Banyak Bicara

Ada yang bilang, “kurangi bicara, perbanyak berkarya.”

Menurutku, pernyataan itu cocok jika kamu tergabung dalam sebuah institusi atau organisasi yang sudah punya divisi pemasaran atau hubungan masyarakat. Namun, beda halnya jika kamu tergabung dalam sebuah tim kecil, bahkan jika anggota tim kamu hanyalah kamu dan kesendirianmu.

Kalau karyamu minim kamu bicarakan, atau bahkan tidak dipublikasikan, sampai bulukan pun itu karya ga akan kemana-mana, bakalan tetap di pojok ruangan.

Kalau kamu berencana membuat karya yang butuh kerja sama dengan banyak orang, mungkin kamu harus “lebih banyak bicara daripada berkarya”. Karena penting bagimu untuk memastikan orang-orang sepemahaman dalam mengerjakan sebuah karya itu bersama-sama.

Oke, intinya yang mau kusampaikan adalah, sepandai-pandainya orang dalam berkarya, akan lebih oke, kalau dia pandai dalam berbicara juga**. Konteks kata “bicara” yang kubicarakan dalam pembicaraan kita ini adalah kemampuan untuk mengomunikasikan sebuah maksud agar dapat dimengerti lawan bicara (wuih, bicaraception). Syukur-syukur kalau caramu berbicara bisa sampai mengambil hati si dia.

Saya bukan orang yang gemar bicara. Tapi selama setahun ini, saya terpaksa harus bisa berbicara di hadapan banyak orang. Mulai dari pemaparan program, penyampaian materi lokakarya, ngasi masukan sebagai mentor, bahkan sampai ngasi penilaian sebagai juri.

Mungkin kamu bertanya (atau saya kege-eran pengen ditanya): “Apakah emang itu udah direncanakan, Dhil? Bikin milestone yang harus dicapai buat ngomong di acara-acara gitu?” Nggak siiih, mana ada! Hahaha. Saya orang yang ga suka dan ga punya perencanaan secara detil ini dan itu. Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu niat.


Pada 6 tahun lalu saya pernah nulis di sticky note, ditempel di meja belajar: “Dhila is going to be a master in public speaking!” Yang foto di sebelah kiri itu mentor tim saya waktu ikutan lomba Unilever Future Leaders’ League yang menyadarkan saya kalau kemampuan public speaking tuh penting. Jago ngide aja ga cukup.

Sisanya, ya, saya ikuti rencana Tuhan saja, huehehe. Pokoknya, jika suatu saat muncul kesempatannya, ya, dicoba sebaik-baiknya.

Lalu, untuk bisa dapat kesempatannya itu gimana? Ga mungkin tiba-tiba dong, pasti ada sebabnya ga sih? Hmmm, yang saya yakini, karya dan kerja keras kita itu bisa berbicara. Balik lagi pada fakta bahwa saya bukan tipe yang gemar bicara, berarti, yang bikin orang mau ngajakin saya ngomong di acaranya itu karena karya yang saya hasilkan. Sepertinya sih gitu. Rasanya kayak, “tuh kamu kan udah bikin karya A, sekarang tanggung jawab tuh jelasin ke orang maksudnya gimana.”

Dari sana, saya mulai latihan deh. Biasanya, saya tulis poin-poin utama yang mau disampaikan dan harus orang pahami. Habis itu, nulis poin-poin pendukungnya. Jika pemaparannya pakai slide presentasi, saya bikin skrip tuh di masing-masing halaman. Setelahnya, saya cari teman yang mau mendengarkan saya latihan untuk kasi masukan. Penting tuh, biar kita gak kepedean kalau semua orang akan langsung ngerti dengan apa yang kita sampaikan.

Nah, yang kupelajari selama latihan intensif dalam setahun ini, untuk berbicara pada banyak orang ataupun seseorang, formulanya sama, yaitu: kenali audiens, kuasai materi, dan baca situasi.

  1. Kenali audiens/lawan bicaramu. Siapa mereka? Apa kebutuhan dan keinginan mereka? Sejauh apa pengetahuan mereka tentang materi yang akan kau sampaikan?
  2. Kuasai materi. Pahami konteks dan konten.
  3. Baca situasi, adaptasi! Saat mendengarkanmu berbicara, mereka melakukan sebuah investasi dengan hal yang berharga dalam hidup mereka: waktu. Jangan bertele-tele. Jangan membosankan. Jangan menuntut untuk dimengerti kalau kamu nggak mengerti situasi orang lain #eh.

Gitu kira-kira curhatan pembelajaranku selama setahun ini (tentunya akumulasi pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya sih). Perkembangan yang cukup baik dari yang asalnya dulu, pas SMP, saya pernah ga sadar ngerobek-robek kertas pas baca puisi saking degdegannya. Terus, pernah ga lolos masuk final sebuah lomba walau idenya bagus (dapet penghargaan buat idenya loh) hanya karena cara presentasinya gak mendukung. Dan sekarang, cukup bisa beradaptasi untuk berbicara dengan audiens yang beragam jenis. Dari anak SMA, ibu-ibu rumah tangga, hingga orang-orang pemerintahan.

Akhir kata, saya imbau (ealah apa si) teman-teman sekalian agar selalu berkarya dan jangan lupa latihan bicara agar bisa memicu lebih banyak orang untuk berkarya bersama-sama!

***

Eh iya, buat nanti dipamerin ke anak cucu, saya mau abadikan pengalaman tahun 2019 dalam berlatih bicara di sini ah. Males soalnya kalau harus cerita diulang-ulang, mendingan mereka baca sendiri, kalau ada yang ga ngerti, baru nanya wkwkwkwkwk~ (Emang dasar saya lebih suka penyampaian tulisan daripada lisan ya hahah!)

Januari

Maret

April

Juli

Agustus

View this post on Instagram

1) Sungguh sebuah pengalaman berharga bisa sharing dengan Bapak Ibu yang tergabung di #PahlawanEkonomi, sebuah program pemberdayaan UMKM dari Pemerintah Kota Surabaya! . 2) Tema materi yang kubawakan adalah "Membangun Komunikasi: Dari Jari, Turun ke Hati". Bahas tentang gimana komunikasi via tulisan yang baik itu sangat berperan dalam meningkatkan kepuasan pengalaman membeli barang secara online. . 3) Lagi ngasi liat contoh chat-chat #dramaOLshop antara penjual dan pembeli. Sebuah cerminan nyata realita komunikasi yang mungkin setiap penjual online hadapi. . 4) Cara terbaik memastikan orang itu memerhatikan adalah dengan melemparkan becandaan sesekali. Eh, bentar.. kalau misalnya ngga ketawa kan bisa aja karena gak merhatiin, tapi karena kita gak lucu. Berarti…berarti… kesimpulannya apa ya… Oh, ku ada potensi jadi komika standup comedy. Soalnya pada sering ketawanya. . 5) Ini terharu banget siiih melihat apa yang kubawakan tuh dicatat! Kayak… kayak… waaah… pokoknya ini momen yang priceless deh. Foto ini bakalan jadi motivasi eksternal tiap kungegodok setiap materi! Makasih banget @ehfergie udah mengabadikan setiap momen dalam gambaaar~ . 6) Nonton Om @dennisadishwara mendemonstrasikan cara ngedit foto menggunakan Adobe Lightroom. . 7) Makasih super uwakeh puol untuk Bang @nicho_lintang yang udah ngajakin ku buat terlibat dalam pelatihan ini, sungguh pengalaman yang mengasyikkan dan bisa diceritakan ke anak dan cucu! . Minggu, 28 Juli 2019. Surabaya. #Dayamaya

A post shared by Fadhila Hasna Athaya (@dhila.fz) on

September

Jadi mentor di Startup Weekend Manado – Women Empowerment

Oktober

Jadi mentor di Startup Weekend BSD – Smart City
Workshop Persiapan Riset Dayamaya

November

Jadi mentor di Startup Weekend Manado – Blue Economy

Desember

Jadi juri di Startup Weekend Lombok

** Kalimat saya yang ini tuh berasa kalimat orang tua yang ngomong ke anaknya, “wah iya kamu jago menghitung. Coba latihan pencak silat, musik, dan programming juga ya. Bagus tuh kalau bisa.” Gapapa lah ya, kan nanti saya juga jadi orang tua hahahahahahaha.

Tentang Menjadi Dewasa (Bagian 2): Matang dan Terhidang

Jika menjadi dewasa ada resepnya, apakah dengan pasti semua orang dapat tumbuh sebagaimana mestinya?

Bagiku, rasanya tidak begitu. Pernah beberapa kali dalam hidupku kucoba memasak sebuah hidangan berdasarkan resep di website acuan para ibu-ibu. Walau sudah kuikuti segala tata cara hingga raut wajah sang koki saat mengolah masakannya, tetap saja, masakanku tak seenak ekspektasiku.

Pernah ku berpikir kalau resepnya itu tipu-tipu. Namun, kata temanku, masakanku yang tidak enak itu ya hasil dari ketidakmampuanku. Kalau dalam langkah di resepnya tertulis “tambahkan bahan XXX secukupnya” dan masakanku gagal, berarti salahnya ada padaku yang tak dapat menakar arti “cukup”.

Bila kamu berpendapat sama sepertiku bahwa resep masakan adalah sebuah hal yang harus pasti takarannya, kita berdua tidak sepenuhnya benar. Beda daerah, beda lidahnya. Daging rendang yang menurutmu sangat lezat, bisa jadi menurutku terlalu pedas sampai buat ku mengumpat.

Namun, karena pendapat kita tadi pun tidak sepenuhnya salah, berarti ada kemungkinan bahwa menjadi dewasa dapat dibuat resepnya. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Mari kita coba-coba.

Pertama: tentukan masakan apa yang ingin dimasak dan bagi siapa masakan itu dihidangkan.

Sebagian darimu mungkin akan merasa heran dengan bagian akhir kalimat barusan. Oke lah, sebelumnya kita sepakat kalau selera masakan orang berbeda-beda, sehingga resep masakan itu gak harus saklek takaran bahannya. Tapi, apakah iya dalam konteks pola pikir dan sikap dewasa itu kita harus mempertimbangkan dengan siapa kita akan bertatap muka?

Menurutku sih iya, karena kita hidup di bumi bersama-sama. Hatchi si lebah yang katanya sebatang kara aja tetep aja ada temennya kan? Maka dari itu, tindakan seseorang dapat memengaruhi tindakan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagiku, semakin dewasa seseorang, semakin ia dapat mengerti situasi dan mampu menempatkan diri sesuai kebutuhan. Ini yang kumaksud dengan menakar. Tidak semua situasi harus dipukul rata dengan sikap dewasa kita. Pandai-pandai lah beradaptasi, supaya gak basi.

Kedua: tentukan bahan masakan yang harus digunakan.

Misalnya kamu mau bikin Cah Brokoli, berarti ya harus punya brokoli.

Oh iya, saat menulis poin yang ini, kuberbincang terlebih dulu beberapa manusia yang tingkat dewasanya kurasa sudah senior. Menurut mereka, beberapa bahan yang harus ada dalam menjadi dewasa adalah: tanggung jawab, mandiri, kontrol diri. Ketiga hal itu yang paling menjadi pembeda antara yang anak-anak dan orang dewasa.

1. Tanggung jawab

Tanggung jawab: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dan sebagainya) (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Kemarin ini, saat sedang di Kulon Progo, kucerita pada Pak Win tentang kegelisahanku dalam merintis project yang kujalani beberapa bulan terakhir. “Berani menulis, harus berani juga melaksanakan dan menyelesaikan,” ujar Pak Win padaku yang beliau tahu bahwa sebagian besar pekerjaanku dulu adalah membuat konsep dan arahan. Pekerjaanku yang itu adalah zona nyamanku. Pelaksanaan dan penyelesaian adalah tantangan terbesarku.

Foto: Waktu pertama ke Kulon Progo, rapat sama Pak Bupati dan jajaran dinasnya. Pak Win itu yang di sebelahku itu loo. Beliau adalah Direktur Perusahaan Umum Daerah Kulon Progo.

Membawa obrolan ini ke konteks yang lebih luas, tidak hanya dalam pekerjaan, tetapi juga dalam berkehidupan, membuat kakiku lemas. Ku tersadar, semua yang kubaca dalam berbagai buku pengembangan diri tidak akan berarti apa-apa jika tidak kucoba sendiri. Paham teori tak akan berarti jika tidak bisa dieksekusi.

Untuk dapat mengeksekusi, butuh rasa tanggung jawab yang seringnya harus kamu emban sendiri, gak bisa dibagi-bagi. Kecuali tanggung jawab untuk menghabiskan makanan yang dipesan, itu sih tak usah diragukan lagi.

Dalam mengemban tanggung jawab, yang paling bikin takut itu apa sih? Kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, salah satunya. Dari sana, mungkin tanggung jawabmu akan beranak pinak. Namun, setelah dipikir-pikir, memangnya apa hal terburuk yang dapat terjadi? Apakah tak bisa ditanggulangi?

Salah input data di presentasi penting? Tinggal diklarifikasi dan bilang “revisinya saya siapkan setelah ini”. Dipecat karena salah input data di presentasi penting? Ya, cari kerja lagi. Ditinggal pacar karena kamu dipecat gara-gara salah input data di presentasi penting? Bersyukurlah ditinggalnya sekarang, bukan nanti kalau udah jadi suami-istri (hahaha ku sotoy bet kayak yang ngerti aja).

Seburuk-buruk apapun keadaanmu, selalu ada solusi untuk melaksanakan tanggung jawabmu sebaik-baiknya kok. Tentu, tidak semua caranya itu semudah menggunakan baygon untuk membunuh kecoa di kamar mandi. Ada cara yang lebih sulit, tapi lebih cepat merealisasikannya, seperti memukul kecoa yang bersangkutan pakai sapu lidi.

Dengan rasa tanggung jawab yang tinggi, sesulit apapun hal yang dihadapi, kamu tidak lari. Kamu menetap dan cari solusi. Untuk menyiapkan diri terhadap itu, butuh yang namanya sikap mandiri.

2. Mandiri

Mandiri: Dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Menjadi mandiri tidak berarti kamu harus menolak semua bantuan teman atau ajakan berkolaborasi. Tidak berarti kamu harus melaksanakan segala hal seorang diri.

Inti dari sikap mandiri, berdasarkan yang kupahami dari penuturan orang-orang secara lisan dan tulisan serta kumpulan kejadian dalam kehidupanku hingga detik ini, adalah berkemampuan untuk mengambil keputusan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Bisa menentukan sendiri apa langkah yang diambil dan menerima konsekuensinya untuk dijalani.

Bayangkan, kamu sedang membuat sebuah program pemberdayaan anak muda. Dalam pelaksanaannya, kamu ingin berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, mulai dari komunitas, perusahaan, pemerintah, akademisi, dan media, agar lebih mudah merangkul anak muda sasaranmu. Untuk mencapainya, kamu mencoba menemui pimpinan di tiap stakeholder itu, memaparkan visi dan misimu, lalu berharap mereka mau membantumu. Percayalah padaku, programmu tidak akan ke mana-mana, cuma jadi setumpuk kertas print-an berjudul proposal kerja sama di sudut ruang kerja mereka atau sebuah email di inbox yang tak akan pernah dibalas.

Foto: Pertama kali kami pergi riset ke Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, untuk Dayamaya. Di sana, kami bertemu Ma’am Tohatta, guru kesayangan semua siswa!

Kolaborasi yang baik hanya bisa terjadi pada orang-orang (atau organisasi) yang mandiri, yang mampu menjalankan bidang yang ia kuasai sendiri. Sehingga, saat kolaborasi terjadi, yang dicapai adalah hal-hal yang memang skalanya lebih besar, tidak hanya sekadar menambal sulam hal-hal yang dasar.

Hal yang terpenting dari penguasaan sikap mandiri, kamu akan terlatih untuk dapat membebaskan diri dari lilitan ekspektasi, yaitu hal-hal yang kamu harapkan untuk terjadi walau mustahil sama sekali. Karena sebagian besar sumber kekecewaan adalah hal-hal yang di luar kendali, jangan bebankan ekspektasi pada orang lain, kecuali pada dirimu sendiri.

Fokuslah pada apa yang bisa kamu kontrol dan kuasai, yaitu dirimu sendiri.

3. Kontrol diri

Kontrol diri: kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu ke arah konsekuensi positif (Golfried dan Merbaum, 1973).

“The one thing you can’t take away from me is the way I choose to respond to what you do to me. The last of one’s freedoms is to choose one’s attitude in any given circumstance.” 

― Viktor E. Frankl

Dalam keadaan terpuruk sekalipun, saat kamu merasa kehilangan segalanya, sesungguhnya satu hal yang kamu dapat selalu miliki, yaitu kontrol diri. Bagaimana kamu merespon sebuah keadaan akan menentukan mendefinisikan kamu yang sesungguhnya.

Yakinlah bahwa semua keadaan yang kamu alami adalah hal terbaik yang memang harus kamu hadapi. Selalu ada pelajaran di sana, untuk membuatmu lebih mengenal diri. Hingga akhirnya, kamu dapat mengendalikan diri lebih baik.

Foto: Pada pertengahan ramadan ini, saya beruntung sekali berkesempatan buka puasa bertiga dengan mereka, Mas Sonny dan Pak Semmy. Mereka itu jagoannya di Kemkominfo deh (ini opiniku ya). Awalnya, kukenal keduanya saat kuterlibat dalam program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

Menurut Pak Semmy, dewasa adalah state of mind. Terlepas dari berapapun usiamu, jika kamu dapat mengontrol diri, baik pikiran maupun tindakan, kamu sudah dewasa. Lebih tepatnya, bersikap dewasa.

Menjadi tua itu pasti. Namun, menjadi dewasa itu pilihan. Pilihan yang terdiri atas berbagai usaha yang melibatkan rasa tanggung jawab, sikap mandiri, dan kemampuan mengontrol diri.

Gitu kira-kira bahan masakan yang dibutuhkan untuk konteks menjadi dewasa. Kalau kamu ada tambahan lain, kasi tau di kolom komentar yaa!

Ketiga: tentukan bumbu lain dan takarannya sendiri. Sehingga masakanmu gak hanya enak, tetapi juga khas!

Sebelum ini kan telah kusampaikan di poin pertama, kalau orang yang dewasa itu dapat menempatkan diri sesuai kebutuhan. Nah, ini tingkat selanjutnya dari itu. Menempatkan diri sesuai keinginan! Untuk menguasai ini, tentunya kamu harus menguasai tingkat yang sebelumnya dulu ya. Dengan begitu, kamu yang telah memahami batasan-batasan dari apa tindakan atau sikap yang akan kamu ambil akan tahu sejauh apa kamu bisa berimprovisasi!

Contoh dari tokoh yang kamu mungkin kenal yang menurutku autentik adalah Ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya saat ini. Nah, kalau tokoh yang kamu nggak kenal tapi menurutku autentik adalah mamaku yang besok berulang tahun! Keduanya menginspirasi dari bentuk tindakannya. Memang ya, action speaks louder than words. Tapi buat yang gak peka dengan sekadar tindakan, harus dikata-katain sih. Eh, maksudnya, dijelasin. Tindakan X itu maksudnya supaya Y loo, nduk.

Dalam memasak, sejauh kesotoyanku, sentuhan personal yang membuat masakan menjadi autentik adalah nilai tambah. Karena, bagi beberapa orang, enak saja tidak cukup bikin ia ingin ia balik lagi ke restoran tersebut. Makanan yang ia makan harus meninggalkan kesan yang signifikan.

Walau demikian, tetap saja, masakan yang sesuai adalah masakan yang dihabiskan saat dihidangkan. Jadilah dewasa dengan sewajarnya. Itu sudah cukup bagi sebagian besar orang.

Terakhir: latihan, latihan, dan latihan!

Selalu ada tantangan yang berbeda setiap harinya. Semakin beragam situasi yang kamu hadapi, semakin mudah bagimu untuk menghasilkan racikan yang tepat.

Maka, bersyukurlah jika kamu saat ini dipertemukan dengan asam garam kehidupan. Jadinya nggak hambar to?

***

Begitu kira-kira, teman-temanku, olahan pemikiranku tentang resep menjadi dewasa. Lebih dan kurangnya, silakan ditambahkan sendiri sesuai preferensi masing-masing. Yang penting, masing-masing dari kita dapat menyajikan versi terbaik diri kita pada orang-orang di sekitar, baik yang kamu sayangi, maupun yang kamu usahakan untuk sayangi.

Bagi yang mau menambahkan, sekali lagi, sangat kutunggu di kolom komentar!

Tentang Menjadi Dewasa (Bagian 1): Berkelana dan Berbaur dengan Semesta

Kadang, kalau melewati momen tertentu, ada rasa-rasa harus melakukan sesuatu dengan cara yang baru. Yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau yang lebih baik dari biasanya. Seperti, menantang diri untuk lebih dewasa.

Jadi, sebelum tulisan ini dibuat, sebenarnya saya sedang menulis tentang definisi menjadi dewasa. Namun, kok susah menulisnya. Sepertinya, pengalaman saya harus diperkaya.

Bulan ini, saya berulang tahun ke-25. Kala itu, saya berada di Jakarta dalam rangka berkarya. Lalu, saat hendak beli tiket kereta untuk pulang ke Bandung, saya merenung. Seketika, saya beli tiket pesawat ke Yogyakarta. Yang paling murah tentunya, Air Asia. Buat balik ke Jakartanya, saya mau naik dari Kulon Progo karena penasaran dengan bandara barunya, Yogyakarta International Airport. Semua keputusan yang tiba-tiba ini diinspirasi dari kata teman-teman yang bilang bahwa berkelana jauh sendirian dapat mendewasakan seseorang. 

Mungkin ada dari kamu yang menganggap spontanitas adalah kegegabahan karena tidak merencanakan sesuatu secara matang sebelum menentukan pilihan. Namun, saya melihat spontanitas bisa melatih saya lebih siap di segala keadaan agar dapat membuat strategi dan menemukan solusi dari segala kesulitan. Ini bisa dibilang ngeles, tapi kamu pasti merasa yang saya bilang ada benarnya kan?

Setelah teman dan keluarga saya kaget dengan rencana perjalanan saya, saya pun langsung susun jadwal kegiatan dan pertemuan selama di Yogyakarta dan Kulon Progo untuk meyakinkan mereka bahwa saya (sepertinya) tahu benar apa yang akan saya lakukan. Iya, keyakinan itu harus dirasionalisasikan, gak bisa cuma modal perasaan. Supaya gak terjerumus ke hal-hal yang ga diinginkan. Walau hal-hal yang gak diinginkan terkadang mengasyikkan, tapi ya, riskan.

Kalau berkelana Yogyakarta, saya yakin di sana akan aman-aman saja selain karena sudah beberapa kali ke sana, juga karena sebagian besar daerahnya terjangkau sinyal dan transportasi umum + abang ojek online. Yang bikin degdegan ini Kulon Progo. 

Saya baru pernah sekali ke Kulon Progo pada bulan Maret lalu. Selama 3 hari, saya dan beberapa teman di sana untuk sebuah perencanaan kegiatan pemberdayaan anak muda. Berdasarkan pengalaman itu, saya tahu daerah kotanya aman untuk transportasi on-demandnya. Namun, daerah-daerah yang saya mau kunjungi nanti itu sekitar perbukitan dan juga pantai selatan yang keberadaan sinyalnya patut dipertanyakan. Takutnya bisa pergi tapi gak bisa pulang hahaha.

Untungnya, saya dipertemukan Tuhan dengan manusia-manusia yang penuh dengan kebaikan dan sepertinya gak tegaan melihat saya yang kebingungan. Mereka adalah Putri dan Pak Win, manusia yang baru kukenal Maret lalu dalam beberapa jam pertemuan. 

Putri adalah pegawai dari perusahaan yang berkolaborasi dengan saya dan Icaq untuk kegiatan pemberdayaan anak muda di Kulon Progo. Putri yang baik hati mengajakku untuk menginap di rumahnya, sahur bersama keluarganya, hingga keliling kota bersama teman-temannya. 

Nah, Pak Win adalah Direktur Perusahaan Umum Daerah Kulon Progo yang sebelumnya adalah Kepala Desa Banjaroya, daerah yang terkenal dengan durian menoreh, waduk mini di atas gunung, dan Goa Maria Sendangsono. Beliau tahu betul semua sejarah Kulon Progo. Dan, beliau juga tahu betul saya datang dengan plonga plongo. Beruntung sekali saya, kemarin beliau meluangkan waktu untuk mengajak saya berkeliling dan menjelaskan berbagai macam hal yang saya pertanyakan, termasuk tentang anatomi atap joglo!

Nah, sebenarnya, banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan selama perjalanan ini yang membuat saya lebih paham apa yang dilakukan untuk mendewasakan diri. Namun, tak semua bisa saya ceritakan di sini secara tertulis karena bersifat pribadi dan mungkin kamu pun tak akan paham kecuali mengalaminya sendiri.

Maka dari itu, saya ceritakan secara visual saja untuk diri saya di masa depan agar memori ini tak terlupakan karena dalam sebuah visual terdapat sejuta makna yang mungkin tak dapat diungkapkan kata-kata. Untukmu, cerita visual ini kupersembahkan supaya terpancing untuk berkeliling juga ke penjuru Indonesia. Entah itu dalam rangka liburan atau pun mencari arti kehidupan~

N.B. Iya, tulisan tentang menjadi dewasa ini akan ada part 2-nya. Masih dalam proses penulisan karena masih banyak pertanyaan dalam pikiran saya yang butuh jawaban. Sedang saya cari juga jawabannya ke manusia-manusia yang berpengalaman dalam menjalani kehidupan.

Dunia Maya, Kamu, dan Dirimu yang Lainnya

Aku, kamu, dia yang berkebun di atas gunung, dan mereka yang memancing ikan di laut punya kesempatan yang sama untuk menunjukkan diri pada siapapun, di bagian bumi manapun, saat kita punya akses pada dunia maya. Semua bisa dapat panggung, bahkan kucing sekalipun.

Di dunia maya, kamu bisa menjadi kamu. Atau juga bukan kamu. Gak ada yang benar-benar tahu siapa dirimu sebenarnya kecuali dari jejak yang kamu tinggalkan di sana. Kamu adalah perkataanmu dan semua konten postinganmu. Kamu didefinisikan dari bagaimana caramu bertukar informasi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya di bumi.

Saya dapat dilihat menjadi orang yang sangat menyenangkan di dunia maya, walau saat kita bertemu, rupanya saya adalah bukan orang yang demikian. Orang tidak lihat bagaimana ekspresi muka saya, apakah tulus, sinis, ataukah sinis-sinis tapi manis. Semua diwakilkan dari apa yang mereka lihat di layar mereka saja. Semua tergantung dari apa yang saya sajikan hingga menggiring orang pada sebuah kesimpulan.

Benarkah demikian? Oke, mari kita bicara dari platform yang paling tinggi adopsinya di dunia maya, yaitu media sosial. Ada yang menggunakannya sebagai sarana mengekspresikan diri, melepaskan emosi, berbagi pandangan dan pengalaman, ngasih kode sama sang pujaan, atau ada juga yang seperti saya bikin lagu dan tarian tentang ikan. Gimana preferensi masing-masing. Kita tentu bisa ngepost sesuai perasaan hati, namun kita tidak dapat mengendalikan bagaimana akhirnya orang lain akan menanggapi.

Misalnya nih, saya kan rajin ngepost instastory (btw, faktanya, penduduk Indonesia adalah penggunanya yang paling aktif dan menyumbang konten paling banyak di sana loh). Menurut teman-teman yang mengikuti instastory saya, saya adalah kakak yang sangat sayang sama adiknya.

Tapi, saat kita bahas pandangan teman yang mengenal saya di Twitter, bisa beda lagi kesimpulannya. Saya bisa dilihat sebagai orang yang gemar membaca karena banyak dari tweet saya adalah kutipan dan pembahasan buku favorit saya. Wow, sebegitu mudahnya orang lain mendapat kesan yang berbeda tentang kita. Beda medsos, bisa beda juga kesan orang tentang kepribadian kita! 

Makanya, kalau kamu ngeceng seseorang dan kenalnya dari medsos, coba pastiin lagi. Kamu udah follow semua medsosnya dia belum? Paling penting, kalau di IG, kamu berhasil masuk daftar close friends-nya dia ngga? Waspadalah, waspadalah. Mungkin, dia bukanlah dia yang kamu kira.

Selanjutnya, mari bicara tentang medium paling sederhana untuk berkomunikasi secara langsung dengan orang (atau segelintir orang) yang kamu tuju, yaitu aplikasi messaging, seperti WhatsApp, LINE, dan FB Messenger. Dalam menggunakan aplikasi komunikasi berbasis teks tersebut, pemilihan tanda baca, emoji, dan stiker dalam chat-mu besar andilnya dalam membantu orang lain mendapatkan gambaran dari ekspresi dan nada bicaramu. 

Sebagai contohnya, ini bagaimana saya mentranslasi bahasa dari chat yang saya terima:

  • Iya, gak apa-apa” → to the point
  • Iya, gak apa-apa.” → to the point, tegas (soalnya ada titiknya) 
  • Ya, gpp” → antara lagi buru-buru atau saya orang yang ngga penting buat dia
  • Iyaa, gapapaa” → ramah, santai
  • Iya…ga apa-apa…” → tertekan atau speechless sampai gak tau mau komen apa atau pasrah
  • Iya, ga papa ☺️” → hmm, bisa jadi dia baper atau malah kamu yang jadi baper
  • Iya, saya tidak apa-apa, namun ada baiknya jika kamu mempertimbangkan alternatif pilihan lainnya. Saya cuma mau memastikan memang itu yang terbaik untukmu”→ nah, ini adalah pedang bermata dua. Bisa jadi dia adalah orang yang sangat bijak atau bisa jadi ngomong dengan nada mengancam dan mata membelalak. Kalau kamu adalah tipe orang yang insecure, ada baiknya langsung kamu ajak dia video call atau temui dengan segera untuk memastikan apakah maksud yang sebenarnya

Eh, perlu diingat, yang di atas itu adalah menurut saya aja, loh. Mungkin saya tipe orang yang perasaannya terlalu dipake daripada logika. Bagaimana orang lain dan kamu mengartikannya tentu berbeda-beda. Beda kepala, beda budaya, beda kebiasaan, beda juga penarikan kesimpulannya. Sebagai contohnya, liat bagan yang kutemukan dari artikel di Harvard Business Review tentang perbedaan cara bernegosiasi di berbagai negara ini:

Selain itu, kalau berbicara tentang komunikasi, ada juga yang disebut budaya low context dan budaya high context. Budaya low context itu yang lebih terang-terangan, langsung pada inti pembicaraan dan esensinya. Dalam budaya high context, cara penyampaian pesan itu jadi salah satu yang harus dipertimbangkan. Jadinya bisa muter-muter dulu ngomongnya, ngga langsung ke sasaran. 

Menariknya, di Indonesia ini kita gak bisa langsung generalisasi kalau masyarakat kita itu lebih high context atau low context. Untuk kota yang berdekatan kayak Bandung dan Jakarta aja udah beda banget norma dalam cara komunikasinya. Eh ga usah jauh-jauh deh, antara Jakarta Selatan aja jelas bedanya dengan yang di Jakarta Utara, katanya orang-orang. Intinya, kamu harus peka dengan lawan bicaramu. Menyampaikan pesan secara padat dan jelas adalah sebuah keharusan di dunia yang pertukaran informasinya sangat cepat dan melimpah ini. Tetapi, bagaimana kamu menuliskan pesan itu juga bisa jadi sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.

Hal ini krusial, apalagi jika kamu bertukar pesan dengan orang yang belum pernah kamu temui. Tapi, kalau kamu sudah kenal dengan orangnya, mungkin jadinya lebih bisa kamu pahami atau (terpaksa) maklumi. Kalau kamu pengen belajar lebih lanjut tentang perbedaan budaya dan cara berkomunikasinya, nih kusaranin baca buku ini:

Selain itu, kalau lagi ngomongin tentang komunikasi, sepertinya harus bahas juga tentang situasi saat percakapan itu terjadi. Kalau di dunia nyata, dengan mudah kita dapat memosisikan diri terhadap tindakan yang dilakukan karena kita dapat membaca langsung keadaan di sekeliling kita. 

Misalnya, kamu lagi rapat kantor. Terus, ada yang berdebat hebat saat diskusi. Dengan membaca situasi, seperti memerhatikan raut wajah masing-masing anggota rapat, kamu dapat beradaptasi dan menentukan langkah selanjutnya yang kamu mau ambil, apakah lebih tepat untuk menengahi atau menanggapi. 

Nah, kalau situasi debat itu terjadi di dalam grup WhatsApp gimana? Lagi bahas sebuah keputusan dan di grup ramai saling bersahutan. Gimana caranya tahu mana yang nadanya meninggi dan siapa yang tersakiti? Seberapa peduli kamu untuk mengatur tata bahasa dan penyampaianmu saat hanya ada layar tak bernyawa di hadapanmu? 

Zaman sekarang kayanya banyak perang saudara terjadi gara-gara forwarded message berbau politik di grup keluarga kan ya tuh? “Lupa dengan hubungan kekerabatan, entah dia paman ataupun keponakan, kalau dia tak sependapat denganku, peduli setan, pendapatku harus kuperjuangkan!” 

Dalam sekali klik ‘enter’, pikirkan bahwa yang kamu pertanggungjawabkan tidak hanya pesan, tetapi juga perasaan. Ibarat ngirim paket lewat kurir, pastikan apa yang kamu kirim, yaitu pesanmu, itu sudah benar isinya sebelum dibungkus. Lalu, pastikan pengemasan paketmu—pemilihan kata, penggunaan tanda baca, dan emoji (kalau perlu)—telah dilakukan dengan baik sehingga paketmu sampai sesuai dengan keadaan semula. Itu semua dilakukan supaya tidak ada yang kurang, cacat, ataupun tercecer saat proses pengiriman—atau dalam artian, tidak ada kemungkinan buat pesanmu mendapat mispersepsi atau sulit dimengerti.

Kalau kita ngomongin tentang dunia maya dan bagaimana kita memosisikan diri di dalamnya, sebenernya mirip juga dengan dunia nyata sih. Bedanya, kamu gak berada di tempat yang sama dengan para manusia yang menjadi lawan interaksimu. Keberadaanmu diwakilkan oleh kontenmu.

Di dunia maya, 
kamu bisa menjadi kamu.
Atau juga bukan kamu.
Itu pilihanmu
dan tergantung pada
sebaik apa kamu
mengemas kontenmu.

***

Eh, eh, eh, eh! Saya dan temanku sedang mengerjakan proyek yang tidak rahasia nih, berhubungan dengan bagaimana membantu lebih banyak anak muda untuk dapat berdaya dengan dunia maya. Kita lagi bikin kitab yang fungsinya sebagai panduan pola pikir dan pengenalan budaya di dunia maya. 

Saat ini, kami sedang menyiapkan topik-topik pembahasannya, salah satunya seperti yang kamu baca barusan. Kalau kamu terpikir ada topik penting yang kamu rasa semua anak muda harus tau agar dapat menjadi netizen yang budiman, tolong sampaikan pada kami ya! Bisa lewat komen di bawah ini, atau ngobrol via dm di Instagram @dh25ila dan @icaqq

***

Dalam menyelesaikan tulisan ini, saya mau berterima kasih kepada:

  •  @icaqq dan @intaniaal yang telah memberikan masukan di tengah-tengah sesi update kehidupan kita sambil makan malam yang menghangatkan hati
  • @tjuandha atas masukannya yang sangat objektif dan memberikan pandangan baru bagi saya dalam menyempurnakan argumen dalam tulisan ini
  • Kamu yang bersedia membaca tulisan ini hingga akhir kalimat ini

Jangan (Ragu) Ikut Campur Urusan Orang!

Begitu sedang ada kumpul keluarga atau reunian, saya biasanya jadi orang yang paling pendiam. Kenapa? Supaya gak ditanya-tanya. Bukannya apa-apa, tapi pertanyaannya itu kadang susah-susah, mengharuskan saya nerawang masa depan, kayak “Sekarang lagi sibuk apa? Rencananya nanti mau gimana?” Duh, saya kan ga mau mendahului takdir. Musyrik! Haha, lebay, ya. Gak deng, saya cuma gak mau dibebani ekspektasi orang aja sebenernya.

Continue reading “Jangan (Ragu) Ikut Campur Urusan Orang!”