, kecuali Tedo, dia sih mengakhiri 4N. Nongkrong, ngobrol, ngopi, dan ngudud (ngerokok). Setelah itu kami pergi, nyari warung lagi.

Nemu warung lagi nih, searah dengan arah kami pulang. Warung Ibu Nia. Ibu Nia ini berumur 31 tahun. Anaknya ada tiga. Rupanya kata produktif di desa itu, beneran produktif ada hasilnya, ya.

Saat kami sedang berbincang dengan Ibu Nia, anak perempuan Ibu Nia sedang sibuk menjemur pakaian dan suami Ibu Nia sedang bekerja di lumbung padi yang berada tepat di depan rumah.

IMG_5379

Sambil ngobrol, sambil ngemil. Saya beli roti bermerek Fuji Bread rasa kacang hijau. Kacang hijaunya seuprit. Terus beli Mie Gemez dan Vindy Chocoballs. Anaknya Ibu Nia yang paling kecil sampai-sampai kabita (pengen ikut-ikutan) makan Vindy Chocoballs. Terus ngambil di warungnya sendiri deh. Curiga konsumen warung itu cuma anak-anaknya Ibu Nia sendiri.

IMG_5376

Ibu Nia bercerita bahwa ia menikah pada umur 16 tahun. Wah. Di umur segitu sih saya lagi sibuk belajar mengejar nilai-nilai buat nanti ikutan jalur Undangan di SNMPTN. Mana kepikiran buat nyari jodoh apalagi memulai rumah tangga.

Setelah 3N, nongkrong, ngobrol, dan ngemil, selama tiga puluh menit, kami berangkat pulang. Saya kembali menjadi nyamuk yang terbang mengelilingi Tedo dan Christie.

Kami memutuskan untuk tidak terlalu lama dan terlalu jauh berkeliling desa karena para laki-laki harus menunaikan ibadah shalat Jumat. Jam sepuluh, kami sudah tiba lagi di rumah. Rumah masih sepi, paling ada Parjo meringkuk di balik selimut, kelelahan abis dari pasar dan mewawancarai beberapa petani yang bekerja di sawah dekat rumah. Tak lama, rombongan dari dusun Bongas, yaitu Evita, Beni, dan Tedo, sampai di rumah. Kalau rombongan yang ke Cibuntu sih, jangan ditanya. Masih manjat kali. Perjalanan ke sana memang berat. Gorija saja sebelum ke sana sudah berat.

Saya memutuskan untuk duduk-duduk di teras sambil mencatat jurnal. Nulis sambil ditemani semilir angin dan setoples rangginang. Serius deh, rangginangnya beneran rangginang.

IMG_5397

Bosan menulis, saya ikutan Devina yang lagi kebosanan juga buat liat-liat pemandangan dekat rumah. Ambil-ambil gambar. Ngobrol sama ibu warung dekat rumah. Terus ngobrol sama ibunya ibu yang punya warung dekat rumah. Terus tiba-tiba masuk ke rumah ibu itu karena Devina langsung masuk begitu ibu itu mempersilakan masuk.

IMG_5409

Ibu itu bernama Ibu Aah. Ia tinggal beruda bersama cucunya dalam rumah kayu yang interiornya sederhana namun tertata rapi. Ibu dari cucunya itu sedang pergi ke Arab Saudi, jadi TKW. Suami Ibu Aah sudah meninggal 7 tahun yang lalu. Walaupun ada pria lain yang kepincut padanya dan mengajak menikah, Ibu Aah menolak dengan alasan sudah tua, nggak deh buat nikah lagi.

IMG_5416

Devina sibuk mengobrol dengan Ibu Aah, sementara saya lebih senang memperhatikan interior rumah ini. Ada satu kekhasan yang saya tangkap dari rumah-rumah di desa tempat saya tinggal, tentunya berdasarkan dari rumah-rumah yang telah saya kunjungi dan kebetulan semuanya ada ornamen ini. Bisa dong saya pukul rata? Nggak bisa dong. Nggak bawa palu.

IMG_5414

Di setiap rumah yang saya kunjungi, mulai dari rumah hostfam saya, Pak Sahriya, rumah Kasatgas desa yaitu bapaknya Dayat, rumahnya Pak Ali, dan rumah Ibu Aah ini, semuanya ada pajangan foto berpigura. Yang uniknya bukan dari ornamen atau ukiran di piguranya, tapi fotonya. Sulit dideskripsikan. Teknologi photoshop lagi booming kayaknya. Sampai teknologi ini diaplikasikan untuk membingkai harapan mereka tentang apa yang ingin mereka capai dalam foto editan tersebut.

IMG_5419

Lalu, kami berpamitan pulang. Saat menuju pulang, ketemu seorang bapak mau pergi jumatan. Sudah rapi, memakai baju koko, sarung, dan lengkap dengan peci. Dia menegur kami, berkata, “Neng, mau ke mana? Ini mau kelapa nggak buat diminum siang-siang nih. Kalau di sini mah tinggal ngambil, kan di kota mah harus beli..” Devina menjawab, “Ah nggak usah, Pak, ngerepotin atuh udah rapi gitu.” Bapak ini bersikeras untuk memberi kelapa. Sampai beliau jinjit agak ngangkang buat berpijak ke pohon dan ngambilin satu kelapa muda buat kami. Sungguh, baik sekali. Malah ditanya, “mau lagi nggak, Neng?”

IMG_5421

Sesampainya di rumah, Devina langsung minjem golok ke Bu Sahriya dan ngebacokin kelapa. Susah ternyata. Sampai Beni dan Kak Samir turun ikut bantu membacok. Kalau saya sih, jadi juru kamera saja.

IMG_5422

Begitu udah kebuka, air kelapanya dituangin ke piring. Terus saya, Evita, Beni, dan Devina, meneguknya bergiliran. Biar minumnya tambah asyik, saya ngucap-ngucap mantra dulu. Biar keren dan syahdu.

Kelapa habis, kerjaan pun habis. Oh, iya, gara-gara tadi bantuin buka kelapa, Parjo dan Kak Samir gak kebagian shalat Jumat. Pas sampe masjid pas “allahu akbar”.

Kak Samir pamit tiba-tiba, mau ke Bandung katanya. Gak deng. Mau ambil uang di ATM. Karena di tengah sawah, atau di pinggir empang desa itu nggak ada mesin ATM, makanya harus ke kecamatan. Tanpa pikir panjang, saya bilang, “tungguin, Dhila mau ikut.”

Saya pikir ikut jalan-jalan ke kecamatan adalah perjalanan asyik untuk membunuh waktu. Lama-lama, perjalanan ini bisa membunuh saya. GILA JAOH BET. Kemarin pas naik mobil pick up sih kerasa bentar, soalnya asyik teriak-teriak. Nah, ini, wih, wih, waw.

Pemandangan baru yang bisa diamati dari kegiatan berjalan kaki ini saboy punya sih. Tapi eh tapi, lama-lama saya cuma liat kaki saya doang, melangkahi batu-batu kerikil. Kami menuruni turunan panjang dan lumayan curam beberapa kali.

Kak Samir sih jalannya kuat. Soalnya terobsesi jadi pemain bola, katanya. Mengingat saya juga atlet softball, saya gak mau kalah. Mana disindir-sindir Kak Samir lagi, “katanya atlet..” Tidak, saya akan pergi dan pulang dengan berjalan kaki, gak akan naik ojek.

IMG_5426

Sepanjang perjalanan ini, saya mengamati bahwa makin dekat dengan kota, kekerabatannya makin kurang erat. Antara satu dan yang lain jarang bertegur sapa. Mungkin karena di kecamatan ini banyak orang berkunjung dari berbagai desa yang berbeda kali, ya. Terus, yang paling penting adalah… makin banyak camilan yang bisa dibeli. Ada roti bakar, ada gorengan, rujak, banyak deh. Pengen beli sih, tapi nanti kalau ketahuan Pak Awi, kepergok di jalan lagi jajan makanannya di luar desa kan gak asik. Soalnya Pak Awi suka foto candid-candid gitu. Terus diliatin fotonya ke angkatan bawah sebagai contoh terlarang di ekskursi. Hiii. Harus makan yang disiapin hostfam atau cemilan yang dijajakan dalam desa, pokoknya.

Kami tiba di kecamatan, liat-liat pasar. Perjalanan pergi memakan waktu setengah jam. Sekarang sudah jam satu. Saya jadi anak bermuka merah bagai kepiting lagi dibakar, terus dipakein saos tomat, terus ketumpahan cat dinding warna merah. Panas banget, men! Ya iya, jalan-jalannya tengah hari gitu.

Abis Kak Samir ambil uang, saya di Alfamart beli air mineral untuk menyambung nyawa.

Kali ini, sebelum perjalanan balik ke desa, saya mempersiapkan diri dengan lebih matang. Air mineral sudah di tangan, tinggal kepala ditutupin handuk deh. Ini bagaikan strategi pejuang di gurun pasir untuk bertahan hidup.

Jalan pulangnya dua kali lebih lama ternyata. Kadang-kadang bersimpuh di tengah jalanan menanjak. Kadang berhenti sejenak untuk ambil gambar pemandangan. Kadang berhenti karena ada mobil bak bawa kayu mau lewat. Jalannya bolong-bolong dan berbatu kan, makanya nyetirnya itu harus belok kiri kanan. Biar gak ketabrak, ya diem dulu, itu satu-satunya cara. Atau kalau emang sengaja mau ditabrak, ya, monggo.

Sampai akhirnya kami melewati kantor desa. Ada Evita, Parjo, dan Beni di sana. Mereka di dalam posyandu yang letaknya di sebelah kantor desa.

“Kak Samir, ada rombongannya Pak Awi tuh di rumah lagi ngecek.” Sontak saja, Kak Samir Sang Tutor Lapangan pun kaget dan langsung buru-buru menuju rumah. Karena pengen cepet tiduran di dalam rumah, saya langsung lanjut jalan lagi ke rumah.

Beberapa menit kemudian, saat kami sedang menyusuri jalan dengan langkah cepat, dan nafas memburu, ada mobil hitam mengilap yang dari kelihatannya bukan mobil dari sekitar sini. Kacanya tertutup semua, ber-AC rupanya. Mantap sekali, dingin-dingin asoy. Lalu, mobil itu berhenti di depan kami. Kaca mobil perlahan mulai terbuka. Mobil itu ternyata berisi Pak Awi dan rombongannya. Jreng!

Untung nggak jadi beli roti bakar.

Kak Samir gelagapan. Anak-anak lain di rumah lagi pada tidur-tiduran dalam sleeping bag pas Pak Awi lagi berkunjung, ini masalah besar, Bung!

Setelah ngomong sama Kak Samir, Pak Awi ngomong sama saya, “Dhil, ini lihat ada sesuatu..” seraya mengeluarkan handphone dari tempat handphone yang tergantung di ikat pinggangnya. Tampak beliau sedang membuka sesuatu yang membutuhkan jaringan sinyal untuk internet. “Ah, lama, Dhil, gak jadi aja, ya.” “Eh, gak bisa gitu dong, masa setengah-setengah!” Bahaya nih yang gini. Kalau rasa penasaran saya sudah terpancing, gak bisa ditarik lagi kalau nggak ada hasil. Saya harus tahu sekarang.

Rupanya ada email. Pas dilihat, kok ada gabungan huruf yang familiar ya. Rupanya gabungan huruf itu merupakan link blog Dhila! Terus saya lanjutin baca semuanya. Habis membacanya, ada perasaan berbunga-bunga. Mendadak jadi nggak kerasa capek habis jalan jauh. Kayak, ah, melayang-layang di angkasa. Seneng banget, hahaha. Saya ternyata suka dengan pujian.

Isinya gini: “Selamat pagi, Pak Awi. Mungkin ini bisa jadi insight berguna. https://dh25ila.wordpress.com Btw, ia menarik. Ceritanya hidup & sepertinya cerdas 🙂 Salam.”

Kyaa, kyaaa, kyaaaa! Kapan lagi ini terjadi dalam hidupku? Tiba-tiba jadi bahan subject email dari orang gak dikenal terus dibilangin cerdas lagi. Walau dibilangnya “sepertinya cerdas” tapi gak apa, deh.

Panggil aku, Dhila Si Menarik dan Sepertinya Cerdas.

Habis itu, baru deh ditanyain, “habis dari mana?” Saya kira itu adalah perkataan yang keluar pertama kali pada saya saat Pak Awi membuka kaca mobil. Gak bisa ditebak, ya, emang.

Jam 14.01, saya tiba di rumah. Tepar deng ternyata. kaki saya serasa hilang. Akhirnya saya tiduran di teras, soalnya di dalem rumah banyak yang tiduran. Saya harus tahu diri dong. Udah keringatan mana boleh tidur-tiduran deket orang lain walaupun orang lain itu juga belum mandi. Soalnya saya males deket-deket orang bau, nah, pasti orang lain juga gitu kan. Ya, tingkat toleransi saya terhadap bau badan itu sangatlah rendah, saya akui itu. Tapi, tau gak ada fakta menarik? Dhila itu walaupun keringetan masih tetep wangi. Ouyea.

IMG_5647

Sekitar jam empat, saya merasa mules. Jreng! Kamar mandi di rumah, klosetnya lagi mampet. Jreng, jreng, jreng! Mampus awak.

Ternyata, eh, ternyata, Kak Samir sepertinya adalah manusia ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk mules disaat yang sama dengan saya. Kak Samir mau pergi ke Posyandu untuk menunaikan tugas mulia ini.

Berjalan lagi, lagi, dan lagi. Untuk buang air saja harus berjalan sekitar 1,5 km. Saya bersyukur di Bandung punya rumah yang kloset kamar mandinya nggak pernah mampet.

Sampai sana, taunya di Posyandu-nya nggak ada yang jaga. Tuhan, jarak antara saya dan toilet hanya tinggal beberapa meter lagi. Mohon ampun atas kesalahanku selama hamba-Mu ini hidup.

Setelah dicari ke sana-sini, muncullah Pak Deni, sang suami dari bidan Posyandu, bersama anak perempuannya!

Senangnya bisa ke kamar mandi. menunaikan tugas hingga tuntas. Mana kamar mandinya super bersih lagi jika dibandingkan dengan kamar mandi kebanyakan. Sabun cuci tangannya aja bisa milih mau wangi apa!

IMG_5438

Gantian deh sama Kak Samir. Saya menunggu di luar Posyandu sambil berbincang dengan Pak Deni. Pak Deni ini ternyata berprofsesi sebagai Kamtibnas Kecamatan. Banyak informasi yang saya gali dari beliau. Ada juga sekilas informasi tentang adanya ibu-ibu yang mau melahirkan dan diangkut dari Cibuntu, hanya dengan bermodalkan kain dan bambu, dipanggul beberapa warga. Cibuntu itu dusun yang jalannya curam banget deh! Tetapi, fisik orang-orang di sini sudah terlatih dengan medan yang harus dihadapi setiap harinya, makanya memanggul bahan bangunan saja mudah, apalagi ibu-ibu hamil? Ya, kan?

Ekskursi, Bukan Eks-Kursi, Bekas Kursi: Part 4

[Peringatan: Agak serem. Saya aja takut buat baca ulang.]

Sore itu, sekitar pukul empat, tim Religi mau bergerak mencari info ke pesantren, lagi. Soalnya ada narasumber yang belum sempat diwawancarai. Tempatnya lumayan jauh, ada di sebelah utara desa sih, tapi harus memutar. Tepatnya, pesantren itu ada di dusun Sukalaksana. Saya diajak untuk turut serta, kata Tedo saya dibutuhkan untuk foto-foto. Jadi, kalau Dhila nggak bisa foto, Dhila gak ada gunanya. Malah langsung disuruh pulang ke Bandung aja gitu. Saya memutuskan ikut pada akhirnya, mewakili tim Kekerabatan, soalnya tim Kekerabatan itu harus menjamah seluruh dusun dalam desa ini, menggali, mengorek, dan mencongkel semua informasi dari setiap kepala yang ada di desa ini.

Perjalanannya ternyata jauh, euy. Dua kalinya jarak dari rumah ke SD Pamoyanan. Dua setengah kalinya malah. Jalannya banyak yang nanjak, berbatu, dan becek. Gerimis sudah turun sesaat sebelum kami berangkat. Saya berbagi payung dengan Parjo. Kami harus berjalan beriringan sampai ke pesantren. Kami harus saling mem-back up kalau-kalau salah satu di antara kami yang kepeleset.

Para pencari kebenaran sore itu ada lumayan banyak. Saya, Parjo, Tedo, Christie, Ubay, Jihan, Adit Otot, Devina, Alvin Pek, dan tak lupa tutor lapangan kita yang diimpor dari Arab, Kak Samir.

Di tengah perjalanan saya sempat menyesal, kenapa nggak pake jas hujan aja, daripada pake payung, kakinya masih kecipratan, tangannya pegel, dan gak bisa jalan kesana-kesini sesuka hati. Tapi kebayang sih, kalau kami semua pakai jas hujan. Hari sudah mulai gelap, sepuluh orang di tengah hujan mengenakan jas hujan berwarna gelap, berjalan terburu-buru dan ada juga yang terseok-seok, melintasi jalanan desa yang mulai sepi. Bisa-bisa kami dianggap kayak pengikut sekte terlarang yang mau mendoktrin orang desa dengan kedok bahwa kami adalah mahasiswa yang sedang meneliti desa, yang tergabung dalam acara yang bernama Ekskursi. Terus Ekskursi ini sebenarnya adalah hasil dari kode-kode sulit yang dirangkai sedemikian rupa hingga menghasilkan kata Ekskursi. Yakali.

IMG_5332

Sepanjang penglihatan kami di kiri dan kanan itu sawah semua, seringnya. Kadang ada rumah warga. Jarak antara satu rumah warga dengan rumah warga yang lain itu agak jauh saat kami melewati daerah Cikadu. Sawahnya lebih luas jika dibandingkan dengan sawah yang berada di daerah Cilengsir. Kami benar-benar berada di alam bebas.

Kami sampai di pesantren pukul 16.39. Presisi sekali, waktunya! Iya dong, kan dari awal ekskursi saya selalu menulis timeline perjalanan di jurnal mini. Padahal awalnya iseng di bis, gara-gara bosen, terus malah keterusan.

IMG_5337 IMG_5339Yang berdiri pakai baju putih itu Kak Samir.

Narasumber yang kami tanyai bernama Pak Ali. Kami dipersilakan masuk ke rumahnya yang baru saja beliau tempati sepuluh hari yang lalu. Penduduk sekitar yang membuatkan rumah itu untuknya sebab keberadaan Pak Ali di sana itu cukup berpengaruh. Pak Ali adalah seorang guru yang ahli di pelajaran agama namun mengajar pelajaran IPS juga karena pesantren itu kekurangan tenaga pengajar. Sebenarnya Pak Ali harusnya belum dipanggil Pak, soalnya baru beres kuliah dan belum nikah juga. Kalau dipanggil Kak Ali, boleh juga tuh, tapi Kak Seto juga dipanggil Kak padahal udah paruh baya dan punya anak. Mungkin karena tebal rambutnya masih sama seperti saat ia muda.

IMG_5342

Kak Ali bercerita bahwa di desa Padamaju ini, untuk menjadi guru harus ada persetujuan dari tokoh masyarakat. Berarti, sebagus apa pun guru itu, kalau nggak dibolehin, ya udah. Terus, di daerah sini kadang ada orang tua yang janjian buat nikahin anaknya, kalau anaknya sama-sama suka, ya lanjut terus. Terus, eh, terus lagi, dari daerah sini, anak-anak yang lulus SMP banyak yang langsung kerja. Banyaknya sih ke pabrik tahu yang ada di kota Cianjur, soalnya ada bos besarnya yang berasal dari sini. Kekerabatannya erat ya, cinta tanah kelahiran, dan ingin memajukan sumber daya desa.

IMG_5346Kiri-kanan: Ubay, Christie, Parjo, Tedo, Pak Ali, Alvin, Jihan, Saya, Adit, Devina

Setelah berbincang-bincang agak lama dengan Kak Ali, Kak Ali memanggilkan seorang narasumber lagi, yaitu Pak Dai Muslimah, salah satu orang tua yang anaknya disekolahkan di pesantren ini.

IMG_5348

Beliau bercerita banyak tentang pernikahan di daerah sini. Nggak terlalu kental banget perjodohannya, nikah di sini udah lebih ke suka sama suka. Lalu, beliau juga menjelaskan bahwa orang di sekitar sini lebih suka untuk menikah dengan orang yang sekitar sini juga, “ngapain nikah sama orang yang jauh, yang dekat juga ada.” Simpel sekali! Beliau berkata bahwan nikah muda sudah mulai jarang. Ukuran perempuan dewasa itu umur 15 tahun, lulus SMP baru boleh nikah, soalnya ada wajib belajar 9 tahun. Setelah itu, baru harus buru-buru nikah. Kalau nggak nikah-nikah, misalnya udah 19 tahun, itu dibilangnya perawan tua. Mungkin karena ini, bibi saya yang dulu bekerja di rumah saya minta berhenti, soalnya disuruh nikah. Udah 20 tahun, kalau nggak salah. Kasihan kan, di desanya, di Tasikmalaya, diomongin dan dikatain perawan tua, jadi harus mengikuti adat istiadat yang berlaku. Beda halnya dengan perempuan, laki-laki itu tidak adaaturan harus cepet-cepet nikah. Mau nikahnya ntar-ntar pas 30 tahun juga nggak apa-apa.

Selain mengobrol tentang pernikahan, kami juga ngobrol tentang religi, tapi lebih ke arah mitos-mitos yang beredar. Kami mengunjungi salah satu tempat yang diceritakan, diantar oleh Pak Ali. Kami ke Pasir Kareta, yaitu sebuah gundukan tanah yang menyerupai bukit kecil, di belakang masjid pesantren, menghadap ke arah lembah yang cukup besar dan bersebrangan dengan curug yang ternyata adalah curug yang direkomendasikan oleh tourguide cilik (baca part 1).

IMG_5349

Katanya, di Pasir Kareta ini, banyak warga yang suka denger ada suara kereta api berjalan. Suaranya pun jelas! Gejes gejes, gejes gejes. Padahal nggak ada rel kereta yang melintasi desa ini. Hih. Lalu, kami dikasih liat ada bagian Pasir Kareta ini yang agak ambles. Katanya eh katanya, itu tuh dulunya bunker tempat rakyat bersembunyi pas lagi zaman pemberontakan DI/TII. Ketauan, terus ditembakin orang-orang yang lagi sembunyinya, terus dibakar! Kalau gak salah inget sih gitu, gak dicatet di jurnal sih bagian ini, soalnya saya takut sendiri.

IMG_5354

Bayangkan, magrib-magrib yang katanya waktunya hantu-hantu bergentayangan menuju posnya masing-masing, kami menginjak Pasir Kareta dan menghadap ke curug yang biasanya dihuni banyak kuntilanak, dan di bawah kami adalah tempat bekas pembunuhan, dan baru pertama kali ke sini, kalau takut dan kabur malah bakalan nyasar ke sawah atau ke hutan, dan saya sangat penakut, dan akhirnya saya nggak tau cara menyelesaikan kalimat ini, dan… ah, saya nggak tahu harus gimana lagi deh.

IMG_5357

Saya dimintai Tedo untuk mengambil gambar Pasir Kareta dan tempat pembunuhan, terus saya iseng foto curug. Sebenernya sih pas saya masih di sana, saya gak kepikiran apa-apa, masih tenang-tenang aja, takutnya itu pas sekarang saya ngetik post ini. Kok bisa-bisanya saya berani ikut ke Pasir Kareta, itu aja sih.

Oh iya, ada hal penting yang kelupaan ditulis. Saat kami berangkat ke pesantren, ada empat teman kami dari tadi pagi pergi ke kecamatan, belum sampai rumah juga sampai magrib ini. Sekitar jam tiga, ada salah seorang dari mereka memberitahu kami lewat bbm bahwa mereka akan pergi ke curug. Nggak tau deh curug yang di mana. Yang pergi ke curug ini, empat-empatnya cewek alias perempuan! Duh. Mana udah gitu mereka tiba-tiba gak bisa dihubungi. Yang bawa handphone cuma satu orang kalau gak salah.

Saat kami sedang di pesantren, saya sudah mencoba mengontak teman yang standby di rumah, yaitu Evita, nanyain mereka sudah sampai belum. Yang standby di rumah tiga lagi sih, Gorija, Beni, dan Ngabdur. Tapi, saya nelfon Evita soalnya, soalnya, hmm gak ada alasan khusus sih.

Abis selesai lihat-lihat, kami pun bersiap balik lagi ke rumah, buru-buru, harus nyari yang belum pada pulang itu. Beneran panik, asli, udah magrib soalnya. Oh iya nih, selanjutnya Evita nelfon dan memberi tahu kabar baik, Erina dan Audya udah sampai rumah. Mereka berdua naik ojek. Kabar buruknya adalah… Calista dan Sisi, ojeknya pergi lebih duluan tapi mereka masih belum sampe rumah! Masa iya diculik? Gak lucu dong, diculik sama mang ojek di desa. Nggak di desa deh, di kota juga nggak lucu. Di mana-mana diculik itu nggak ada yang lucu sih.

Bergegas, formasi barisan kali ini, saya dan Parjo di depan, Tedo dan Christie, Ubay dan Jihan, dan paling belakang itu Kak Samir, Devina, Adit, dan Alvin. Hari sudah berubah menjadi malam. Senter pun dinyalakan. Sialnya, senter saya yang beli di Indomaret ini nggak terlalu terang. Remang-remang. Kuning remang-remang. Not reliable lah. Untung ada senter Tedo, putih menyilaukan.

Kami sudah berjalan sekitar sepuluh menit. Langkah saya dan Parjo agak cepat, soalnya banyak turunan, susah pelan-pelan. Di jalanan datar juga agak cepat sih, soalnya ingin cepat sampai rumah. Mana di luar dingin. Gerimis yang turun dari sore tadi belum saja berhenti. Kami pun tiba di turunan paling curam yang ada di perjalanan ini. Banyak pohon tinggi di kanan dan kiri. Di hadapan kami sawah-sawah terbentang dalam gelap. Kami berjalan di antara sawah-sawah, sunyi. Sesaat, Tedo tersadar… mana yang lain?

Perjalanan kami terhenti. Menunggui kawan yang tak kunjung menghampiri kami. Kami pun berbalik arah, menyusuri lagi tanjakan curam yang tak mau saya lewati lagi. Nihil. Tak ada seorang pun di sana. Tidak ada tanda-tanda.

Kami terpisah. Mungkin kami, atau mereka yang tersesat. Tetapi, kalau pun mereka tersesat, Tedo yakin mereka aman karena Kak Samir bersama mereka. Kami berdoa, semoga Tuhan bersama dengan kami.

Saya, Parjo, Tedo, dan Christie, kembali menyusuri jalan pulang. Setidaknya, kami kira ini adalah jalan pulang.

Awalnya, semua masih terasa familiar. Ingatan kami terpaut dengan apa yang kami obrolkan tadi sore di jalan yang kami lewati. “Oh bener kok aku yakin kita lewat sini, tadi kan Dhila di sini nanya ‘kita udah seberapanya perjalanan nih, Ted?'”, ujar Tedo.

Lama-kelamaan, tak ada lagi pemandangan yang familiar bagi kami. Kami baru melihatnya pertama kali. Malam ini. Kecemasan dan ketakutan saya meningkat. Tapi, pingsan di sini sih gak lucu. Bangun-bangun bisa-bisa bukan di sini lagi. Bukan di dunia sini lagi. Ah, khayalan saya terlalu jauh, nampaknya.

Beruntungnya, kami menemukan kios yang menyala. Masih buka. Di dalamnya ada orang. Benar-benar orang. “Punten, Kang, jalan ke Kantor Desa (patokan kami untuk pulang), ke mana ya, Kang?”, tanya Tedo. “Kantor Desa? Wah, jauh muternya, di sebelah sana (menunjuk ke arah kami datang)”, ujar salah satu pemuda. “Kalau ke sebelah sana mah jalannya jauh, harusnya tadi belok pas di pos ronda yang di sebelah kanan, kira-kira 2 tanjakan dari sini.” Ya, 2 tanjakan. Dua tanjakan di desa itu, gak bisa dibilang deket. Saya ingatkan sekali lagi, ada perbedaan persepsi jarak antara masyarakat yang tinggal di desa dan masyarakat yang tinggal di kota. Jauhnya kota, adalah dekatnya desa.

Awalnya, kami tidak percaya. Kami tetap saja meneruskan jalan ke arah yang kami yakini, berlawanan dengan arah yang diberitahu oleh para pemuda di kios tadi.

Sudah agak jauh, tiba-tiba Tedo nggak merasa yakin dengan jalan yang kami pilih. Sawah yang kami lihat selama perjalanan kami ke pesantren tidak sebanyak ini. Aduh, kenapa tadi nggak nurut aja ya sama orang sini. Habisnya, wajah mereka tidak menandakan mereka yakin dengan jawaban mereka sendiri.

Tiba-tiba handphone saya berdering. Dari Evita. “Kak Samir dan rombongannya sudah dampe rumah nih, udah ketemu sama Callista dan Sisi di perjalanan, mereka udah selamat deh sampe rumah, kalian di mana?” Kami nyasar. Ya, ya, ya… YAAMPUN APA YANG HARUS KUPERBUAT?! Tadinya di barisan paling depan, sekarang paling belakangan sampe rumah, dan pake acara nyasar. Masih lebih rame nonton acara sunatan massal deh, liat anak jerit-jerit. Haft.

Rumah-rumah yang kami lewati masih saja sepi. Tidak ada yang keluar rumah magrib-magrib gini. Semua pintunya ditutup. Tapi, tidak terdengar ada aktivitas manusia di dalam rumah-rumah ini. Yang terdengar hanya suara dan langkah kaki kami. Huhu, pengen nangis. Pengen sekali.

Biar nggak salah lagi, kami bertanya lebih dalam pada pemuda-pemuda dalam kios tadi, lagi. Setelah mendapat arahan yang cukup jelas, kami mulai berjalan, ke arah kami datang saat menemukan kios ini, lagi.

Duh, mana licinnya nggak nyantai. Gelapnya nggak nyantai. Jumlah pohonnya nggak nyantai. Sepinya nggak nyantai. Tedo dan Christie juga gandengannya nggak nyantai. Cie.

Ketakutan ini diperparah dengan perkataan Tedo, “Dhil… jangan nyenter-nyenter ke arah atas, ya (ke arah pohon-pohon)” AAAARGGGGHHHHH!!!! MAU BOBO DI RUMAH AJA DI KASUR GAK MAU SEREM-SEREMAN DI ANTAH BERANTAH!

Mana biasanya di semua film hantu yang saya tonton (bisa dihitung dalam hitungan jari), pemerannya itu satu-satu ngilang, entah itu tersesat, diapa-apain hantu, atau mati. Saya lagi ekskursi, nggak lagi jadi pemeran film hantu di tv.

Setelah banyak hutan dan sawah, kami akhirnya rumah penduduk, berjejer gitu. Depan-depanan sama hutan sih. Tiba-tiba, ada yang setengah berteriak, “Pak!”, lalu suara pintu ditutup. MEN! APAAN ITU MEN? Saya yakin itu suara perempuan. Perempuannya yang masih satu dunia dengan saya. Kami memutuskan untuk menghampiri asal suara tersebut, yaitu sebuah rumah kayu yang di depannya tertempel poster himbauan kesehatan. “Permisi, permisi, Bu, punten, mau nanya” ujar Tedo. Dari tadi Tedo terus yang ngomong, ya. Benar-benar calon suami yang pemberani untuk mengayomi keluarganya, apalagi mengayomi Christie.

Sekonyong-konyong pintu itu terbuka dan dari baliknya muncul satu keluarga lengkap. Ada bapak, ibu, dan dua anak. Hm. Keluarga yang patuh dengan program KB. Kami pun bertanya, ke mana kami harus berjalan? “Ini, Bu, Pak, kami mau ke rumah Pak Syahria (rumah hostfam), yang di Cilengsir, ke arah mana ya?” Salah satu anak pun nyeletuk, dan celetukannya bikin saya terjatuh secara psikologis, “Hah, jauh banget!” Yak, udah nyasar, dan nyasarnya jauh kata orang desanya juga. Mereka pun memberi tahu jalan yang benar pada kami. Setelah itu, mereka mengasihani kami karena nyasar dan harus berjalan di kegelapan. Kami disuruh masuk dulu, minum dulu barangkali. Nahloh, waspada dulu deh. Udah malem masalahnya. Kalau rumah itu ternyata bukan rumah, dan orang itu belum tentu orang, gimana? Nggak deng, takut kemaleman dan tidak mau merepotkan.

Kami melanjutkan lagi perjalanan kami. Kami rasa dua tanjakan itu sudah kami lewati. Berarti, bentar lagi ada pos ronda, di mana kah dia?

Ketemu satu pos ronda, tapi kok pas liat ke kanan, kayak gak ada jalan? Sempit gitu. Bukan ini sih, fix. Kami jalan lagi. Beberapa detik kemudian, di depan ada cahaya yang menyilaukan, kami pikir ini lah akhir dari hidup kami. Ternyata bukan. Ada motor mau lewat. Sekalian nanya jalan lagi nih, kesempatan. “Pak, pak, permisi mau nanya, Pak..” Motornya berhenti. “Loh, ini kan yang tadi!” ujar seseorang yang mengendarai motor, yang lain dan tak bukan adalah Pak Ali. Ternyata, seseorang yang dibonceng Pak Ali adalah Pak Dai. Dua narasumber pesantren kami, lagi naik motor mau pergi ke kantor desa. Mereka ini mungkin orang kiriman Tuhan untuk membantu kami dari kesulitan.

“Itu harusnya belok di situ” kata Pak Ali sambil menunjuk pos ronda yang tadi kami underestimate-kan untuk menjadi patokan tempat kami belok.

Malam ini kami belajar, jangan berburuk sangka terlebih dahulu, siapa tahu memang itu yang benar.

Setelah sedikit berkeluh kesah tentang kejadian yang sedang kami alami pada dua makhluk kiriman Tuhan ini, kami pun berpisah dan mengambil jalan kami masing-masing.

Jalanan setapak ini lumayan kecil, hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan motor. Di sepanjang jalanan ini, pohon-pohon tinggi berjajar di kanan dan kiri. Pepohonannya lebih padat dari jalan yang sebelumnya kami lewati. Sudah beberapa menit berjalan dan kami masih belum menemukan rumah penduduk.

Tak lama kemudian, ada pesawahan dan ada rumah. Rumahnya lumayan bagus, terbuat dari semen, ya mirip-mirip sama rumah kecil yang ada di perkotaan. Ada garasi, halaman, dan dipagari.

Kami bertanya lagi di sini. Lebih tepatnya memaksa untuk bertanya. Kami masuk ke halaman rumah, dan mengetuk pintu rumah ini, sambil bilang “Bu, punten, bu, pak!”

Ada seseorang perempuan, tepatnya ibu-ibu mengintip kami dari balik tirai jendela yang terletak di sebelah pintu. Dia melihat kami takut-takut. “Bu, punten, mau nanya?”, “Ya?”, “Jalanan ke SD Pamoyanan (patokan tempat yang kami ingat) ke mana, ya?” Ibu ini menunjuk ke luar rumah dari balik jendela. Dia masih ragu untuk membukakan pintu untuk berbicara langsung dengan kami. Tapi, karena kami nggak ngerti-ngerti dengan arahan darinya, ibu ini pun akhirnya membuka pintu dan dengan wajah masih agak was-was, menjelaskan arah jalan pada kami. Sepertinya ibu ini juga menjelaskannya dengan terburu-buru, ingin cepat-cepat tutup pintu. Mungkin ada sinetron yang lagi rame-ramenya, atau risih dengan adanya kami bertanya malam-malam begini. Maaf, ya, bu, kita sih pinginnya juga nggak nyasar.

IMG_5608

Singkat cerita, kami menemukan SD Pamoyanan, hore! Tapi kami muncul dari bagian belakang SD.

Adzan isya berkumandang. Kali ini, kami sudah bisa berjalan dengan perasaan lega. We’re back on track. Kalau di jalanan Pamoyanan ini sih, saya sudah hafal, sambil merem juga bisa, paling salah-salah cuma nyemplung ke sawah.

Kami pun tiba di belokan ke arah Cilengsir yang ada warungnya. Saat mau belok, ternyata di warung itu ada dua sosok pria, Ubay dan Adit! Kata mereka, kondisi di rumah lagi runyam-runyamnya. Kak Samir ditelfonin Kak Bayu, Pak Awi, dan pokoknya desa-desa lain pada tau kalau Calista dan Sisi tadinya ilang, entah nyebar dari mana deh. Terus di rumah, Audya lagi pucat pasi, soalnya ada beberapa foto dia di curug ternyata ada yang “ikutan” di foto. MEN!

Speechless.