Pelajaran dari Bagaimana Pengajar Mengajar di ITB

Kala itu, saya mau menemui Pak Budi (iya, Pak Budi, dosen yang merupakan salah satu founder SBM ITB yang pernah saya teliti rutinitas uniknya di postingan ini)  di ruangannya. Lupa ada urusan apa. Mungkin ngga ada urusan, atau mungkin ada urusan. Kalau ngga ada urusan, berarti saya ke sana cuma buat numpang duduk laptopan, ngerjain kerjaan. Btw, duduk di depan beliau itu memicu rasa kompetisi loh. Ngetiknya cepet banget dan suaranya keras. Kalau saya ga ikut ngetik dengan cepat tuh rasanya cupu gitu. Bikin panik pokoknya.

Nah, untuk tahu beliau itu ada di ruangan atau engga, saya selalu ngecek Google Calendar-nya beliau. Oh iya, (hampir) semua dosen SBM ITB itu kalau janjian bimbingan sama mahasiswa atau meeting apapun tuh pasti semua jadwalnya ada di Google Calendar gitu. Dijunjung tinggi sekali lah transparansinya! Terus, gak sengaja liat di kalender Pak Budi ada jadwal workshop tentang Class Management buat para dosen. Jadi semua dosen yang mengajar di SBM ITB, termasuk dosen yang dari program studi lain itu harus ikutan workshop ini. Wih, menarik.

Sebagai yang sudah pernah duduk dalam kelas sebagai mahasiswa, kadang saya penasaran apa metode-metode yang digunakan dosen dalam mengendalikan situasi kelas yang isinya manusia yang didaulat menjadi harapan bangsa, yang padahal mungkin belum punya harapan apapun terhadap dirinya sendiri di masa depan. Masih dalam tahap pencarian jati diri dan mencoba bergaul dengan teman-teman baru dari beragam budaya. Masih beradaptasi dengan cara belajar anak kuliahan, yang diekspektasi super mandiri dalam pembelajarannya. Pe-er gak tuh kedengarannya? Dosen itu ibarat gerbang terakhir untuk memoles manusia sebelum mereka dilepas ke dunia kerja.

Saat berhasil menemui Pak Budi di ruangannya, langsung kutanyakan siapa yang akan membawakan workshop itu. Rupanya, narasumber workshop-nya adalah seorang dosen yang nyentrik nan karismatik, yaitu Pak Budi itu sendiri. Wih, tambah-tambah menarik.

Setelah beberapa hari mengumpulkan keberanian untuk minta izin nonton workshop itu, akhirnya, pada pagi hari setengah jam sebelum workshop-nya dimulai, saya menghadap Pak Budi. “Boleh, tapi gak jangan cuma nonton, ikutan dalam workshop-nya, ya,” ujarnya dengan santai.

Dengan penuh keyakinan dan keberanian, saya pun mengiyakan. Lalu, dalam beberapa langkah kaki kemudian, dua hal tadi perlahan memudar…memudar… Nanti, kalau tiba-tiba di dalam workshop-nya ada simulasi ngajar di depan..ya kali saya coba ngajar di hadapan dosen-dosen yang dulu ngajar saya? Saya mah dikenal jagonya bertindak kurang ajar, hahaha.

Sesaat kemudian, saya coba ingat-ingat pengalaman 3 tahun ke belakang untuk saya jadikan alasan kenapa saya harus berani ikutan workshop yang isinya dosen-dosen itu. Saya kan udah ditempa keras selama di KIBAR buat berani ngobrol sama segala jenis manusia dari jabatan dan bidang yang beragam. Mulai dari bidang yang saya ngerti sedikit, sampai yang gak ngerti sama sekali. Jadi, gak boleh minder!

Screen Shot 2018-09-09 at 12.37.10.png

Salah satunya, dibikin jadi berani buat foto bareng sama idolanya saya! Huehe~

Lagipula, yang namanya belajar mah ga ngeliat strata. Yang penting semuanya bertujuan sama, untuk jadi lebih baik dari yang sebelumnya. Dan kalau ada yang gak ngerti, ya nanya. Dan jangan bersikap pikasebeleun. Bisi diontrog batur, paur! Mun wani mah mangga wae, gas pol (silakan tanya artinya sama temen yang ngerti Bahasa Sunda, ya).

***

Singkat cerita, saya berhasil bertahan hidup dalam workshop itu. Sedikit gambaran, sebelum workshop hari pertama, kami diminta menyiapkan bahan pembuatan silabus untuk mata kuliah yang dikuasai. Sedangkan di hari kedua, kami diminta menyiapkan bahan kuliah untuk pertemuan pertama perkuliahan.

Pada keberjalanannya, saya dapat melewati hari pertama dengan baik-baik saja, walaupun ada sedikit baret-baret. Di hari kedua, saya ibarat tentara yang tertembak di medan perang, berhasil selamat walau jalannya terseret-seret. Satu hal yang bikin saya kuat menghadapi cobaan apapun yang ada pada saat itu adalah agar saya dapat menceritakan pembelajarannya pada kalian! Mirip-mirip sama apa yang bikin Viktor Frankl termotivasi dalam menghadapi masa-masa di kamp konsentrasi Nazi gitu deh (hahaha, pengen banget disamain). Dia termotivasi untuk bertahan hidup agar ia dapat menyempurnakan riset Logotherapy-nya dengan pengalaman yang dia hadapi selama di sana dan kemudian membagikan ilmunya di ruangan kelas penuh dengan mahasiswa. Pokoknya, kalian harus baca bukunya, Man’s Search For Meaning. Sangat membuka perspektif dalam memaknai hidup dan sangat membantu berpikir positif dalam menghadapi segala macam rintangan!

Oke, kembali ke topik utama. Teman-teman sekalian, seperti yang saya prediksikan, dosen itu juga ternyata manusia! Jadinya, dari workshop dosen itu banyak banget wawasan kaya akan kebijaksanaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan saya sehari-hari. Nah, saya rasa pelajaran yang saya dapatkan juga relevan dan akan berguna bagi hidupmu di kemudian hari, atau pun beberapa saat setelah selesai membaca tulisan ini.

Oh iya, buat kamu yang mungkin membaca ini karena berharap ada bahasan teknis tentang cara ngajar, tentu saja, kamu tidak akan menemukannya! Tidak akan saya bahas karena ada kemungkinan besar saya salah menyampaikan, bisa menyesatkan hahaha. Nanti ditangkap, kayak yang bikin Kerajaan Ubur-Ubur. Di sini, saya mau bahas tentang pola pikirnya saja, menurut sepenangkapan saya.

 

1. Tentukan tujuan dan petakan cara mencapainya.

Dalam membuat silabus, tentu perlu tahu apa yang mau dicapai, apa objektifnya. Harus jelas dan terukur. Ibarat bikin rencana perjalanan, harus tahu tujuan akhirnya ke mana. Beneran bisa nyampe ngga ke sana dengan usaha yang akan dilakukan. Gak bisa kayak, “kita jalan kaki ya ke Bandung, tapi abis itu ke Tokyo dan Paris juga.” Contohnya, gak bisa seorang dosen berharap mahasiswanya bisa bikin bisnis teknologi yang berprofit 1 miliar dalam satu semester. Kecuali pake teknologi metafisika kayak yang dipake Sangkuriang, mungkin bisa. Nah, untuk tahu mahasiswa beneran mencapai objektif yang ditentukan, tentu harus dicek. Makanya, setelah kami menyusun objektif dan silabus, Pak Budi langsung meminta kami untuk membuat soal ujian akhir semester. Jreng!

Tahu gak apa yang terbayang dalam pikiran saya saat disuruh bikin soal ujian? Berasa ditanya malaikat dalam kubur tentang apa aja yang saya perbuat di dunia! Hahaha. Begitu kita tahu apa yang beneran diuji, kita akan dapat menyusun rencana dengan lebih baik. Mana yang penting dipelajari, mana yang engga. Tentukan prioritas.

Dulu, pernah tuh dapet dosen yang ngajarnya ngikutin buku, plek ketiplek. Sampai saya dan teman-teman bisa tahu dia akan ambil soal ujiannya dari mana. Sayangnya, kami nggak tahu mana yang beneran kepakai di dunia nyata. Nah, ini tuh ibarat menjalani hidup yang ngikutin orang aja. Orang berlaku A, kita ikutan berlaku A. Ditanya ujungnya mau mencapai apa, ya, entah ya. Kalau ternyata orang yang diikutinnya ternyata gitu-gitu aja, ya kita nggak ke mana-mana.

20180514_095640

Pak Budi lagi jelasin tentang Bloom’s Taxonomy, salah satu alat bantu dalam menentukan objektif dalam pembelajaran. Kan ada materi yang “oke cukup tahu” aja cukup dan ada yang “ini harus bisa karena kepake banget di dunia kerja!”. Ini tuh membantu memprioritaskan yang penting gitu, biar gak terlalu overkill ngasih tugas dan ujiannya di setiap materi hahaha~

2. Posisikan diri menjadi orang lain dalam menilai diri kita sendiri.

Di hari kedua, kami mendapat giliran maju ke depan satu persatu untuk simulasi menyampaikan kuliah di pertemuan pertama perkuliahan, sekitar 10 menitan gitu kayanya (tapi pas giliran saya kok lamanya seperti…selamanya). Setelah itu, yang maju akan dikomentari oleh yang lainnya, dalam bentuk tulisan. Bagian menariknya, yang maju pun harus menuliskan apa hal yang kira-kira orang lain komentari tentang performa dirinya. Jadi, nanti abis semuanya beraksi, masing-masing akan baca komentar orang lain tentang dirinya (ditempelin di dinding gitu, jadi semua bisa liat punya semua) dan membandingkan dengan apa yang dia catat sendiri.

Ini keren banget. Kalau kita duduk di posisi orang lain dan melihat diri kita sedang beraksi, apa yang kita suka dan gak suka? Sebaik apa kita mengetahui kelebihan dan kelemahan kita?

20180514_094831

Ini sebenernya foto hari pertama sih. Cuma mau menggambarkan situasi aja kalau banyak tempel-tempelan di tembok itu. Semua tahu isi pikiran semua orang, bisa saling mengomentari dan memberikan masukan. Semuanya harus dibawa santai ya, jangan keki apalagi ditanggapi sampai ke dalam hati.

3. Dimulai dari percaya, lalu peduli, akhirnya saling memahami dan terjadi harmoni!

Setelah sesi simulasi mengajar selesai, Pak Budi membahas beberapa hal yang sudah baik dilakukan dan beberapa hal yang butuh perbaikan dari masing-masing orang. Dipapay, cuy! Di sini, barulah saya menyadari alasan kenapa simulasinya itu situasinya adalah pertemuan pertama perkuliahan.  

Pertama, kesan awal itu menentukan. Bermodalkan hierarki (dalam konteks ini sebagai dosen) saja tidak cukup untuk membuat orang-orang bisa peduli dan menghargai. Dalam pertemuan pertama, mahasiswa (dulu saya termasuk di dalamnya) pasti langsung bikin penilaian sendiri: Apakah kamu layak didengarkan sepanjang semester karena berwawasan dan berpengalaman? Apakah mata kuliahmu harus diprioritaskan atau cukup dikebut semalam? Punya selera humor atau punya potensi bikin orang tremor?

Sebelum ke materi yang mau disampaikan, mahasiswa harus kenal dengan manusia yang berdiri di hadapannya, supaya bisa tumbuh rasa percaya—kalau perkenalannya meyakinkan ya. Kan ada peribahasanya, tak kenal maka tak sa…? mpai ke KUA. Kalau gak dapat rasa percaya, segimanapun kamu jumpalitan menyampaikan materi, akan dengan semudah itu audiensmu atau lawan bicaramu untuk lupa. Kamu tidak berarti apa-apa di mata mereka. Jadi, bisakah kamu jadi manusia yang mendapatkan kepercayaan orang dalam sebuah pertemuan pertama? Bahkan, kalau kata Forbes, kesan pertama itu didapatkan dalam waktu 7 detik saja!

Kedua, ibarat mau main game, harus tau aturan mainnya. Di pertemuan pertama perkuliahan juga begitu. Dosen harus bisa menjelaskan ekspektasinya biar mahasiswanya tahu apa yang harus dilakukan dan dapat berpikir cara terbaik dalam melakukannya. Lalu, dosen harus konsisten dengan ekspektasi yang ia telah tentukan. Mulai dari hal seperti teknis penilaian, sampai hal sesimpel jam berapa ia dapat ditemui di ruangannya.

Dalam lika-liku dunia kerja, banyak salah kaprah terjadi saat seseorang tidak memberi tahu ekspektasi dia pada rekan kerjanya atau tidak konsisten dengan ekspektasi yang disepakati di awal. Begitu juga dalam percintaan. Jangan sampai pasanganmu harus terus berkompromi karena itu akan membuat hubunganmu menjadi basi. Kata orang-orang yang berpengalaman sih gitu.

Nah, tadi kan udah dibahas dua hal penting untuk dilakukan di awal pertemuan, sekarang saya mau bahas tentang hal terpenting yang harus diingat sepanjang pertemuan dan yang terpenting untuk dipahami agar bisa saling memahami. Oh iya, perlu diketahui, poin yang ini sebenernya ngga dibahas begitu mendalam sama Pak Budi, tapi menurut saya ini yang paling keren pada workshop hari itu.

Siswa/mahasiswa juga manusia, sama seperti pengajarnya. Punya banyak peran dalam kehidupannya. Bisa sebagai anak, sebagai kakak dan/atau adik, bahkan ada yang sebagai tulang punggung keluarga walau usianya masih muda. Atau bisa juga sebagai ketua OSKM ITB (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB, ospek bersama buat mahasiswa baru) selama 3 kali (baca: Pak Budi). Hal ini terdengar sederhana, namun esensial dan seringkali diabaikan.

Saya nemu video yang mendukung gagasan tadi di TEDx Talk. Seorang guru membuat riset kecil-kecilan yang dilakukan selama 24 tahun untuk mencari tahu guru seperti apa yang dianggap luar biasa oleh muridnya. Salah satunya adalah guru yang memahami kalau siswa punya kehidupan lain di luar sekolahnya.

Iya, terus kenapa? Gini. Begitu gagasan tadi sudah diresapi oleh seorang pengajar, dia akan sadar bahwa bebannya itu gak hanya menyampaikan bahan ajar saja, tetapi juga menyiapkan para muridnya untuk menghadapi dunia.

Sebagai gambarannya, kira-kira, sepertiga hari seorang pelajar kan dihabiskan di sekolah dan rutinitas itu berlangsung selama bertahun-tahun (kalau di Indonesia wajib belajar 12 tahun kan tuh). Berarti bisa dibilang kalau pondasi penting dalam hidup manusia yang menjalankan peran menjadi seorang pelajar itu ya terbangun di sekolah, setuju ga? Faktanya, banyak pelajar yang waktu tatap muka dengan pengajar di sekolah itu lebih banyak daripada waktu tatap muka dengan orang tuanya. Betapa pengajar itu berperan besar dalam pembentukan masa depan seorang manusia!

Nah, untuk menjadi manusia yang berfungsi dengan baik bagi dirinya dan manusia di sekitarnya, pondasi itu gak cuma “harus bisa aljabar”, “ngerti bagaimana proses fotosintesis”, dan semua mata pelajaran aja kan? Pondasi itu juga termasuk pembangunan karakter, seperti kemampuan berkomunikasi, berani bertanggung jawab, dan ber- ber- yang lainnya yang esensial. Hal-hal yang saya sebutkan barusan itu bukan hal yang dapat dimengerti seseorang melalui bacaan dan ucapan. Harus dengan tindakan, agar benar-benar dirasakan.

“Kemarin pas saya jadi penguji (dalam sidang tugas akhir) ada mahasiswa yang saya coba tanya sebuah pertanyaan, yang jelas-jelas memang nggak masuk dalam lingkup risetnya dia. Dia coba jawab terus, penuh dengan asumsi-asumsi tanpa bukti. Dia seperti gak berani buat bilang ‘saya nggak tahu’. Mungkin takut gak terlihat pintar kalau  jawab seperti itu. Saya tuh gak mau kalau mahasiswa hanya sekadar pintar. Mahasiswa harus tahu kalau di atas orang pintar itu masih ada orang jujur, orang bijak,” ujar Pak Budi.

Dari sana saya belajar bahwa seorang pengajar pun harus dapat menjadi contoh manusia yang baik tak hanya dalam wawasan tetapi juga dalam tindakan dan pola pikirnya. Dengan begitu, seorang pelajar dapat paham bagaimana menjadi manusia yang seharusnya, dapat beradaptasi dan berguna bagi lingkungannya. Ini disebut di undang-undang juga sih (liat Pasal 6, Bab II – Kedudukan, Fungsi, Tujuan).

“Oke Dhil, saya pusing dengan beberapa paragraf kamu yang terakhir. Jadi, poinnya apa?”

Poinnya adalah, jika pengajar dapat menjadi contoh manusia yang baik, pelajar akan memahami bagaimana menjadi manusia yang baik. Dari sana, harusnya rasa saling memahami antara pengajar dan pelajar akan tumbuh dengan sendirinya! Kayaknya sih gitu. Soalnya itu yang saya rasakan dari para pengajar dan mentor kesukaan saya.

Hal ini berlaku di dunia sehari-hari banget kan, apalagi di dunia kerja. Jika kamu adalah seorang bos dengan beberapa anak buah, kamu lah yang mengambil posisi sebagai “pengajar” itu. Bagaimana kamu bertindak akan menentukan budaya yang ada di dalam tim yang kamu pimpin. Oh iya, budaya yang baik itu berpengaruh besar pada kesuksesan perusahaan loh. Jadi ini gak hanya tentang mencetak manusia yang ahli, tetapi juga manusia yang punya hati dan berbudi pekerti.

DSC08836

Di foto ini, Pak Budi lagi ngajar mahasiswa tingkat pertama. Itu di tangannya ada iPad yang beliau pakai untuk nulis poin penting yang disampaikan selama sesi dan ditampilkan di layar sebelah kiri auditorium (yoi, itu whiteboard dianggurin). Di layar sebelah kanan ada catatan kuliah yang diketik oleh mahasiswa di komputer. Jadi, beliau bisa cek apa aja yang ditangkap oleh mahasiswa berdasarkan catatan yang dapat dilihat semua mahasiswa dalam auditorium itu. Biar mahasiswanya ngerti pentingnya bikin catatan, ya dosennya harus mencerminkannya dalam perbuatan, bukan dalam kalimat suruhan. Kalau pengen mahasiswanya ngerti teknologi, ya dosennya harus ngerti makenya juga. Sama halnya kalau pengen mencetak mahasiswa yang berintegritas tinggi, ya dosennya yang duluan harus unjuk gigi.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Pramoedya Ananta Toer, dalam Bumi Manusia

***

Yak! Begitu kira-kira pelajaran yang saya dapatkan dari bagaimana seorang pengajar mengajar para pengajar untuk mengajar. Terima kasih buat Pak Budi yang baik hati, membolehkan saya menyusup ke workshop-nya. Ini salah satu tulisan tersulit yang pernah saya buat dalam hidup saya. Empat bulan gak beres-beres. Sama sulitnya kayak nulis tugas akhir!

Atas terealisasikannya tulisan ini, saya ingin berterima kasih kepada:

  • Mas Bayuningrat, dosen SBM ITB yang dulu membimbing bisnis tim saya selama 1 tahun mata kuliah IBE (Integrated Business Experience). Di sela-sela kesibukannya nulis disertasi mau menyempatkan membaca tulisan ini tuh..saya beruntung sekali! Kalau udah lolos di matanya Mas Bay, semoga tulisan ini tervalidasi nggak sotoy-sotoy amat tentang dunia dosen~
  • Aulia Mahiranissa partner bisnisku di Nya’ah yang telah menemaniku mengetik siang-siang walau hampir bengek karena di restorannya ada yang merokok di ruangan ber-AC
  • Emen the Superman yang sudah meyakinkanku untuk bikin tulisan ini ada prolognya

Semoga curahan pemikiran dari pengalaman saya ini ada manfaatnya bagi kamu yang membaca. Terima kasih telah menemani saya hingga kalimat terakhir ini. Kritik dan masukanmu sangat kunanti.


 
N.B. Mungkin kalian penasaran kenapa saya sebegitu penasarannya dengan dunia pengajar. Untuk itu, saya bikin tulisan ini ada prolognya. buat ceritain asal-usul kepenasaranan saya tersebut huehehe. Untuk membaca, klik di sini. Atau mau klik yang ini juga boleh.

Prolog: Pelajaran Dari Bagaimana Pengajar Mengajar

“Indonesia yang kita cita-citakan di masa depan bukan hanya ada dalam bayangan,” ujar seorang perempuan, di atas panggung Tempo Media Week pada 25 November 2017 lalu. Perempuan itu adalah salah satu dari beberapa manusia visioner pilihan Tempo yang telah berdedikasi dan berkontribusi nyata bagi manusia lainnya. Di atas panggung itu, mereka membicarakan tentang Indonesia di masa depan versi mereka.

Wah wah wah, apa tuh maksudnya masa depan bukan dalam bayangan? Udah ada sekarang, gitu? Apakah yang dikatakan Meikarta bahwa “the future is here today” itu nyata?

“Ia sudah hadir setiap hari, lewat apa yang terjadi pada ruang-ruang kelas kita saat ini,” lanjutnya. Perempuan yang berbicara itu adalah Najelaa Shihab, founder dari Sekolah Cikal dan segudang inisiatif lainnya di bidang pendidikan. Yang ia bicarakan tadi, buat yang ngga ngerti maksudnya apa, sepenangkapan saya sih harusnya menunjuk pada pentingnya kegiatan pembinaan anak muda penerus generasi bangsa yang umumnya dilakukan melalui institusi bernama sekolah.

Seketika, rasanya pengen berdiri dan ngasih standing applause gitu begitu denger kalimat itu. Seketika, saya ingat mereka, guru-guru saya.

Screen Shot 2018-09-07 at 18.04.54.png

***

“Nah ini, si bangor (baca: nakal dalam bahasa Sunda) datang lagi,” ujar Bu Nurhayati (almh.), wali kelas SD saya, saat saya temui beberapa tahun lalu setelah kelulusan saya. Saat saya sudah jadi anak SMA.

Nggak, saya dibilang nakal bukan karena suka gangguin temen atau nggak ngerjain PR. Tapi karena saya suka gangguin gurunya. Bagi saya, guru itu adalah jenis manusia yang menarik untuk diulik. Awalnya saya penasaran, kok mereka bisa serba tahu sih? Tapi, puzzle yang lebih besarnya adalah: kok mereka mau ngurusin anak-anak yang bukan anak mereka sih? Saya aja gak kebayang untuk ngurusin satu anak yang kayak saya itu susahnya seperti apa, nah, mereka harus ngurusin super banyak.

Akhirnya, saya suka main ke ruang guru untuk menuntaskan rasa penasaran. Saya pengen ngobrol dengan guru kesukaan saya untuk memelajari apa saja yang mereka pikirkan dan alasan dari berbagai hal yang mereka lakukan. Nah, biar bisa masuk ke sana, saya suka cari-cari urusan, dari yang jadi wakil ngumpulin buku lah, terus… apa lagi ya, lupa. Mungkin karena degdegan gitu mau masuk ruang guru, setelahnya sampai lupa cara masuk ke sananya gimana.

Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saya di jenjang perkuliahan. Bagi saya, menemukan hal unik dari pemikiran manusia yang berprofesi sebagai pengajar saya adalah hal yang mengasyikkan. Bagi mereka, mungkin bertemu dengan saya adalah sebuah ujian kesabaran yang tak berkesudahan.

Sejak seminar di Tempo Media Week, saya, yang hari ini sudah lulus 3 tahun lalu dari institusi pendidikan, dibayangi rasa penasaran kenapa para pengajar itu sebegitunya mengurusi masa depan Indonesia yang ada di ruang-ruang kelas. Kok mau? Kok bisa?

***

Eh, tapi ya, kalau dipikir-pikir, buat tahu alasan di balik alasan itu gak semudah bertanya “mengapa?”. Memangnya, kalau seseorang berkata A, apakah lantas A itu yang benar dia percayai dan lakukan setiap hari? Belum tentu, tapi bisa jadi. Butuh observasi untuk menyamakan perkataan dengan aksi.

Selanjutnya, kalau saya sudah tau alasannya apa, terus kenapa? Hm, paling cuma bilang “oooh…gitu, oke sip. Semangat! Hehe”. Belum tentu saya ngerti. Gak pernah mengalami.

Oh iya! Ada bagian terpenting yang saya lupakan. Seseorang mungkin bisa mengakui kalau ia punya alasan kuat di balik suatu hal yang ia kerjakan. Tetapi, itu bukan jaminan bahwa ia baik dalam melakukan suatu hal tersebut, kan? Modal niat aja ga cukup kalau tujuannya adalah menghasilkan manfaat. Butuh kerja, kerja, kerja. Eh.

Jadi, seharusnya saya gak cuma berhenti di rasa penasaran tentang alasan seseorang melakukan sesuatu aja. Tetapi, saya juga harus penasaran tentang bagaimana pola pikir dan cara yang ia pakai dalam menjalankan hal tersebut, sehingga, dalam konteks yang saya bahas saat ini, masa depan Indonesia memang benar-benar disiapkan dengan baik dan ciamik!

***

Dan akhirnya, saya menemukan sebuah peluang untuk memahami dunia para pengajar sedikit lebih dalam! Lalu, apa yang saya pelajari dari sana? 

Baca lanjutannya di sini!

 

Lulusan SMK Susah Dapat Kerja? Jadi, Salah Siapa?

Katanya, pengangguran terbuka itu didominasi oleh lulusan SMK. Padahal kan, targetnya, lulusan SMK itu begitu lulus langsung dapat kerja. Kenapa bisa gitu ya? Salahnya di mana? Ya, bisa darimana-mana. Bisa langsung tunjuk kepala, kalau mau. Atau bisa beresin sama-sama, kalau mau. Mana pun itu, boleh dicoba. Tapi kalau pinter, mending coba yang lebih jelas hasilnya.

Sekarang, kita coba yang cara tunjuk kepala ya. Siapa pun itu yang ditunjuk, dia yang harus beresin masalahnya.

“Ini salah anak SMK. Kalau ada kemauan kan pasti ada jalan. Kalau dia gak dapet kerja, ya salah dia gak berusaha!”

Saya lalu coba mengingat masa-masa SMP kelas 3. Untuk memilih jalur pendidikan selanjutnya, saya lihat orang-orang terdekat saya. Rata-rata pada masuk SMA daripada SMK. Dan milihnya IPA, bagus buat melatih logika katanya. Baiklah, saya ikut saja. Gak usah neko-neko. Mari main aman. Fokus belajar pada apapun yang diberikan. Pasti kepakai kok.

Tidak ada celah di pikiran saya untuk mempertanyakan ulang kenapa harus lanjut ke SMA. Karena itu baik, menurut orang-orang terdekat. Kalau ditanya habis lulus SMA mau ngapain, jawabannya, ya kuliah. Walau belum tahu mau kuliah apa. Gimana nanti saja. Beberapa temanku pun berpikir demikian. Jadi, sepertinya ini bukan masalah besar, pikir saya kala itu.

Pengalaman saya tadi bukan tidak mungkin terjadi pada mereka, manusia yang seumuran saya, yang lebih memilih SMK daripada SMA. Karena orang terdekat mereka adalah lulusan SMK, jadinya memilih melanjutkan ke sana, padahal belum tau tujuannya apa. Main aman saja.

Untuk pilih jurusan keahlian, bisa jadi dengan cara cup cup belalang kuncup karena mereka belum tahu apa yang dipelajari di dalamnya. Atau, kalau versi siswi SMK yang saya temui kemarin, dia pilih sekolah di SMK itu alasannya karena dekat dengan rumah. “Jangan yang jauh-jauh”, pesan orang tuanya. Nah, dalam memilih jurusan keahlian, yang penting jurusan yang gampang lulusnya dan bisa dapat ijazah dengan nilai baik karena sepertinya itu yang jadi penilaian perusahaan dalam memilih karyawan, pikirnya.

Jadi anak SMK itu berat. Dituntut harus lebih visioner dari anak SMA karena mereka diharapkan lebih dulu masuk ke dunia kerja. Untuk masuk dunia kerja itu masing-masingnya harus punya kemampuan, dan yang lebih berat lagi kemauan. Bukan hanya kemauan “mau kerja” ya, tapi, “mau inisiatif”, “mau belajar mandiri”, “mau bertanggung jawab”, dan mau-mau  yang lainnya, yang butuh kedewasaan dalam bersikap. Bukan “mau mau tapi malu”. Eis~

Eh tapi ya, jangan kejauhan ngomong tentang kemauan deh. Coba pikir spesies yang kayak saya, spesies yang gak tau maunya apa pada saat seumuran mereka. Gimana coba?

“Oke, kalau begitu, ini salah guru SMK-nya! Harusnya kan mereka yang mengarahkan. Apa yang diajarkan harusnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan perkembangan zaman!”

Nah, setelah saya membaca tulisan seorang guru di sebuah sekolah swasta ternama di Jakarta yang menulis artikel “Jangan Mau Menjadi Guru”, rasanya susah juga kalau menyalahkan guru. Soalnya, mau jadi guru saja sudah sulit, prosesnya berbelit-belit. Perlu sertifikasi macam-macam dan katanya itu ada pengaruhnya pada pendapatan. Kapan dong mereka ada waktu buat selalu tahu perkembangan kebutuhan di perusahaan? Untuk mengamankan kesejahteraan hidup mereka saja banyak pekerjaan rumahnya. Guru mau membantu anak muda penerus bangsa. Tapi untuk memastikan masa depan anak mereka sendiri saja masih banyak tanda tanyanya. Punya mimpi mencerdaskan kehidupan bangsa itu banyak tantangannya, rupanya.

Ini belum bicara tentang tantangan mereka di lapangan, ya. Faktanya, jumlah guru SMK yang digolongkan berkompeten itu minim. Memang yang dibilang kompeten itu seperti apa sih? Yang bisa ngajarin hal sesuai dengan kebutuhan industri? Ngajar kan ya sesuai kurikulum bukannya? Kurikulumnya sudah distandarkan oleh Dinas Pendidikan kan? Eh eh eh gimana sih jadinya, saya bingung.

Coba saya angkat contoh dari industri teknologi ya. India, salah satu negara yang paling maju ekosistem teknologinya di dunia saja, dibilang kalau 95% lulusan IT-nya itu gak memadai buat kebutuhan industri. Jreng!

“Berarti, ini sudah pasti salahnya pemerintah yang kurang koordinasi dengan industri saat ini! Masa kurikulumnya gak up to date sih? Habis itu harusnya dibikin juga pelatihan buat gurunya, jadi kemampuan gurunya juga up to date, kualitas pengajarannya semakin ntap.”

Memang, paling gampang itu menyalahkan mereka yang berada di pucuk pimpinan, ya. Semua yang amburadul, kasih ke mereka aja. Nanti juga diberesin. Kita yang rakyat kecil bisa apa. Kita mah nunggu mandat dari yang atas saja. Kalau taunya hasilnya gak sesuai, ya salah yang memberi mandat, kita kan cuma ngikutin aja. Iya gak?

Kalau kebanyakan setuju dengan apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya, berarti grafik yang saya temukan dalam artikel yang membandingkan dan menjabarkan budaya kepemimpinan sebuah negara ini benar adanya. Kita sangat bergantung pada keputusan mereka yang berada di pucuk pimpinan.

Jika itu yang terjadi, upaya menyesuaikan kurikulum dengan standar industri, memberikan pelatihan pada guru, maupun menyiapkan Bursa Kerja Khusus bagi lulusan SMK tidak akan cukup menjawab permasalahan. Yang didapatkan siswa SMK dengan upaya itu tuh ibarat alat dan buku manual penggunaan alatnya. Tapi, mereka nggak tau alat itu mau dipakai untuk apa. Mereka nggak punya bayangan dunia kerja itu seperti apa dan perkembangannya ke arah mana. Jadinya, punya alat canggih pun gak berguna banyak kalau nggak ngerti harus ditingkatkan seperti apa. Oh iya, jangan lupakan juga fakta bahwa mereka butuh kemauan, yang saya sempat singgung di sebelumnya. Kalau punya alat canggih, tapi nggak mau makenya kan jadinya…jadi apa ya…

Sempat saya bertemu dengan beberapa anak SMK kelas tiga jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, dan saya ajak ngobrol. “Selepas sekolah, rencananya kerja di mana?” tanyaku. Ada yang bilang sedapetnya aja, yang penting masih di kota tempat dia tinggal. Tidak ada dia sebut nama perusahaan yang ingin dia incar. Seketemunya aja dari lowongan kerja yang dipajang di sekolahnya. Rincian pekerjaannya seperti apa, dia tidak peduli, yang penting kerja. Ada juga yang cerita kalau habis lulus mau lanjut kuliah. Jurusannya ada yang mau ambil Sastra Inggris, ada yang Akuntansi, ada yang Bisnis Manajemen. Di luar itu, saya menemukan ada yang curhat nih kalau dia jurusan Pariwisata, dan mau ambil kuliah Hukum setelah lulus. Wayolooo! Oke deh, kita gak usah bahas mereka yang berkeputusan ngambil jalur yang berbeda dengan apa yang dipelajari di SMK, itu kan haknya mereka. Lagipula, itu rasanya lebih baik daripada mereka yang belum tahu mau ngapain setelah kelulusan. Nah, yang harus bisa dipastikan selanjutnya adalah SMK dapat menarik calon siswa yang memang memiliki keinginan untuk ahli di jurusan yang dipelajari dan langsung cari kerja begitu lulus. Supaya fitrahnya SMK untuk mencetak lulusan siap kerja bisa dipenuhi.

Tapi eh tapi, gimana caranya ketemu mereka yang punya keinginan itu? Berkaca pada pengalaman pribadi pada usia itu, sulit rasanya untuk punya keinginan mendalami suatu hal kalau ngerasa belum sreg. Sreg, dalam versi saya, adalah sebuah titik dimana penjelasan berdasar fakta saja belum cukup meyakinkan, butuh perasaan untuk berperan di dalamnya. Eh, tapi ya, katanya, untuk ngambil keputusan tuh emang berdasarkan perasaan sih ujung-ujungnya.

Karena sulit membuat keputusan sendiri, akhirnya saya cari referensi untuk dijadikan sebagai inspirasi. Yep, cari mentor! Sosok inspiratif untuk dipelajari, lalu ikuti (dan modifikasi sesuai situasi hahay!). Inspiratif tuh bisa dari pemikirannya, aksinya, cara pemilihan keputusannya, cara berkomunikasi dan berelasi, macam-macam deh! Beruntungnya, saya dipertemukan dengan sosok-sosok hebat ini di berbagai kesempatan yang tak terduga—walau kalau urusan jodoh masih belum dipertemukan juga. Mereka tuh berpengaruh banyak dalam proses saya adaptasi dengan dunia kerja saat ini. Pertanyaannya, bagaimana dengan mereka yang gak punya kesempatan itu?

“Nah, di sini industri harus berperan. Kan mereka yang butuh karyawan, berarti mereka dong yang harus jadi inspirasi. Banyak anak SMK yang gak punya impian karena nggak kenal dengan industri yang akan dia hadapi.”

Bisa jadi, bisa jadi! Walau kenyataannya pasti jauh lebih enak ngambil talenta yang “udah jadi”. Apalagi kalau perusahaannya punya banyak uang. Tinggal bajak dari sawah yang sebelah.

Kalau perusahaannya ga punya uang, jadinya mempekerjakan mereka yang mengaku “punya semangat belajar tinggi” saat interview dan melatih mereka sebisanya. Walau gak jarang, begitu udah jadi jagoan, sang perusahaan pun ditinggalkan karena tawaran dari yang punya uang. Loyalitas bagai komoditas. Niatnya sang perusahaan mau investasi, eh karyawannya malah memberi apati.

Tapi, nggak sedikit juga karyawan yang tetap loyal pada perusahaannya. Saat dicari tahu alasannya, sebagian besar berujar karena nyaman dengan lingkungannya, dengan orang-orangnya. Sesulit apapun pekerjaannya bisa dilewati karena mereka yakin banyak teman yang mendukung di belakangnya. Suportif lah. Ini bisa kejadian, mungkin, karena pembawaan budaya dari pemimpinnya yang ditularkan pada karyawannya.

Kebayang susahnya jadi pihak industri? Gimana mau menerima karyawan baru sedangkan yang lamanya saja suka saling berseteru.

“Jadi…harus tunjuk siapa dong ini? Salah siapa lulusan SMK susah cari kerja?”

Entahlah mau tunjuk siapa. Terlalu besar masalahnya hingga semua orang bisa terbawa-bawa. Mungkin kamu yang sedang membaca ini juga ada andil dalam permasalahan ini. Bisa jadi.

Lalu, selanjutnya apa? Ya bergerak. Sebisanya. Bersama-sama.

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan buat lihat pelaksanaan pilot project dari program Kemenkominfo, yaitu SMK Coding, yang berupaya membantu pembekalan keahlian siswa SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak dengan menggandeng praktisi industri dan komunitas teknologi sebagai mentornya. Tentunya melibatkan pihak sekolah juga di dalamnya. Dua SMK yang saya datangi kemarin adalah SMK Negeri 4 Malang dan SMK Negeri 8 Malang. Wih, anak-anaknya pada antusias puool gitu belajar ngoding di hari Sabtu dan Minggu sementara ada opsi lain untuk jalan-jalan bergembira bersama teman.

 

This slideshow requires JavaScript.

Akhir kata, menurutku, keren lah ini kombinasi penggerak programnya! Karena permasalahan SMK pasti gak akan beres kalau cuma saling tunjuk tanpa adanya kolaborasi bersama. Saling berkontribusi sesuai porsinya tentu akan membuat semua hal menjadi lebih mudah. Gotong royong!

Dengan tumbuhnya program kolaboratif seperti SMK Coding, semoga komunikasi antar pihaknya terjalin baik, semakin mengenal satu-sama lain, saling melengkapi, dan dapat menyongsong masa depan bahagia bersama. Hahaha, berasa wejangan kaku dari seorang teman di hari pernikahan mantan gebetannya, ya? Tak apa, yang penting mengandung doa yang baik-baik di dalamnya.

Jadi, masih mau tunjuk kepala atau mulai beresin sama-sama? Mana pun itu, yang penting SMK, Bisa!


Terima kasih buat Mas Sonny dan Kang Helmi atas kesempatan yang diberikan buat saya dapat menyaksikan kegiatan SMK Coding dengan mata kepala saya sendiri (setahuku mata dan kepala punya teman belum bisa dipinjam sih).

Terima kasih banyak pula untuk temanku yang bersedia meninjau dan memberi masukan sebelum tulisan ini dinaikkan:

  • Emen, anak muda yang memilih langsung terjun ke dunia bisnis selepas lulus SMA, sekarang punya kedai kopi di daerah Gegerkalong, Bandung bernama Hellikopi. Jago bikin bangunan, bikin makanan dan minuman, pokoknya semua yang melibatkan racikan dengan tangan. Serba bisa!
  • Sofy Nito Amalia (yang dipanggil Kopi sama Faiz), seorang content writer di Bukalapak yang dulunya lulusan SMK di jurusan Teknik Komputer Jaringan, lalu kuliah ngambil jurusan Manajemen di Undip. Buat kamu anak SMK yang sedang mencari panutan, ini dia orangnya!
  • Afyan Cholil, adik angkatanku di SBM ITB, jurusan Kewirausahaan. Aktif berkegiatan sana-sini, kenalannya banyak banget lintas jurusan. Akan merintis bisnis di bidang teknologi. Mending segera kenalan sekarang deh sebelum orangnya melejit tinggi.

 

Filosofi Bola Ubi

Aku selalu ingat gigitan bola ubi pertamaku. Hangat, nikmat.

Selang waktu berlalu, aku rindu. Tapi tak rela kalau harus bayar sepuluh ribu. Terlintas dalam pikiranku, bisa membuatnya sendiri sepertinya seru.

Continue reading “Filosofi Bola Ubi”

Capai Akal Budi

Saya gak pernah suka olahraga lari. Apalagi yang di sirkuit. Bosan dan kerasa capeknya gitu. Tapi, jadinya di setiap helaan nafas berasa jadi jauh lebih dekat dengan Sang Pencipta karena seringkali terlintas pertanyaan “apakah Engkau akan memanggil hamba di putaran ketiga?”

Senegatif itu deh pikirannya. Padahal mah kalau sofbol rasanya seharian juga kuat. Nah, kalau disuruh lari tapi gak ada yang dikejar tuh rasanya…pengen ngejar orang yang nyuruh saya lari sih.

Namun, semuanya berubah pada sebulan terakhir ini. Saya melihat olahraga lari dari sisi yang berbeda. Gak cuma meningkatkan kebugaran jasmani, tapi juga meningkatkan akal budi. Dan semuanya gara-gara Pak Budi.

Continue reading “Capai Akal Budi”