Tentang Menjadi Dewasa (Bagian 1): Berkelana dan Berbaur dengan Semesta

Kadang, kalau melewati momen tertentu, ada rasa-rasa harus melakukan sesuatu dengan cara yang baru. Yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau yang lebih baik dari biasanya. Seperti, menantang diri untuk lebih dewasa.

Jadi, sebelum tulisan ini dibuat, sebenarnya saya sedang menulis tentang definisi menjadi dewasa. Namun, kok susah menulisnya. Sepertinya, pengalaman saya harus diperkaya.

Bulan ini, saya berulang tahun ke-25. Kala itu, saya berada di Jakarta dalam rangka berkarya. Lalu, saat hendak beli tiket kereta untuk pulang ke Bandung, saya merenung. Seketika, saya beli tiket pesawat ke Yogyakarta. Yang paling murah tentunya, Air Asia. Buat balik ke Jakartanya, saya mau naik dari Kulon Progo karena penasaran dengan bandara barunya, Yogyakarta International Airport. Semua keputusan yang tiba-tiba ini diinspirasi dari kata teman-teman yang bilang bahwa berkelana jauh sendirian dapat mendewasakan seseorang. 

Mungkin ada dari kamu yang menganggap spontanitas adalah kegegabahan karena tidak merencanakan sesuatu secara matang sebelum menentukan pilihan. Namun, saya melihat spontanitas bisa melatih saya lebih siap di segala keadaan agar dapat membuat strategi dan menemukan solusi dari segala kesulitan. Ini bisa dibilang ngeles, tapi kamu pasti merasa yang saya bilang ada benarnya kan?

Setelah teman dan keluarga saya kaget dengan rencana perjalanan saya, saya pun langsung susun jadwal kegiatan dan pertemuan selama di Yogyakarta dan Kulon Progo untuk meyakinkan mereka bahwa saya (sepertinya) tahu benar apa yang akan saya lakukan. Iya, keyakinan itu harus dirasionalisasikan, gak bisa cuma modal perasaan. Supaya gak terjerumus ke hal-hal yang ga diinginkan. Walau hal-hal yang gak diinginkan terkadang mengasyikkan, tapi ya, riskan.

Kalau berkelana Yogyakarta, saya yakin di sana akan aman-aman saja selain karena sudah beberapa kali ke sana, juga karena sebagian besar daerahnya terjangkau sinyal dan transportasi umum + abang ojek online. Yang bikin degdegan ini Kulon Progo. 

Saya baru pernah sekali ke Kulon Progo pada bulan Maret lalu. Selama 3 hari, saya dan beberapa teman di sana untuk sebuah perencanaan kegiatan pemberdayaan anak muda. Berdasarkan pengalaman itu, saya tahu daerah kotanya aman untuk transportasi on-demandnya. Namun, daerah-daerah yang saya mau kunjungi nanti itu sekitar perbukitan dan juga pantai selatan yang keberadaan sinyalnya patut dipertanyakan. Takutnya bisa pergi tapi gak bisa pulang hahaha.

Untungnya, saya dipertemukan Tuhan dengan manusia-manusia yang penuh dengan kebaikan dan sepertinya gak tegaan melihat saya yang kebingungan. Mereka adalah Putri dan Pak Win, manusia yang baru kukenal Maret lalu dalam beberapa jam pertemuan. 

Putri adalah pegawai dari perusahaan yang berkolaborasi dengan saya dan Icaq untuk kegiatan pemberdayaan anak muda di Kulon Progo. Putri yang baik hati mengajakku untuk menginap di rumahnya, sahur bersama keluarganya, hingga keliling kota bersama teman-temannya. 

Nah, Pak Win adalah Direktur Perusahaan Umum Daerah Kulon Progo yang sebelumnya adalah Kepala Desa Banjaroya, daerah yang terkenal dengan durian menoreh, waduk mini di atas gunung, dan Goa Maria Sendangsono. Beliau tahu betul semua sejarah Kulon Progo. Dan, beliau juga tahu betul saya datang dengan plonga plongo. Beruntung sekali saya, kemarin beliau meluangkan waktu untuk mengajak saya berkeliling dan menjelaskan berbagai macam hal yang saya pertanyakan, termasuk tentang anatomi atap joglo!

Nah, sebenarnya, banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan selama perjalanan ini yang membuat saya lebih paham apa yang dilakukan untuk mendewasakan diri. Namun, tak semua bisa saya ceritakan di sini secara tertulis karena bersifat pribadi dan mungkin kamu pun tak akan paham kecuali mengalaminya sendiri.

Maka dari itu, saya ceritakan secara visual saja untuk diri saya di masa depan agar memori ini tak terlupakan karena dalam sebuah visual terdapat sejuta makna yang mungkin tak dapat diungkapkan kata-kata. Untukmu, cerita visual ini kupersembahkan supaya terpancing untuk berkeliling juga ke penjuru Indonesia. Entah itu dalam rangka liburan atau pun mencari arti kehidupan~

N.B. Iya, tulisan tentang menjadi dewasa ini akan ada part 2-nya. Masih dalam proses penulisan karena masih banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang butuh jawaban. Sedang saya cari juga jawabannya ke manusia-manusia yang berpengalaman dalam menjalani kehidupan.

Sekelebat Pikiran Saat Datang ke Undangan Nikahan

Merayakan Euforia Sebagai Masyarakat Asia

Sebagai masyarakat Asia yang suportif, Mama, Faiz, dan saya telah menunaikan jalan-jalan ke Asian Fest yang merupakan bagian dari rangkaian keseruan Asian Games ke-18. Yeay!

Ini semua berawal dari Selasa kemarin, saat saya nyusul Mama dan Faiz ke Jakarta dalam rangka menghore-hore Faiz The Krucil yang karyanya terpilih buat masuk ke Pameran Warna-Warna dan saya ingin jadi kakak yang suportif. Rencananya sih mau pergi-pulang hari itu juga. Tapi, Mama nge-chat di grup keluarga, pengen merasakan euforia Asian Games di Senayan. Ada Papa di grup itu. “Kalo Dhila mau. Mumpung udah di jkt,” tulis Mama. “Kapan lagi ada AG di Indo,” lanjutnya. Maka dari itu, saya pun tergerak untuk jadi anggota keluarga yang suportif pada mimpinya Mama saya. Jadilah kami bertiga tiba di Gelora Bung Karno pada Rabu, jam sepuluh pagi.

20180829_111940

Pose Faiz: Krucil Sang Mentalis

20180829_102405

Kami beli tiket masuk Festival ke abang-abang panitia di bawah pohon rindang depan Hotel Atlet Century Senayan, harganya sepuluh ribu rupiah. Saat masuk, ada pemeriksaan gitu. Ternyata gak boleh bawa rokok. Untung saya gak bawa rokok. Faiz juga gak saya pernah bolehin merokok. Kalau Mama sih, lebih suka roti untuk jadi teman kopinya, jadi gak butuh rokok. Intinya, kami bertiga bebas rokok.

Saat masuk ke sana, belum terlalu banyak stan yang buka. Tapi saya tidak kecewa. Karena kalau udah pada buka pun, belum tentu saya beli apa-apa. Jadi mending mas dan mba-nya beristirahat. Jakarta panas dan mereka sudah berhari-hari di tenda.

20180829_105449

Tak lama, Mama langsung bergerak cepat dan mengajak Faiz turut serta berpose di beberapa tempat yang menurutnya “instagrammable”. Memang, siapa yang akan memfotokan? Rupanya itu tugas saya, saudara-saudara sekalian yang baik budiman! Untung saja saya sudah terbiasa jadi tim dokumentasi sejak dulu kuliah. Jadi, saya sudah cukup berpengalaman memfoto objek yang lincah dan hampir kasat mata, seperti mereka berdua.

Nah, di postingan ini tuh sebenernya saya cuma pengen mengekalkan momen yang saya abadikan selama di Asian Fest aja sih. Perlu diketahui bersama sebelum melanjutkan membaca, di setiap fotonya akan ada wajah Mama dan Faiz. Jadi, buat yang punya ekspektasi lebih dari pada hal di atas, silakan sudahi bacanya di sini. Tinggalkan saja saya sendiri dengan kenangan-kenangan ini. Hahasyik.

20180829_104625

Pose Faiz dan Mama: Patung selamat datang.

20180829_103132

Pose foto di atas ini menurut saya memberi manfaat banget bagi orang lain biar ga kesasar. Tidak hanya bergaya, tetapi juga menunjukkan peta area.

20180829_105613

Di setiap zona, baik Bhin-bhin, Atung, maupun Kaka, ada bajaj bertampang mereka. Wah, kalau semua bajaj di Jakarta desainnya super wow gini, keren sih! Ya gak, Cu? (Colek Julianita Limbajaya, manusia artsy, Creative Lead-nya Kreavi. Keluarganya merupakan salah satu pengusaha bajaj di Jakarta gitu!)

20180829_103252

Baru ngeh kalau nama-nama maskot Asian Games itu berasal dari “Bhinneka Tunggal Ika”. Hahaha, Dhila ke mana aja sih.

20180829_110145

Ini antrean masuk ke Asian Games Superstore. Selalu ada antrean panjang di sini. Bahkan saat sedang tutup istirahat dan akan dibuka lagi jam 4, sudah ada yang mengantre dari jam setengah 3.

20180829_105317
Jangan duduk makan siang di sini. Nanti kamu jadi telor ceplok.

Harusnya di gambar atas tuh ada tulisan: dilakukan oleh profesional, jangan tiru ini di rumah.

20180829_105859
Foto di atas ini tingkat kesulitannya cukup tinggi dan cukup tiba-tiba. Saat kami sedang berjalan, mama berseru, “Dhil! Itu ada Transjakarta yang ada Asian Gamesnya lewat sini! Mau dong pas bisnya ngelewat belakang kita!” Lalu berpose. Karena saya ada pengalaman jadi atlet softball (pernah ikut Kejurnas Junior dua kali loh) posisi di shortstop atau catcher, gerak tangan saya cepat! Ambil hape di saku dan ckrek! Sempurna.

20180829_141107

Faiz terlihat sangat gembira naik Transjakarta dan berputar-putar dalam area Gelora Bung Karno. Oh iya, di dalam itu sebenernya ada AC-nya, tapi entah kenapa Faiz tuh kipas-kipas.

Akhir kata, terima kasih banyak atas ajakannya datang ke sini Mama! Menyenangkan sekali bisa jalan-jalan bersama.

Filosofi Bola Ubi

Aku selalu ingat gigitan bola ubi pertamaku. Hangat, nikmat.

Selang waktu berlalu, aku rindu. Tapi tak rela kalau harus bayar sepuluh ribu. Terlintas dalam pikiranku, bisa membuatnya sendiri sepertinya seru.

Continue reading “Filosofi Bola Ubi”

Pagi dan Konsekuensi

Terbangun. Kurasa-rasa, dingin dari jempol kaki hingga ke ubun-ubun. Kuingat-ingat, laki-laki, perempuan, perempuan, perempuan, perempuan, dan lalu aku, di ujung ruangan. Oh, kusedang menginap bersama teman.

Continue reading “Pagi dan Konsekuensi”