Buka Puasa Main Kartu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah hari ini adalah hari ke-24 berpuasa. Sungguh waktu berpuasa tahun ini berjalan sangat cepat. Mungkin karena disibukkan oleh kegiatan sekolah, sanlat, dan tanding slopitch, lapar dan haus pun tidak terasa. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tahunnya profesional!

Di bawah ini fotonya, tim WFB, Wartawan Foto Bandung, yang sebenernya ga ada di antara kami yang merupakan wartawan. Wartawannya malah main di tim Telkomsel. Tapi kami hebat loh, juara 3 di pool kami.

Setelah sekitar dua minggu yang lalu berbuka puasa bersama kelas IPA 6, kemarin saya berbuka puasa bersama Unggulan ’06. Unggulan ’06 adalah kelas saya waktu bersekolah di SD Negeri Banjarsari, yang tersaring dari SD 1 sampai SD 6, yang terdiri atas 35 murid.

Taunya, dari 35 murid, yang bisa dateng hanya 10 orang. Itupun seorang cuma dateng sebentar terus pergi lagi. Jadi yang dateng itu saya, Mentari Gita Pertiwi alias Toto, Rizka Dewi Zuleika alias Icrut atau Ica, Fadhilla Umami alias Dela, Tri Intani Puji Lestari alias Intan, Ilman Dzikri Ihsani alias Ilemano, Serian Trisetyo alias Buser, Hariadi Purnomo alias Buntelan Kentut *ups!* Adi, Irman Adhika, dan yang nongol sebentar terus pergi lagi, M. Ridwan Ramadhan.

***

Sore kala itu sangat panas sekali, saya memutuskan untuk tidak naik ojek ke SD, saya minta diantar mama naik mobil. Untungnya dago tidak terlalu macet, jadi perjalanan pun senang-senang saja.

Saat sampai tempat tujuan dedi dores mama, dengan diiringi doa restu mama, saya turun dari mobil dan menjelajahi sekolah untuk mencari makhluk yang saya sebut teman. Tidak perlu dicari ke semak-semak atau di balik pohon, ternyata mereka ada di tempat yang wajar. Ica dan Toto, itulah mereka. Mereka berjenis kelamin perempuan.

***

Saya klarifikasi, Toto itu bukan toilet yang berjenis kelamin perempuan. Toto itu manusia, sama seperti kita, kawan. Toto harus menerima nasib dipanggil sebagai Toto itu karena saya. Dulu saya mau manggil Mentari jadi Tamara atau Maejanah atau Blezinsky tuh kan kejauhan dari nama aslinya. Jadi ya udah, keep it simple and chic, Toto aja.

***

Setelah saya bertemu Ica dan Toto, kami bertiga masih harus bersusah payah, bersimbah darah, membuang sampah, untuk mencari Iltan, Ilman dan Intan. Dimanakah mereka berdua gerangan? Pelukismu agung, siapa gerangan?

Mereka ada di kelas 2 SD 3 rupanya. Saat kami, trio DhiCaToCu, Dhila Ica Toto Lucu, masuk ke dalam kelas tersebut, kami sangat terkejut! Untungnya tidak sampai pipis di celana, apalagi pipis di Toto. Kelasnya bagus banget! Beda banget saat jaman dulu kami bersekolah di sini. Kursi dan mejanya itu seorang satu. Nyaman banget. Waktu di reguler, sekelas bisa sampai enam puluh orang, duduk dempet-dempetan, panas dan keringatan, kalo ada yang ee di celana, wah udah itu sih menderita. Kalo kelas yang sekarang, di reguler aja cuma buat tiga puluh orang. Di kelasnya ada tiga kipas, di pinggir 2, yang besar 1 di tengah. Jadi 10 orang, 1 kipas kali ya kaidahnya. Lalu, ada dua dispenser! Satu dispenser disponsori Aqua, satu dispenser lagi bisa bikin air dingin dan panas! Wih udah paling asyik lah. Jangan-jangan saat tahun depan kami ke sini, di setiap kelas udah ada WC, terus tempat spa, dan rental PS lagi.

Kembali ke topik utama. Akhirnya kami berempat, DhiCaToCu dan Iltan, berkumpul. Ada desas desus bahwa Hariadi sudah sampai. Saya keluar dan menuju ke arah pintu teralis yang menghadap ke lapangan basket untuk mencari Adi. Siapa tahu ada di sana. Saya teriak, “HARIADIIIIIY!”. Tiba-tiba ada yang balas teriakan saya dari belakang, “APAA!”. Seketika saya menjerit “Kyaaaa!”. Rupanya dia sudah sampai di depan kelas, bukan berada di lapangan basket. Sampai basket, basah ketek, deh gara-gara kaget.

Serem ya.

Ibu Nurhayati, wali kelas kami di Unggulan, tidak dapat hadir di acara buka puasa kami. Jadi merchandise dan foto kelas yang harusnya diberi saat sore nanti, kami titipkan ke Mang Soma, Sang Penjaga Sekolah Berkumis Klimis. Kami sertakan pula secarik kertas yang berisi pesan dari kami, isinya:

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam lintah!

Seharusnya ibu datang ke acara buka puasa unggulan ’06, tetapi ibu tidak dapat datang. Menyedihkan.

Murid-muridmu yang terluka.”

Setelah menitipkan benda yang harusnya kami titipkan, kami menemui Serian yang ternyata sudah menanti kami di depan mesjid sekolah. Then, off we go!

Kami melangsungkan acara buka puasa ini di Makan-Makan. “Makan dimana?”, “Di Makan-Makan.”, “Wei maneh ngajak gelut ka urang? Dahar dimana?”, “Di Dahar-Dahar eh Makan-Makan.”. Hihihi *kesan seram*

Perhatikan foto di atas! Apakah dalam foto tersebut terdapat temannya si manis jembatan ancol yaitu si manis cigadung indah yang tak lain dan tak bukan adalah saya? Tidak ada. Saya bukannya lagi pipis di toilet atau pipis di pohon saat foto ini diambil. Tetapi sayalah orang yang mengambil foto ini dengan segala kemanisan hati saya.

Tahukah anda mengapa wajah-wajah di foto itu bersinar? Mungkin selain karena efek setelah berwudu, hal ini disebabkan ada lampu di atas mereka. Eh berarti bukan bersinar ya, memantulkan cahaya. Jadi mereka itu hanya bulan, yang dapat memantulkan cahaya, bukan matahari yang bersinar. Berhubung ada di antara kami yang bernama Mentari, nama lainnya matahari, ya sudah kita artikan saya sebagai provider handphone ya, bukan matahari. Soalnya kalau kata saya di foto itu mereka ibarat bulan, ya harus jadi bulan semua! Ga boleh ada yang jadi matahari, mentang-mentang namanya artinya matahari. Demikian.

Nah, di foto yang di atas, kami lagi sibuk main 24. Apakah permainan 24 itu gerangan? Jadi permainan ini mengharuskan kita berpikir, bagaimana caranya dari 4 kartu yang dibuka harus berjumlah 24. Caranya boleh dibagi, dikali, ditambah, dan dikurang. Ga boleh pake kalkulus ya. Kami sih mau pake kalkulus nanti aja kalo udah pada masuk ITB. Tahun pertama kan belajar kalkulus lagi. Eh tapi kalo aku sih kan nanti masuk SBM, jadi ga kebagian kalkulus. Jadi main 24-nya tetep pake kali, bagi, tambah, kurang aja deh.

Oh iya kembali ke peraturan permainan 24. Jadi jack, queen, dan king itu bernilai sepuluh. Kalau as itu bernilai 1. Sedangkan kartu lain ya sebagaimana angka yang tertera di kartu aja ya. Ga usah diganti-ganti ya, misalnya 2 diganti nilainya jadi 5, atau 5 diganti jadi 25. Percaya deh, nanti jadi ribet kalo diganti-ganti nanti ujung-ujungnya ga jadi main, malah berantem.

Ssst..tahukah anda? Sebenarnya saya males main 24 tuh. Abis ga gue banget gitu. Kalo aja namanya 25, ayo aja kalo main sampe malem takbiran atau lebaran juga. Eh jangan deng, kalo main sampe lebaran, bisa-bisa ga kebagian THR.

Biar mainnya tambah asyik, kami melibatkan uang juga loh! Gara-gara hal ini, Darsem sampe hampir dipancung di Arab Saudi! Ga deng. Uangnya buat bayar makanan dan minuman yang kami makan. Tapi foto di atas sensasional kan? Bisa aja tangan yang ada di foto tersebut dilacak dan diketahuilah bahwa tangan tersebut tangan temen saya. Jadi aja temen saya ditangkep soalnya dikira main judi. Untung bagian tubuh saya ga ada yang kefoto. Soalnya saya yang foto.

Nah nah nah saudara saudari sekalian, foto ini diambil saat kita mau bubar. Bukan buka bareng ya, tapi beneran bubar, pulang ke rumah masing-masing. Sayangnya, di foto ini ga ada Ridwan, abis dia sebentar banget datengnya, langsung pulang lagi. Dan sebelum pulang, dia melakukan hal yang sensasional dan menjurus ke arah menakutkan. Ridwan mengecup rambut Serian dengan mesra! Seketika itu pula hawa di sekitar meja kami berubah menjadi panas, atau dalam bahasa inggrisnya HOT!

Setelah selesai The Last Photoshoot, mirip-mirip The Last Supper gitu biar artistik namanya, saya langsung ngacir pulang. Serem banget udah malem sekitar jam sembilanan gitu. Saya naik angkot deket Taman Flexi, taman yang biasanya banyak anak geng dan yang paling menakutkannya itu, BANYAK BAN to the CI! Banci! Untungnya sih ga ada, aman-aman aja. Eh apa sebenernya ada ya, tapi ga keliatan? Semacam hantu banci gitu. Hantu banci kebanyakan matinya gara-gara mau nyuntik silikon ke hidung, eh kepeleset ke mata deh jadinya. Ih udah ah sadis banget!

Setelah naik angkot dan turun di simpang dago, saya melanjutkan perjalanan saya ke rumah dengan menggunakan ojek. Lalu sampailah saya di rumah jam setengah sepuluh malam dengan anggota badan yang utuh. Alhamdulillah.

Sekian cerita kehidupan saya kali ini, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Kerja Keras: Banting pensil, Gores Kertas

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, kemarin hari Sabtu tanggal 25 Juni 2011 saya dibagi rapot semester 4. Hasilnya memuaskan saya.

Berhubung kelas saya (kurang beruntung) isinya banyak yang pinter, entah itu pinter karena rajin, atau pinter karena kekuatan dan kelenturan otot matanya berlebih bisa lirik sana lirik sini bisik-bisik nanya jawaban nomor 25 dari pertanyaan nomor 25 (gamungkin dong nanya jawaban nomer 20 berdasarkan pertanyaan nomer 12), untuk mendapatkan ranking tinggi tidaklah mudah. Saya sudah mulai berprinsip kerja sendiri saat ulangan mulai dari kelas 11 jujur saja. Karena, saya sudah mulai memakai jilbab saat pergi ke sekolah untuk membiasakan diri, serta lebih praktis ga usah cuci rambut setiap mau pergi sekolah. Menurut saya, dengan memakai jilbab, kita harus mulai memperbaiki diri kita dan meninggalkan hal-hal yang termasuk dosa kecil. Sebut saja menyontek. Orang bilang, menyontek itu bibit korupsi yang besar. Besar itu bisa diukur, kalau cantik itu relatif. Kata orang, semua wanita itu cantik. Saking pria iri sama kaum wanita yang cantik-cantik, mereka sampai ubah jenis kelamin, jadi banci. Loh kok jadi ngomongin banci? Banci bisa masuk dimana saja dalam topik pembicaraan saya.

Sebelum UKK, sebulan sebelumnya saya sudah mulai menyiapkan diri dengan bersemedi di bawah air terjun, dan menangkap ikan dengan tangan kosong. Tapi bohong. Sebenarnya, saya adalah perempuan.

Ralat. Jadi, sebulan sebelum UKK, saya ikutan program UAS Cemerlang dari Prosus Inten. Dengan biaya 300.000 saya belajar di sana setiap hari senin dan kamis selama sebulan hingga UKK. Saya bukan tipe yang bisa belajar sendiri, saya butuh pembimbing dan saya butuh teman. Males banget kan kesiksa belajar sendirian, mending cari temen supaya bareng-bareng disiksa. Dan cara ini berhasil untuk saya.

Setelah UKK berakhir, dengan banyaknya conference di bbm yang bikin batere habis padahal blackberry saya simpan dalam tas dan tidak pernah dibawa saat UKK (sangat menyebalkan padahal udah leave berkali-kali tapi tetep aja diinvite conference) dan anak kelas 10 teman sebangkunya teman saya, Ayu, yang berisik banget bisik-bisiknya nanya jawaban ke belakang sampai-sampai ingin saya cubit (tapi tidak jadi), saya telah mengerahkan segala ikhtiar yang saya bisa. Tidak afdol dong kalo ikhtiar saja. Maka dari itu, saya berdoa. Doa saya itu semoga saya masuk rangking tiga besar di kelas. Setiap shalat dan setelah berdzikir juga mendoakan orangtua, doa saya ya itu, semoga masuk rangking tiga besar.

Pembagian rapot sekolah saya selang satu hari dari pembagian rapot SMA negeri lain. Bukan SMA dari negeri lain yaitu China, Jepang, atau Kamboja ya, maksudnya SMA Negeri di Bandung yang namanya dari angka-angka. Kres kres. Garing kriuk. Karena itu, saya harus menahan rasa deg-degan lebih lama. Kalo ngga deg-degan berarti innalillahi wa inna ilaihi rajiuun, tinggal dimandikan, dishalatkan, dan dikubur, jantung telah berhenti berdetak berdegdegan.

Setelah dibagikan, alhamdulillah, hasil rapot saya meningkat daripada semester lalu. Dari rangking 6 naik ke rangking 3. Bener-bener pas sama apa yang saya minta ke Allah SWT disetiap doa saya, saya mau masuk rangking tiga besar. Harusnya sih saya doanya rangking 2 besar atau minta rangking 1 aja ya sekalian, siapa tau kejadian. Ups. Bersyukurlah wahai manusia!

Sekarang saya perbaharui doa saya, saya mau jadi mahasiswi ITB, dapat hadiah karena masuk tiga besar, dan satu lagi doa yang isinya rahasia. Kalo aja kamu jadi aku, kamu pasti udah tau isi doa aku, karena kamu itu aku.

Akhir kata, selamat liburan kenaikan kelas! Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ini Dia Cerpen Buatan Saya yang Diselesaikan Hampir Pukul 00.00

Nama: Fadhila Hasna Athaya (13)

Lipstik Selfita yang Hilang

“Siapa yang kamu tuduh?”  tanya Bona.

“Ya kamu lah! Siapa lagi?” jawab Selfita.

“Aku ini laki-laki! Mana mungkin mencuri lipstikmu!” ujar Bona dengan nada marah.

Mereka berdua mulai siang tadi bertengkar. Bertengkar karena hilangnya lipstik Selfita yang baru dibelikan oleh neneknya. Selfita marah dengan argumen yang jelas. Selfita melihat lipstik miliknya di meja Bona. Pertengkaran itupun reda saat neneknya Bona datang ke teras, tempat Bona dan Selfita bertengkar. Mereka berhenti bertengkar karena mereka tak ingin nenek Bona nantinya akan marah kepada nenek Selfita. Marah karena cucunya difitnah oleh cucunya nenek Selfita. Bona tak mengembalikan lipstik itu karena Bona bilang lipstik itu untuk pacarnya. Memang beberapa hari lagi pacarnya Bona akan berulang tahun.

“Benar aku tak tahu dimana lipstikmu itu. Yang kau lihat di mejaku itu kado untuk pacarku. Masa kau tak percaya aku, teman baikmu dari kecil” ujar Bona.

“Iya deh. Maaf ya aku telah menuduhmu, Bona.” Selfita meminta maaf. Selfita memang sahabat Bona. Tapi Selfita gelap mata dan menuduh Bona yang mencurinya. Selfita merasa putus asa, sampai ia salah lihat.

“Sudahlah nanti aku bantu carikan ya di rumahmu. Tapi minggu depan saja, soalnya aku mau merencanakan pesta kejutan untuk pacarku.” ujar Bona.

“Janji ya! Janji jari tengah!” ujar Selfita sambil tersenyum simpul. Tak ia sangka sahabatnya itu ternyata laki-laki yang romantis.

***

Hari-hari pun berlalu, tanpa satupun titik temu. Malam ini, Selfita pergi jalan-jalan ke mal bersama teman-temannya tanpa riasan wajah. Ya, daripada dandan tanpa lipstik, lebih baik tidak usah dandan sekalian, pikirnya. Teman-teman Selfita, Siti, Jannati, dan Lina, heran mengapa Selfita terlihat seram dan muram.

“Selfita, mengapa hari ini kamu begitu muram?” ujar Siti.

“Ah aku tidak apa-apa kok.” ujar Selfita.

“Katakan saja apa yang menjadi pikiranmu.” ujar Jannati.

“Iya, biar muka kamu kembali lagi seperti sedia kala, ketika kita senang dan ceria. Tidak seperti sekarang, pucat dan menyeramkan.” ujar Lina.

“Sebenarnya, aku kehilangan lipstik yang nenekku belikan untukku, sebagai kado ulangtahunku ke-17. Lipstik itu sangat berharga, karena nenekku membelikan kado itu dengan susah payah. Nenekku menjual opak keliling komplek perumahan. Opak yang dijualnya itu benar-benar hasil buatannya. Aku sampai terharu dan tak berhenti meneteskan air mata begitu sepupuku memberitahukanku akan hal ini.” ujar Selfita sambil mulai menangis terisak-isak.

“Wah, nenekmu memang nenek perkasa!” komentar Lina.

“Hei, jangan memberi komentar yang di luar topik utama. Apalagi menyinggung-nyinggung tentang nenek Selfita yang memang perkasa. Kalau Selfita tidak menerima komentarmu itu, bisa saja ia mengadukan hal ini ke komnas HAM! Memang ada kebebasan memberikan pendapat di depan umum, tapi ya jangan komentar yang aneh-aneh.” ujar Jannati langsung memberikan kritik yang mengoreksi komentar Lina.

“Ah tahu apa sih kamu, Jan! Memang benar nenek dia perkasa. Berarti aku mengatakan fakta!” Lina langsung menyanggah komentar Jannati dengan gusar.

Sebelum Jannati hendak membalas perkataan Lina, Siti langsung menengahi hal sepele yang akan berbuah pertengkaran tersebut.

“Sudahlah, sudah. Yang penting kita harus bantu Selfita menemukan lipstik hadiah dari neneknya itu. Tak masalah mau perkasa atau tidak, sesuai hak asasi manusia atau tidak, menurutku nenek Selfita adalah nenek super yang sangat menyayangi cucunya.” ujar Siti dengan bijak.

Siti adalah anak sulung di keluarganya, yang mengurus dua adiknya yang berumur lima tahun. Wajarlah ia terbiasa bersikap tenang dan bijaksana. Kini Selfita dan tiga temannya itu berembuk menyusun cara bagaimana agar lipstik itu bisa ditemukan. Mereka bertiga berembuk di restoran favorit mereka, Sendok 25 Bambu.

“Jadi menurutmu, dimana terakhir kau melihat lipstik itu?” Siti memulai pembicaraan.

“Di loker sekolah, tapi sepertinya aku ceroboh saat menaruhnya, sehingga jatuh. Tapi aku tak menyadarinya kalau lipstick itu jatuh. Ini hanya kemnungkinan yang beralasan.” jawab Selfita.

“Bagaimana ciri-ciri dari lipstikmu?” tanya Lina.

“Warna lipstiknya hijau dengan glitter, kemasan lipstik itu berwarna kuning terang. Edisi terbatas dan hanya ada 25 produk yang dijual di seluruh dunia. Satu-satunya pembeli lipstik itu di Indonesia ya nenekku.” Selfita menerangkan karakteristik lipstik itu dengan jelas dan lugas.

“Hei sepertinya aku tahu siapa yang mencuri lipstik itu! Aku melihat ada perempuan menggunakan rok merah panjang dan beriasan muka tebal dan mulutnya sepertinya menggunakan lipstik dengan warna sama seperti lipstikmu yang kau jelaskan itu!” Jannati berseru.

“Kapan?” tanya Selfita. Matanya langsung berbinar-binar saat mengetahui informasi itu.

“Tadi, baru saja lewat. Dia sudah keluar pintu mal.” jawab Jannati.

“Tunggu apa lagi? Ayo kita kejar!” seru Lina.

Mereka langsung berlari meninggalkan restoran, tanpa membayar tagihannya. Pelayan restoran pun marah dan langsung ikut mengejar mereka. Namun sayang pelayan itu terpeleset dan terjatuh dengan keras karena ia tak membaca ‘Awas Lantai Licin’ yang menandakan lantai yang dia injak tersebut baru saja di pel.

Mereka berempat melihat sosok perempuan yang dideskripsikan Jannati di bawah lampu lalu lintas. Saat perempuan itu tahu bahwa ia sedang dikejar mereka berempat, ia panik dan langsung lari dengan langkah yang lebar. Sayangnya, rok yang dipakainya robek, hingga bagian paha. Tampak aneh sekali melihat betis dan paha perempuan itu berbulu lebat. Sosok perempuan itu terlihat dengan jelas karena lampu jalan kota yang begitu terang apalagi dengan billboard iklan dengan lampu besar.

Melihat pemandangan itu, Lina tertawa terbahak-bahak hingga ia tak melihat jalan dengan benar dan akhirnya menabrak tiang lampu jalan dan kemudian tak sadarkan diri. Jannati langsung membantu Lina. Jannati memang teman yang penolong. Jannati sangat menyayangi sesama. Ia berperilaku demikian karena saat di bangku SD, pelajaran yang paling ia sukai adalah Pkn. Maka ia menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Siti adalah atlit daerah di bidang atletik. Prestasinya hebat dalam berlari sprint 100 meter. Dengan memperkirakan jarak dia dengan perempuan itu sekiranya sudah 100 meter, dia langsung mempercepat larinya dengan trik rahasia yang ia pelajari di kaki gunung Semeru. Tak sampai 10 detik, dia berhasil menjambak rambut perempuan itu. Rambut perempuan itu tidak rontok, tapi copot. Perempuan itu ternyata menggunakan rambut palsu. Tanpa rambut palsunya itu ia gundul, hingga terlihat seperti tuyul. Selfita yang hobinya melempar pohon jambu tetangga agar buahnya jatuh, langsung mengambil batu dan melempar tepat ke kepala perempuan itu hingga perempuan itu jatuh.

Selfita dan Siti langsung menghampiri perempuan itu. Mereka membalikkan badan perempuan tersebut yang tadinya telungkup karena jatuh dengan hidung yang menabrak paving block jalan terlebih dahulu. Saat dilihat ternyata perempuan itu bukan perempuan. Dia itu laki-laki. Dia itu Bona! Siapa yang menyangka, bahwa Bona yang dikira Selfita adalah laki-laki romantis, ternyata adalah seorang wanita pria, alias waria.

“Sejak kapan kamu begini, Bona? Atau harus aku panggil kamu Bonita?” ujar Selfita yang sepertinya sangat menyayangkan hal ini terjadi.

“Sejak aku putus dengan pacarku minggu kemarin. Siangnya, setelah aku putus dengan pacarku, aku teringat lipstik yang kamu pamerkan padaku saat pelajaran pertama. Begitu teman sekelas  pada pergi shalat ke masjid sekolah, aku ambil lipstik itu dari lokermu dan aku bawa pulang karena warnanya menarik dan juga karena aku berniat mengganti jenis kelaminku. Jadi aku harus terlihat seperti perempuan sejati. Tapi karena uangnya tak cukup ya jadi seperti ini dulu. Aku lakukan ini semua karena aku khilaf. Aku khilaf karena sepertinya aku gagal membahagiakan pacarku. Aku gagal sebagai laki-laki. Maka dari itu lebih baik menjadi perempuan, begitu pikirku. Maafkan aku.” Bona akhirnya mengatakan semua hal yang pasti akan benar-benar mengecewakan sahabatnya. Namun kenyataan memang harus dikatakan. Kenyataan itu tak seperti di film-film yang selalu indah, kenyataan itu memang pahit.

Tetapi, kenyataan ada juga yang manis. Yaitu kenyataan saat Selfita memaafkan Bona, sahabatnya dari kecil, dengan tulus dan membantunya kembali ke jalan yang diridhai Allah SWT.

Sekarang Semester Genap

Semester genap, semester genap! Sebentar lagi penjurusan. Saya ingin coba tes minat dan bakat tapi di mana ya? Dengan tes minat dan bakat itu jadi saya tak usah susah-susah menekuni bidang yang mungkin saja saya tak ahli di situ. Semester lalu saya dapat ranking 2 di kelas, dan ranking sekolah adalaaaaaah 25! Iya tepat 25! Ah saya tak ingin beranjak. Tapi kita setiap saat harus ada perubahan. Ke arah yang positif tentunya.

Tadi saya privat. Belajarnya matematika bab logika. Kini, mata saya sudah terbuka tentang pelajaran ini, tadi pagi saat belajar di sekolah mata saya terbuka, melotot. Melotot sampai juling. Saya tak tahu apa itu tabel kebenaran, karena yang dijelaskan itu ya tidak jelas. Tidak jelas bukan karena saya miopi. Saya duduk paling depan, jadi mana mungkin tak terlihat apa yang ditulis di papan tulis. Tapi saya juga tak menderita hipermetropi. Karena saya masih muda, tak mungkin lah presbiopi. Saya masih muda. Saya masih muda. Darah muda, darahnya para remaja.

Di pertengahan bulan Februari nanti saya akan mengikuti Giants Cup, yang berarti mengharuskan saya untuk bolos selama satu minggu. Bisa dibilang liburan, liburan penuh dengan rasa cemas akan pelajaran yang tertinggal. Sejak saya menduduki bangku sekolah menengah atas, saya jadi lebih rajin belajar. Untuk apa? Mendapat nilai bagus, mendapat ranking, lalu bisa menjebol pintu universitas mana saja dengan PMDK. Tapi, jurusan apa nanti yang akan saya ambil? Teman-teman sebarisan saya sudah menentukan jurusan apa yang akan mereka kejar, sementara saya? Belum. Saya tak tahu apa bakat saya maupun minat saya. Saya berminat main dan berbakat dalam menjulingkan mata. Tapi mana mungkin  nantinya saya masuk SBM, Sekolah Bermain dan Menjuling, lalu bikin tesis berjudul “Teknik Main dengan Hati Happy” atau “Cara Menjulingkan Mata Tanpa Rasa Sakit dan Tidak Menimbulkan Cacat Permanen”.

Liburan semester ganjil kemarin saya pergi ke Bali. Untuk pertama kalinya. Yang saya sesalkan saat perjalanan liburan kemarin itu saat saya sedang membeli oleh-oleh. Saya sedang mengambil alat musik maracas dan ada satu lagi tak tahu apa namanya, serta ada barang lain juga yang saya bawa. Saya mau tunjukkan ke mama, apa boleh itu semua saya beli. Tak tahunya, bule mengira saya penjaga toko oleh-oleh itu hanya karena saya membawa banyak barang tanpa keranjang belanja dan saya adalah orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi. Orang pribumi.

Pribumi harusnya menjadi tuan di negara sendiri

Pribumi harusnya menjadi tuan di daerah sendiri

Saya bukan berasal dari Bali

Saya berasal dari Kota Bandung

Bandung yang dibendung gunung

Gunung, mengingatkan saya pada toko ransel gunung

Mengingatkan saya pada monster yeti

Yeti, hei itu nama guru bahasa Indonesia saya di sekolah dasar

Beliau mengajarkan saya berbahasa Indonesia

Beliau mengajarkan saya membuat puisi

Tapi bukan puisi yang seperti ini

Puisi yang penuh dengan keindahan

Kerinduan

Kematian

Kehidupan

Keajaiban

Ya,

Dua puluh lima adalah nomor punggung saya

Kehidupan softball saya akhir-akhir ini sedikit kurang menyenangkan. Hei, kemana teman-teman saya? Mereka hilang dengan kesibukannya itu. Ya sudahlah, saya pun tak peduli. Saya sedang semangat latihan pitching. Jadi saya bisa menguasai semua posisi softball. Saya sudah pernah jaga di outfield, second base,  catcher dan shortstop. Saya sih tak ada niat untuk bermain di posisi pitcher, hanya ingin bisa pitching saja. Karena beban jadi pitcher itu berat. Harus kuat mental dan jaga emosi. Emosi saya? Labil. Sewaktu-waktu bisa saja saya menangis dan menjerit di tengah pertandingan. Namun entahlah saya tak tahu, karena saya belum pernah bertingkah seperti itu. Paling menangis karena latian pitching itu harus jaga emosi, jadi begitu saat mengarahkan bola itu terasa begitu sulit, ya jangan langsung depresi. Tapi saya beda. Saya depresi.

Dalam waktu satu bulan, saya ganti potongan rambut saya duakali. Hal itu tercatat dalam rekor pribadi saya. Karena mana sudi MURI  menjadikannya rekor. Rektor itu yang ada di universitas ya? Yang umumnya bapak-bapak yang sudah tua? Eh apa bukan? Kalo bukan maaf ya pak. Ih Dhila nulis apaan tuh ga penting. Maklumlah, peer udah selesai, hati senang, girang gimbal.

Saya sedang meneliti waria. Saya sangat ingin tahu tentang waria. Mulai dari yang hidungnya bersilikon sampai yang kakinya berbetiskan talas berbulu. Saya turut berduka cita atas menginggalnya waria karena suntik silikon. Saya tahu berita ini dua hari kemarin, tak sengaja, saat saya mau nonton spongebob eh malah si Bobby a.k.a Barbara, bohong deng nama warianya bukan Bobby, tapi saya tak tahu namanya siapa. Namanya juga kebetulan. Bukan, kebetulan bukan nama warianya. Daripada menyebut waria, saya lebih suka menyebut banci. Kenapa? Karena lebih fancy. Menurut saya.

Saya ingin buat cerpen. Saya ingin menggambar. Saya ingin bermain gitar.

Akhir kata,

Monyet ee dipinggir kali, yu dadah yu marii.