Menginjak Tanah Lain

Assalamualaikum.

Saya ingin melaporkan bahwa saya baru saja berada di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Belum pernah saya apa-apain. Emang saya suka ngapa-ngapain ya? Gitu deh. Saya sekarang sudah mendapatkan beberapa cap di bagian halaman visa paspor saya. Paspor saya, loh, bukan paspor yang nebeng sama orang tua. Dengan demikian, saya resmi telah memegang pegangan pintu di tiga negara. Indonesia, SIngapura, dan akhirnya, Malaysia. Inilah perjalanan di negeri lain yang saya bisa ingat benar-benar, mengingat memori saya di masa TK yang masih bisa saya putar ulang di ingatan secara jelas itu saat saya dijambak teman saya waktu TK, saat saya memakai topi Tersayang yang sedang booming pada zaman itu, saat mainan lego masak-masakan saya dipinjam teman padahal saya tidak rela, saat saya membangkang tidak mau memerankan ibu petani dan lebih memilih menjadi polisi bersama teman-teman laki-laki, dan saat saya meminum kuah sayur bayam yang rasanya sangat berkesan hingga sekarang, dan lain-lainnya hanya samar-samar.

Mungkin tidak bisa selamanya saya ingat, sih. Mungkin saja saat saya sudah lulus kuliah nanti, atau dua puluh tahun setelah liburan ini, saya yang di masa depan sudah hanya menyisakan ingatan yang samar-samar tentang apa yang saya alami di liburan kali ini. Maka dari itu, post ini sebagai pengingat untuk saya yang di masa depan. Sebenarnya sih, semua post yang saya tulis pun untuk mengingatkan pada diri saya yang di masa depan tentang asam manis kehidupan yang saya alami saat ini. Agar semua yang saya alami ini akan tetap mempunyai arti.

Liburan ke Malaysia ini akomodasinya hampir fully-supported oleh Uwa Winny dan Uwa Amin. Ajakan untuk berlibur ini tiba sebelum saya menjalani UTS kalau tidak salah. Kalau tidak salah, berarti benar. Nah, kalo belanja, itu gimana sejago-jagonya saya untuk melobi mama. Biasanya, mama lebih mudah diajakin beli makanan daripada barang. Itu agak masalah, soalnya saya suka makan, lebih tepatnya, lapar mata. Makanan yang dibeli harus habis. Kalau gak bisa ngabisin, berarti Faiz harus diikutsertakan dalam setiap perjalanan yang ada bagian makan-memakannya soalnya dialah tempat semua makanan yang tak habis bermuara.

Awalnya saya agak ragu untuk ikut atau tidak. Takutnya masih kuliah. Saya teringat suatu hal saat saya berada dalam dilema terdalam tentang liburan ini. Di dunia ini ada yang namanya Kalender Jadwal Kurikulum Semester. Semua jadwal perkuliahan ITB secara general tertera di sana. Langsung saya cari deh kalendernya. Ngomong-ngomong, kalendernya udah kerobek Faiz. Dia sotoy-sotoy gitu mau nempel kalendernya di kamar. Kan awalnya kalendernya digulung, pake kertas dan selotip gitu. Pas kertasnya mau dirobek, kalendernya ikutan kerobek. Sumpah ini kalender tingkat inisiatifnya tinggi amat. Robek sebelum waktunya. Terus saya marahin Faiz. Tapi ga tega udahnya. Abis Faiz baik banget sih.

Intinya, dari kalender tersebut saya tahu bahwa di waktu keberangkatan yang ditentukan bertepatan dengan liburan! Yey.

Pada hari-H, kami berangkat ke Jakarta menggunakan travel Cipaganti. Travel ini ada aksesorisnya, yaitu stop kontak. Saya sebut aksesoris karena ya cuma aksesoris, ga ada fungsi lain buat menyalurkan listrik. Saya gak bisa nge-charge iPhone saya. Daripada diem aja, ga bisa ngecharge iPhone, saya ngecharge badan aja. Saya tidur. Nggak pake selimut, soalnya gak pake bantal. Gak nyambung, soalnya gak ada kabel.

Sesampainya saya di bandara, saya turun dari travel dan menghirup nafas panjang. Liburan ini akan saya mulai. Berbeda dengan mama, turun travel, hal yang pertama beliau lakukan adalah…update status. Udah gitu salah lagi statusnya. Kan mama check-in gitu pake Facebook. Rencananya check-in di Bakmi GM, Bandara Soekarno-Hatta. Eh, malah pilih yang typo. Soekarna-Hatta. Mana keupdate-nya ga cuma di FB, langsung otomatis ke BBM juga. Kalau aku jadi mama, aku langsung mengkonfirmasi ke khalayak kalau BB aku dibajak Faiz. Atau BB-nya kan dimasukin ke saku celana jeans di bagian pantat pas lagi duduk kepencet, kebuka aplikasi Facebook, ke-scroll terus kepencet check-in. Atau pas lagi pipis di toilet bandara, BB-nya kecemplung dan tau-tau ngeupdate status sendiri. Nothing is impossible, right?

Senengnya ke Bandara Soetta itu, ada Beard Papa’s (di terminal tertentu). Sebagai penggila kue sus sejak TK karena kue ini suka ada di acara ulang tahun teman-teman, saya merasa adanya Beard Papa’s ini adalah revolusi di dunia kue sus. Kuenya hangat, lalu disuntikkan fla dingin rasa vanilla. WOW. Hidung saya terbelalak dan mata saya kembang kempis. Makan kue sus-nya Beard Papa’s itu salah satu momen life-changing bagi saya. Haha gak deng. Pokoknya, momen berharga deh. Walaupun tak semahal momen makan Pop Mie sambil duduk di dalam pesawat terbang. Mahal beli tiket pesawatnya.

Hari itu, aku memakai pakaian dengan gaya yang paling keren menurutku (pakai “aku” aja, ya, biar unyu). Aku memakai swater biru tua dengan motif-motif hati yang kecil berwarna pink. Tolong jangan bayangkan sweaterku itu sama dengan boxer putih bermotif love-love warna merah yang biasa ada di film-film, ya, aku mohon. Aku mohon dengan sangat (hm, kalimat ini kayak di film apa ya…lupa). Lalu, aku menggunakan celana panjang chino yang kubeli di temanku. Temanku ini mempunyai usaha konveksi jeans, namanya Trios Jeans. Harganya terbilang murah loh, sewaktu aku pesan, harganya 130ribu. Temanku bilang, itu harga persahabatan. Awalnya, aku sempat berpikir, semurah itukah harga jalinan persahabatan antara aku dan dia? Persahabatan yang diselingi suka dan duka? Persahabatan yang dirintis sejak dahulu kala?! Gak deng. Untuk alas kaki, aku menggunakan sepatu adidas warna ungu andalanku. Sepatu yang menemaniku dari zaman UAS Olahraga kelas 12 di SMA, hingga UAS Olahraga semester satu di era perkuliahan. Yap, inilah penampilan yang sekiranya dapat membedakan aku sebagai turis dengan calon TKW.

IMG_3871Ah-syik.

Perjalanan di udara tak terasa begitu lama. Aku habiskan waktu bengong dengan membaca novel yang ditulis Ika Natassa, A Very Yuppy Wedding. Tau gak sih lo? Ika Natassa resmi jadi salah satu penulis novel favoritku. Semua novelnya sudah aku lalap habis. Urutan aku membacanya, Antologi Rasa, Divortiare, Twivortiare, dan A Very Yuppy Wedding. Novel-novel ini memberiku gambaran tentang kehidupan orang-orang yang sudah benar-benar menginjak masa dewasa. Membayangkannya asyik juga. Oh iya, ada bagian di novel ini yang membahas tentang topik yang pernah diberikan oleh Pak Aurik, sang dosen IMSB. Tentang bisnis kelapa sawit gitu dan istilah-istilahnya kayak CPO, terus… hm…. apa ya… lupa. Pokoknya, ada dua kesimpulan yang bisa saya ambil dari kejadian unik nan mengejutkan ini. Ika Natassa memang belajar bisnis (karena dia seorang banker) atau Pak Aurik suka baca novel metropop karyanya Ika Natassa di waktu senggangnya setelah memberikan kuliah.

Selama liburan di Malaysia, 5 hari 4 malam, tiada hari tanpa makan, deh! Terus ada fakta menarik! Semua orang juga makan setiap hari. Kecuali mereka yang tidak berkecukupan. Mari doakan semoga makin berkurang orang yang kesusahan. Eh, semoga kita diberi kekuatan dan kesempatan dapat membantu orang yang kesusahan deh!

Pada hari pertama, kami sampai di Hotel Cititel sekitar jam delapan malam. Hotel kami ini berdempetan dengan Mall Midvalley. Macam Trans Hotel dengan Trans Studio Mall lah. Lalu, kami makan malam di food court mall ini. Oleh Uwa Amin, per orang dari kami mendapatkan 25 ringgit. Uang ini dibagikan setiap mau makan. Terserah mau dipake semuanya buat makan atau uangnya langsung dimakan juga terserah. Kalau dirupiahkan, 25 ringgit ini sekitar 75 ribu. Pada malam itu, saya memutuskan akhirnya untuk membeli makanan. Kalau minuman, kan ada Faiz yang beli teh tarik. Yes.

Hari kedua, kami menuju ke rumah Aa Farhan. Ngomong-ngomong kami di sana tidak berpergian sendirian. Ya iya, orang udah pake kata “kami” bukan “saya”. Nggak deng. Maksudnya, perjalanan kami di sana dipandu oleh Aa Farhan dan Abang Ain selaku event organizer. Bercanda deng. Masa EO jadi pemandu jalan, kan harusnya traveller guide. Nggak deng. Karena Aa Farhan dan Abang Ain yang sudah lama di Malaysia, makanya yang nganter ke mana-mana. Masa Dhila yang nganter. SIM aja baru punya, paspor aja baru dicap, braces gigi aja baru dibuka. Fyi, bagian ngomongin braces baru dibuka itu sebenernya mau pamer, gigi aku udah rapi.

Rumah Aa Farhan itu di Equinox, di daerah… ga tau daerah apa. Di mobil ketiduran. Sebenernya bukan naik mobil biasa, tetapi mobil van. Mobil van itu kalau Anda nggak tau, coba nonton film-film Amerika yang temanya penculikan atau action deh. Biasanya kan penjahatnya ngumpet di mobil van, nyiapin pistol, terus nembakin orang. Bukan nembak cewek. Nanti bukan film dong namanya, reality show “Katakan Cinta” yang populer di kalangan ABG tahun 2000-an. Tau kan, mobil van itu yang kayak gimana? Bilang tau, aku jadi pacar kamu. Bilang nggak tau, aku juga jadi pacar kamu. Ups, gara-gara saya juga angkatan 2000-an nih SD-nya, jadi pernah nonton “Katakan Cinta”.

IMG_3886Di dekat perumahan Aa Farhan. Semacam kawasan yang banyak chinese-nya.

IMG_3900The Mines. Ini mall, dan bisa ke dalam sini naik perahu.

Hari ketiga, tujuan pertama kami ke KLCC. Lihat menara kembar. Yang ngelahirin menara ini siapa ya, kok bisa kembar, dan tinggi-tinggi pula. Ujungnya menusuk ke angkasa. Sakit dong. Untung angkasa tidak bisa berdarah. Begitu sampai sana, pada ribet minta difoto. Sampai-sampai udah disuruh buru-buru sama Uwa Amin, aku belum kebagian, eh, ga ada yang mau gantian fotonya. Sampai aku bete. Tapi, akhirnya difotoin sama Mama sih. Yang susahnya tuh, ada satu Uwa yang ribet, belum difoto pas pake kacamata. Aku kan belum sama sekali. Kasian kan. Harusnya sih kasian. Haruskah aku minta-minta di jalanan Malaysia, sampai dikasi uang, lalu ditangkap polisi Malaysia, terus dikira TKW, dibalikin ke rumah majikan, baru kasihan? Terus sampai masuk TV di Indonesia, sebagai TKW yang berhasil kabur, karena dianggap TKW padahal bukan?

IMG_3946Ribet langsung foto-foto nih Mama, Aki, dan Uwa-Uwa (om atau tante dalam bahasa Sunda). Kalau dikasih option mau difoto pake kamera DSLR, kamera pocket, atau Blackberry, pasti pemenang mutlaknya itu Blackberry. Alasannya? Supaya bisa langsung tayang. Hadyu.

Setelah dari KLCC, kami geser pantat dan makan siang di Pavillion, daerah Bukit Bintang. Sesudahnya, kami jalan agak jauh, entah mau ke mana. Begitu sampai, ternyata kami ke stasiun monorail. Lalu, naik monorail dan turun di tempat awal kami berjalan. Cuma perjalanan ke satu stasiun doang. Satu menit juga kurang kali. Hahaha, yang penting naik monorail.

IMG_3949Bule lagi foto-foto, difoto.

IMG_3950Ibu-ibu lagi jalan nggak ingin aku foto, eh kefoto.

IMG_3954

IMG_3951Pahlawan pejuang mimpi-mimpi saya sejak TK, Doraemon.

IMG_3952Monorail.

IMG_3953H&M

IMG_3992Anaknya Teh Nadya, Omar & Salma. 

Omar ini suka main sama aku selama di sana. Hobi banget ngikutin dari belakang. Kalo aku lari, dia ngejar. Terus kalo Omar udah lari, susah berhentinya, jadi aku ditabraknya. Udah nabrak, dia ketawa sambil peluk-peluk. Coba aja ntar udah gede, udah bisa bawa mobil. Aku lari, dia bawa mobil. Gak direm. Hiii, ga mungkin lah ya. Pas duduk di mobil van, duduknya sebelahan sama aku. Omar ini pinter Bahasa Inggris. Kosa katanya udah banyak. Dia hafal nama buah-buahan, sayur-sayuran, bintang-bintang, dan planet. Selama mobil masih bergerak, Omar interogasi apa saja makanan kesukaanku. “Kamu suka lettuce ngga?”, “Kamu suka jackfruit ga? Itu loh, nangka. Aku suka banget jackfruit.”, “Kamu suka pomegranate nggak”. Aku aja sempat mikir dulu. Pomegranate iitu apaan ya, perasaan ada di iklan, TAPI IKLAN APAAAA? Tuh, nama iklannya aja ga inget. Apalagi pomegranate-nya. Kosa katanya yang banyak ini, kata Teh Nadya, Omar dapat dari nonton video di Youtube. WOW. Youtube sebagai sarana edukasi. Canggih sekali anak zaman sekarang. Dulu, aku belajar sumbernya dari…dari…komik Doraemon dan Conan gitu? Dari Majalah Bobo juga. Efek belajar dari komik, anak TK udah bisa pakai kata “kamuflase”, “asam sianida”, “pembunuhan berencana”, dan “baling-baling bambu”.

Hari keempat, ini hari jalan-jalan pakai mass transportation. Perjalanan hari ini khusus buat anak muda. Aku, Faiz, Teh Nadya, dan Mama. Kami, hari itu, naik KTM dan MRT. Tujuan utama jalan-jalan kami hari ini itu: H&M. Gara-gara aku penasaran, kemarin gak masuk sini. Cuma lewat saja. Tidak pakai permisi pula. Nah, hari itu, adalah hari bersejarah. Ngambil, ngambil, ngambil. Mama langsung nge-iya-in. Miracle! Aku bilang “Ma, di Indonesia belum ada ini. Kan, Dhila juga di Bandung jarang beli baju. Kuliah bajunya itu-itu aja”. Terus mama jawab, “Dhil, emang ada temen yang bilang karena baju Dhila itu-itu aja, Dhila ditegur terus ga boleh temenan sama mereka lagi? Gak kan?” Iya nggak sih, sampai sejauh ini belum ada yang bilang gitu. Tapi, ini antisipasi daripada hal yang kutakutkan ini tiba-tiba terjadi pada suatu hari di masa depan. Saat perputaran baju yang dipakai, semua orang udah hafal, bahkan enek, sampai ada yang muntah di depan aku. Gak mungkin juga sih. Kayaknya.

IMG_3983Teksi.

IMG_3982OMG, ini di dalam KTM.

IMG_3981OMFG, ini di stasiun KTM

Hari kelima, kami pulang. Ke bandara nyampenya pas-pasan udah boarding. Gak sempet ke Duty Free Shop. Tapi, aku nggak sedih. Soalnya, Papa yang baru nyampe Bandung sehari sebelum kami pulang, udah ngebawain oleh-oleh dari Duty Free Shop Qatar. Beli cokelat, seperti yang biasa Papa bawa kalau ke Bandung. Namun kali ini, bawa cokelatnya sama kayak yang ada iklannya di TV kabel, terus sama kayak cokelat yang pernah aku makan di rumahnya Athira, enaaaak banget.

Sekian laporan perjalanan liburan ke luar negeri (padahal cuma beda satu zona waktu saja). Wassalamualaikum.

Oh, iya terakhir.

IMG_3948Faiz, model kaus singlet

IMG_8987Mama, sang fotografer ekstrim. Yang penting Menara Petronas keliatan dari bawah sampai atas!

Ayam Petok

 

Pagi itu, aku melihat ayam-ayam. Mereka berkumpul bersama. Bukan dalam rangka arisan atau peringatan empat puluh hari mengenang kematian ayah dari sang ayam. Mereka berkumpul tanpa berucap “petok” satu kali pun.

***

Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam. Ayam.

Enak sekali tampaknya untuk dimakan. Hanya tinggal potong kepalanya sambil ucapkan “Bismillah, Allahu Akbar”, keluarkan darahnya, cabuti bulunya, lalu bagilah ayam tersebut seperti ayam potong lain. Paha atas, paha bawah, sayap, dada, itulah bagian yang paling enak. Namun, aku tidak membawa golok, padahal aku sudah meninggalkan perasaan tega di rumah.

***

Ayam-ayam adem ayem berkumpul bersama koloninya. Berputar-putar, menuruti insting. Melarikan diri jika aku hampiri. Kadang, ayam mengikuti anaknya. Menjaga anaknya, supaya tidak dijadikan chicken wings rasa barbeque.

***

Mengapa ayam harus menjadi ayam? Mengapa ayam memiliki bulu, bukan rambut? Kalau saja rambut yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya, bukan bulu, ia pasti bernama orangutan. Dilindungi. Tidak bisa dimakan. Ditemukan hidup bersama dalam hutan di Kalimantan.

 

 

 

 

Review OSKM ITB 2012

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini adalah hari pertama liburan sekolah. Liburan Sekolah Bisnis Manajemen dong, liburan kuliahan! Wuhuu! Sebelum kegiatan kuliah dimulai tanggal 27 Agustus 2012. Tau gak sih lo, kegiatan saya selama lima hari kemarin diisi oleh kegiatan OSKM ITB 2012. OSKM ini adalah ospek fakultasnya ITB. Terus, tau gak sih lo, hari demi hari acaranya tuh makin asyik. Flownya naik gitu deh. Dari level “bunuh saja aku”, sampai ke level “ini tidak mungkin terjadi (versi positif)”.

Maba berbaris dan dimobilisasi menuju Sabuga melalui tunnel.

Hari pertama itu didominasi oleh kegiatan rektorat, yaitu Gladi Bersih Pelantikan Mahasiswa Baru. Bisa ditebak, kegiatan yang paling mendominasi hari itu adalah tidur.

Pemandangan paling keren setibanya kami di Sabuga.

Hari kedua, acara Pelantikan Mahasiswa Baru dong! Bisa ditebak (lagi), kegiatan yang paling mendominasi hari itu adalah tidur. Apalagi, SBM kebagian tempat duduk di Sabuganya bagian Utara paling atas. Saya kebagian di kursi tambahan. Kasihan. Namun, di tiap kejadian pasti ada hikmahnya. Kalau duduk di kursi biasa saat Anda tidur plus mangap bisa ketangkap kamera dengan jelas. Tidak hanya hantu saja ternyata yang bisa tertangkap oleh kamera. Selain itu juga, jika kamera mengarah ke arah kami berada, kami bisa dengan bebas berekspresi. Mau nari-nari, lompat-lompat bareng pocong yang tertangkap kamera, atau mau muntahin orang yang lagi tidur mangap di kursi biasa depan kami pun, ya , silakan aja. Kenapa? Soalnya yang keliatan cuma baju seragam putih dan kerudung (saya sih pakai kerudung) yang kami pakai, juga pocong yang tadi tertangkap kamera. Muka kami ga jelas.

Beberapa saat sebelum pelantikan.

Oh iya paginya, sebelum acara pelantikan, mahasiswa baru (maba) sudah dibagi per kelompok masing-masing. Saya tergabung dalam kelompok 70. Setelah acara pelantikan, maba berkumpul di kelompoknya masing-masing dan diberikan materi tentang membuat visi dan misi. Hal yang saya tangkap dalam pemberian materi yang disampaikan oleh Taplok (pembimbing kelompok gitu), yaitu dalam membuat visi, kita harus berdasarkan SMART. S, specific. M, measurable. A, achieveable. R, realistic. T, time-based. Jadi, jangan bikin visi “Bersahabat dengan semua makhluk ciptaan Allah.” Berarti makhluk halus juga keitung, bro. Boleh aja sih bikin visi seperti itu, tapi kalo emang kamu itu orang yang manggil pocong yang tadi tertangkap kamera di Sabuga. Sore hari, para maba diarahkan menuju ke ITB. Kami melewati tunnel yang menghubungkan antara ITB dan Sabuga, eh, Saraga deng lebih tepatnya — jadi sebelah timurnya Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) itu ada Saraga (Sarana Olahraga [kalo ga salah]), Sabuga dan Saraga itu ibarat kakak-adik. Tahunya, setelah setengah jalan kami di tunnel, terdengar suara drum dan bass. Loh, harus banget gitu latihan band di terowongan bawah tanah? Ternyata untuk kebutuhan acara yang akan berlangsung berikutnya. Interaksi massa kampus. Hah, mampus. Baru mulainya aja udah dramatis banget. Benar saja, begitu keluar tunnel sudah ada ratusan massa kampus berteriak ke arah kami. Sudah ada spanduk bertuliskan, “Selamat Datang Putra-Putri Terberuntung Bangsa!” Merinding, bro, bacanya! Lalu, kami diteriaki sepanjang perjalanan kami. “Jangan bangga dulu jadi mahasiswa ITB, mana kontribusi kalian bagi rakyat!”, “Kalian tahu nggak harga beras sekarang berapa? Mana bisa jadi calon pemimpin global kalau keadaan Indonesia sekarang aja kalian gak tahu!” Selain ada teriakan macam tadi, ada juga yang “Senyumnya mana, Dek!”, lalu beberapa meter di depan diteriaki “Jangan cengegesan, Dek, perlebar langkahnya!” Huft. Sayangnya, kami disuruh berjalan cepat, jadi kurang hikmat gitu diteriakinnya. Tapi pas deng, kena banget pesan yang terkandung dalam acara interaksi massa kampus ini. Hari ketiga, agendanya itu observasi bersama kelompok terus ngerjain tugas pemberian dari yang maha kuasa di OSKM. Kelompok kami memilih Pasar Simpang Dago untuk menjadi tempat observasi. Sebenernya sih pengen observasi di Boscha aja, observasi luar angkasa gitu. Terus nanti akhir acara observasinya ditutup dengan bernyanyi bersama lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Sayang sekali, ternyata konteks yang diminta dari tugas observasi ini bukan itu.

Halo, Dek.

Sebagian dari kelompok 70.

Hari keempat, acara OSKM sebagian besar berlangsung di Sabuga. Ada dua seminar yang diadakan pada hari itu. Satu seminar diisi oleh enam orag pembicara yang merupakan mantan presiden KM ITB dan juga presiden KM ITB yang sekarang ini sedang menjabat. Masing-masing dari mereka mempresentasikan slide yang mereka buat dengan tema yang diangkat berbeda antara satu sama lain. Menarik sekali melihat cara pandang dari para presiden KM ITB dalam mengangkat masalah yang mereka bahas. Seminar berikutnya itu pembicaranya ada dua orang bapak-bapak. Saya kurang begitu memerhatikan. Hati saya sudah terbang jauh ke gak tau di mana. Di hari itu, ada de file OHU 2012 juga. OHU itu singkatan dari Open House Unit. Tujuh puluh unit (kalau gak salah) menunjukkan kebolehan masing-masing. Kalau kegakbolehannya sih gak ditunjukin, kan gak boleh. STOP, DHILA. Oke. Highlights of the day–hal yang bikin timeline penuh sama hal tersebut–adalah saat ada anak FTMD menyatakan cinta di atas panggung. Kayaknya harus banget banget banget kebangetan gitu deh saat itu juga dinyatakan. Dibooking lah istilahnya, soalnya nama ceweknya tuh disebutin. Sampai sebeginikah para maba FTMD harus bertindak–FTMD hampir bisa dibilang isinya cowok semua– sebab dunia persaingan jodoh di fakultas tersebut sebegitu sengitnya? Allah Mahatahu.

Percaya atau tidak, itu cowok yang diterbangin.

Yep, yep, yep. Kita harus move on ke hari berikutnya. Walau sulit, harus move on. Dunia ini akan terasa begitu jahanam apabila kita sulit move on. Jadi, mari move on.

Hari kelima, hari terakhir OSKM, pastinya jadi hari paling OMG WoOoW, kan.

Fajar menyingsing.

Melingkar.

Review materi.

Sepatu ungu yang berjasa selama matrikulasi hingga OSKM.

Di hari ini kami dibagi per fakultas / sekolah, lalu digiring menuju kandangnya masing-masing. Sebagai informasi tambahan nih, ya, acara ini tidak mengundang artis dari luar. Tidak ada vokalis band Nidji, Giring, walaupun ada acara penggiringan maba. Maaf, memang garing. Maba SBM treknya paling jauh. Dari ujung ke ujung. Tetap saja, api semangat kami sangat panjang tak berujung. Eh, api kan panas, ya, nggak panjang. Apa pula itu api yang panjang? Api aja boleeeeh. Kami dibariskan di depan GSG, Gedung Serba Guna. Lalu, kami disuruh tutup mata dan telinga. Kami pun menutup mata dan telinga. Sebenarnya saya agak jadi ga enak hati sih. Sebagai penikmat musik jazz, saya telah mengingkari sabda dari grup band Maliq & D’ Essentials, “buka mata, hati, telinga”. Namun, sebagai umat muslim yang harus kita patuhi adalah sabda dari Allah SWT dan rasul. Maka dari itu, woles aja, bro. Begitu disuruh buka mata dan telinga lagi, di sekeliling kami sudah ada para kakak angkatan yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa SBM. Acara kali ini adalah interaksi massa fakultas. Interaksinya dalam bentuk forum yang membahas tentang materi yang diberikan saat OSKM. Seru-seru serem gitu. Ada beberapa pernyataan yang diberikan oleh kakak angkatan dan juga teman seangkatan yang bikin tercengang banget. Ngeliatnya sampe speechless banget! Dari awal emang udah speechless deng, bengongful aja yang ada. Setelah forum selesai, kami disuruh tutup mata dan telinga lagi. Begitu buka mata, kami udah ada di pinggir jurang kehancuran. Bohong.

Cingogo. (hanya orang Sunda yang tahu)

Salat asar atau salat ied?

Nah, langsung aja nih, ya, ke acara yang rame berikutnya, Interaksi Massa Kampus Jilid Dua dengan V=0, gak gerak, men! Dari yang asalnya ngos-ngosan sambil jalan, ini ngos-ngosan di tempat. Gak sih. Kami 3400 maba yang terbagi dalam kelompok beranggotakan 24-an orang dikumpulkan menjadi barisan yang terdiri atas enam belas kelompok. Antara satu barisan besar dan barisan besar lain dipisahkan 25 meter lah kira-kira. Seperti biasa, kami disuruh tutup mata dan telinga lagi. Melek-melek di sekeliling kami ada massa kampus yang tergabung dalam boyband dan girlband. Bohong lagi. Mereka tergabung dalam himpunan dan unit. Yang mengelilingi barisan saya ada yang dari perminyakan, kelautan, fisika, renang dan polo air, dan lupa. Interaksi massa kampus ini sama seperti interaksi massa fakultas, dalam bentuk forum. Cuma, lebih serem aja gitu, soalnya bareng fakultas / sekolah lain dan dilihat oleh bermacam-macam himpunan dan unit juga. Jawabannya bervariasi ada yang keren, ada yang aneh-aneh, misalnya nih yang aneh, “Kami didoktrin, Kak. Sejak SMA kami dicekoki macam-macam dan kita harus menerima. Kalau saat kuliah kita bebas menentukan pilihan kami!” (Loh, kami? Sejak kapan aku dan kamu jadi kami?) Sontak saja, jawaban anak tersebut dibantai oleh massa kampus. Tau nggak, akhirnya saya jawab pertanyaan juga, loh, setelah tadi pas interaksi sebelumnya saya bengong. Walaupun singkat, yang penting jawab deh, berkontribusi. Sesuai dengan visi angkatan 2012 yang berbunyi, “Angkatan 2012 yang unggul, yang berkontibusi dengan sinergi kekeluargaan berdasarkan ketuhanan.” Pertanyaan yang saya jawab itu berasal dari muntahan jawaban sebelumnya. Awalnya, seorang massa kampus bertanya, “Kalau KM ITB gak ada, apa efeknya bagi masyarakat sekitar ITB, apakah mereka akan menangisi kalau KM ITB sudah nggak ada?” Terus ada yang disuruh jawab, kan ngacak gitu dipilihnya, “Nangis, kak, mereka akan menangis kalau KM ITB nggak ada!”, “Tahu dari mana kamu hah!” Wih rame, deh, langsung pada mencak-mencak. “Mana yang dari Bandung, bisa jawab nggak!” Merasa anak yang berdomisili di Bandung sejak SD, saya pun mengangkat tangan, berdiri, memperkenalkan nama, fakultas, dan status hubungan saat ini. Yang terakhir bohong. “Nggak, Kak, masyarakat sekitar ITB nggak akan menangis kalau KM ITB nggak ada, soalnya mereka aja nggak tahu kalau KM ITB itu apa!” Itu jawaban terjujur saya karena jujur saja, saya baru tahu istilah KM ITB pas OSKM. Setelah menjawab itu, duduk lagi aja. HORE! Jawaban paling singkat, padat, dan jelas saat interaksi massa kali itu. Terus, ya, terus, ya, saya juga mimpin Salam Ganesha sore itu! Wih, rasanya, tuh, merinding disko plus keroncong (karena lapar). Karena kebetulan barisan paling depannya itu di tempat saya berdiri, moderator forum tersebut ada di hadapan saya. Kan ditanya gitu, ya, “Siapa satu orang yang merasa paling berani di sini cepat maju ke depan!” Ada dua orang cowok maju. “Kalian bisa ngitung nggak? Satu orang!” Merasa bisa berhitung, salah satu di antara yang maju ke depan tadi balik lagi ke barisan. Disuruh lah yang satu orang itu untuk memimpin barisan kami untuk meneriakkan Salam Ganesha. “Depannya tuh kayak gimana kak, bisa dikasih tau ngga?” kata cowok itu bisik-bisik ke moderator. “Halah, kalo nggak tau sih udah sana ga usah aja!” ujar seorang massa kampus dengan tatapan mata tajam setajam silet buat nyukur bulu ketek. Akhirnya, tanpa pikir panjang saya maju. “Yakin bisa? Suaranya bisa keras nggak?”, “Keras, kak, udah biasa teriak manggil Faiz di rumah buat bunuhin kecoa di kamar mandi!” (gak jawab gitu ya sebenernya) “Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater! Salam Ganeshaaaaaa… (enam harkat) Mulai!”

Bakti kami, untukmu, Tuhan, bangsa, dan almamater! Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Balon terbang disertai euphoria.

Panji-panji.

Itu lampu bukan bulan.

Lampion terbang.

Sudah dulu ya. Sebenernya agak kecewa nih resolusi foto di post kali ini jelek. Maafkan. Akhir cerita ini silahkan diterka dari foto-foto di atas ya.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Childhood Days

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Di postingan kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang Si “Manis Cigadung Indah” (alamat rumah saya tuh) dan orang yang berpengaruh dalam hidup saya.

***

GambarIni dia, Fadhila Hasna Athaya, bersama ibunda tercinta Wina Yuniarti. Saya mempunyai ovarium jadi saya adalah wanita. Tapi tahu nggak, ternyata, kalau masih bayi, baik perempuan maupun laki-laki, semuanya botak! Ini fenomena yang mengejutkan dan saya rasa dunia harus tahu akan hal ini.

Kenapa, ya, di foto atas ini saya terbelalak? Memangnya terhadap hal apa saya harus merasa terkejut? Jangan-jangan mama lagi ngebisikin, “Dhila, liat ke kamera sekarang juga, atau kamu mama kasihin ke banci biar diurus aja sama banci, terus nanti bakalan disuntikin silikon setiap kamu nangis.” Tapi kayaknya ga mungkin sih.

GambarPerhatian: Jangan ada anak lelaki balita yang melihat foto ini, kalo tiba-tiba suka, ga akan bisa dilamar. Usia kita terlampau jauh, Ta (sok akrab ke anak balita).

Foto di atas menunjukkan bahwa saya memang menyukai kegiatan mandi dan kegiatan apa pun deh yang berhubungan dengan air. Saya rasa, saya cocok kerja di air. Lihatlah, betapa bahagianya hidupku saat sedang mandi. Tetapi, kebahagiaan ini akan sirna saat sepasang bola mata mengintip dari balik jendela. Banjur!

Gambar

Maaf, ya, saya tidak menerima untuk syuting iklan Oreo rasa apa pun. Silakan kontak Afiqa saja.

Gambar Ini foto saya bersama dengan papa! Papa Awal Gumilar. Lirikan mata saya di foto ini mengartikan bahwa saya berpotensi dalam menarikan tarian dari Bali. Eh, itu tangan saya ternyata memegang kerah baju papa. Berarti foto ini tidak hanya mengartikan hal yang tadi saya sebut, tetapi juga mengartikan bahwa saya suatu saat nanti, di masa depan, saya bisa menjadi bos geng preman Cigadung Indah.

20120304-180744.jpg

Dulu, saya tinggal di Batam. Jadilah saya, Dhila si “Balita Pantai”.

Di Pantai kok pake baju lengkap sih? Eits, ada juga kok foto pas lagi berenang cuma pake celana dalem doang. Tanpa singlet. Itu tuh pas lagi acara gathering perusahaannya mama. Wuis, balita seksi. Ya, itulah saya. Dulu.

20120304-181603.jpg

Bersemedi. Saya bergolongan darahnya A. Nah, menurut karakteristik golongan darah, orang yang bergolongan darah A itu disarankan untuk rutin yoga. Mengapa? Karena golongan darah A itu cenderung temperamen. Katanya. Gara-gara perfeksionis, begitu ada yang melenceng sedikit dari perkiraan atau perhitungan semula, ibarat kalo obat nyamuk Vape bisa antinyamuk sepuluh jam, orang bergolongan darah A itu yang beli obat nyamuk Vape-nya. Ga deng, bisa bete sepuluh jam, maksudnya.

Ini menandakan bahwa sudah menjadi naluri saya sebagai orang bergolongan darah A untuk terbiasa menenangkan diri dengan bersemedi. Sampai pas difoto juga harus pose bersemedi (padahal itu cuma satu-satunya foto saya bersemedi, lalu saya juga tidak yakin itu bersemedi, dan ini semua hanya bualan semata, karena kita berada di alam yang fana [semua ini dikarang agar foto di atas ada deskripsinya]).

20120304-183121.jpg

Dari pertama saya mengenal Aki (kakek), penampilannya selalu sama. Rambut putih, kumis putih, dan gigi putih. Aki sepertinya tidak berniat untuk menginvestasikan hartanya dalam bentuk gigi emas, jadi giginya tetap berwarna putih hingga kini. Bisa disimpulkan bahwa Aki awet tua. Udah tua juga masih ganteng, ya seperti Harrison Ford gitu deh.

Waktu saya masih berat badannya 25 atau 30an, Aki suka nyuruh saya untuk menginjak-nginjak badannya atau menjambak-jambak rambutnya saat beliau menonton TV. Batin saya tidak tega, kok saya harus menyiksa orang tua. Jadi, kadang-kadang suka kabur deh begitu Aki ketiduran. Tak ada yang bisa menyetop kegiatan ini, kecuali lelap yang menyergap Aki.

Aki adalah kakek yang luar biasa. Saat ini, kebiasaan beliau adalah merawat kebun di belakang rumah, rutin salat magrib dan subuh di mesjid, sesekali mengantar saya ke Inten, dan mengoprek apa yang bisa dioprek. Aki tidak bisa diam, selalu aktif beraktivitas. Aki hanya bisa diam dan tenang saat tidur, dan saat waktu sinetron favoritnya tayang.

20120304-184653.jpg

Saya masih berponi belah tengah hingga kelas 6 SD. Padahal, saya memiliki jidat yang tak sempit. Jidat luas, tandanya orang pintar. Akhirnya saya sadar kalau kepintaran itu jangan diumbar. Akhirnya saya berponi belah pinggir.

20120304-185333.jpg

Berenang itu menjadi kegiatan rutin kami, dulu. Sekarang sih tiap ketemu, jadi acara bikin film pendek bareng.

Sepupu saya selalu bersedia menjadi korban dari imajinasi saya. Melakonkan peran yang saya pilihkan untuk mereka. Segila apa pun peran yang saya berikan.

***
Demikianlah sedikit cerita dari masa kecil saya. Saya bukan orang yang terlalu terbuka, jadi agak sulit mengekspresikan rasa kagum dan terima kasih untuk orang-orang di sekitar saya. Sebenernya masih banyak yang ingin saya ceritakan tentang orang yang ada dalam foto bersama saya, tapi malu kalo dibaca orang yang bersangkutan.

Terima kasih sudah membaca, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Bendera

image

Bendera di sekolah saya tidak berkibar. Mengapa bisa? Padahal ada lagu wajib Berkibarlah Benderaku. Tidak nurut ya.

Bendera di sekolah saya tidak berkibar. Mengapa bisa? Padahal sudah dinaikkan ke tiang bendera susah-susah, sudah kami beri hormat selama lagu Indonesia Raya berkumandang.

Bendera di sekolah saya tidak berkibar. Mengapa bisa? Memangnya tidak ada angin yang mau melewati sekolah ini? Begitukah?

Bendera di sekolah saya tidak berkibar. Mengapa bisa? Padahal sudah panas. Kue bisa mengembang dan cacing bisa menggeliat. Saya pun sudah berteriak kepanasan.

Bendera di sekolah saya tidak berkibar. Mengapa bisa? Apa menurutnya saya belum pantas jadi bagian dari bangsa Indonesia? Tapi saya kan sudah punya KTP. Oh, saya memang sudah diakui jadi rakyat Indonesia, tetapi untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia?

Ada yang bisa saya bantu?